Related Articles

Bintang Kejora di Oxford

Sudah lama sejak Benny Wenda terakhir melihat kampung halamannya sendiri. Sejak 2002, aktivis Papua yang termasyhur ini memperoleh suaka politik di Inggris. Kini ia tinggal di kota tempat Universitas Oxford berdiri—di belahan dunia lain, jauh dari pegunungan rimbun Papua tempat ia berasal.

Jalan yang membawa Benny ke Inggris dimulai jauh sebelum ia dilahirkan. Hingga 1961, Papua masih dianggap sebagai wilayah koloni Belanda; status ini berakhir ketika rakyat Papua mendeklarasikan kemerdekaan mereka pada 1 Desember 1961. Indonesia, bagaimanapun, dengan cepat mengklaim Papua merupakan bagian dari wilayahnya sendiri, kemudian menyerbu dan menduduki Papua. Pada 1969, klaim Indonesia atas Papua akhirnya mendapat pengakuan PBB setelah diselenggarakannya referendum Act of Free Choice, atau Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA)—sebuah proses yang terindikasi berlangsung penuh kecurangan. Sebanyak 1.026 orang Papua (dari populasi yang seharusnya berjumlah 800.000 jiwa) dipaksa untuk menerima integrasi Papua ke dalam Republik Indonesia. Sejak saat itu, Papua secara ‘de facto’ berada di bawah kekuasaan militer Indonesia, sementara mereka yang menolak: diawasi, diintimidasi-dipersekusi, dipenjara, hingga menjadi korban berbagai tindak kekerasan.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to [email protected] to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Bookmark (0)

Close

Please login

Bookmark (0)
ClosePlease login

Suharto, Militer AS, dan Krisis Finansial Asia

Suharto tak benar-benar mendapat dukungan dari Amerika, temannya yang paling dekat, selama krisis yang menghantam Indonesia pada 1998. Meski Amerika telah memberi dukungan finansial lewat IMF, Suharto akhirnya tumbang juga. Sementara itu, Amerika di bawah pemerintahan Clinton saat itu sedang repot dengan kasus pendanaan untuk pendidikan dan pelatihan militar (IMET) untuk Militer Indonesia, yang ternyata telah melakukan banyak pelanggaran HAM di Timor Leste. Skandal tersebut telah membuat hubungan diplomatik keduanya pun perlahan mulai renggang.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Bahaya Ketergantungan Filipina Mengeksploitasi Warganya Sendiri

Pemerintah Filipina memulai ekspor buruh sebagai langkah darurat demi mengentaskan kesenjangan sosial, namun mereka kini makin agresif mengekspor warga negaranya sendiri. Migrasi buruh memang menjadi solusi jangka pendek untuk masalah ekonomi bagi para keluarga pekerja migran, serta telah membawa manfaat bagi negara-negara pemberi kerja, elit lokal, dan pemerintah. Namun masalah jangka panjang terus mengintai para pekerja migran, warga Filipina, serta negeri tersebut.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Awal bertemu ajal di Terengganu dan Kelantan

Semasa British menyerahkan kuasa kepada golongan elit tempatan selepas hampir dua abad bawah penjajahan pada tahun 1957, Persekutuan Tanah Melayu (Malaya) berada dalam keadaan yang tidak memberangsangkan. Maka tidak mengejutkan yang jangka hayat penduduk di Malaya[1] pada tahun 1960 jauh ketinggalan berbanding penduduk British pada tahun yang sama. Seorang bayi yang lahir di Malaya pada tahun 1960 dijangka hidup sehingga umur 59.48 tahun, menurut data dari Bank Dunia[2] , berbeza dengan di United Kingdom di mana jangka hayat pada tahun yang sama adalah 71.13 tahun.

Pembangunan yang pesat di Malaysia dalam beberapa dekad seterusnya telah berjaya mengecilkan jurang tersebut. Hari ini, seorang bayi yang lahir di bawah bayang deretan bangunan pencakar langit di Malaysia pada tahun 2017 dijangka hidup sehingga umur 72.7 tahun – 22% lebih lama dari datuknya dua generasi sebelum itu, menurut statistik terkini dari Jabatan Statistik Malaysia (DOSM).[3] Sebagai perbandingan, jangka hayat bagi seorang bayi lelaki pada tahun sama di UK ialah 79.5 tahun.[4]

if(“undefined”==typeof window.datawrapper)window.datawrapper={};window.datawrapper[“gmxPP”]={},window.datawrapper[“gmxPP”].embedDeltas={“100″:612,”200″:489,”300″:431,”400″:431,”500″:400,”700″:400,”800″:400,”900″:400,”1000”:400},window.datawrapper[“gmxPP”].iframe=document.getElementById(“datawrapper-chart-gmxPP”),window.datawrapper[“gmxPP”].iframe.style.height=window.datawrapper[“gmxPP”].embedDeltas[Math.min(1e3,Math.max(100*Math.floor(window.datawrapper[“gmxPP”].iframe.offsetWidth/100),100))]+”px”,window.addEventListener(“message”,function(a){if(“undefined”!=typeof a.data[“datawrapper-height”])for(var b in a.data[“datawrapper-height”])if(“gmxPP”==b)window.datawrapper[“gmxPP”].iframe.style.height=a.data[“datawrapper-height”][b]+”px”});

This post is only available to members.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Responses