Related Articles

Bahaya Ketergantungan Filipina Mengeksploitasi Warganya Sendiri

Pemerintah Filipina memulai ekspor buruh sebagai langkah darurat demi mengentaskan kesenjangan sosial, namun mereka kini makin agresif mengekspor warga negaranya sendiri. Migrasi buruh memang menjadi solusi jangka pendek untuk masalah ekonomi bagi para keluarga pekerja migran, serta telah membawa manfaat bagi negara-negara pemberi kerja, elit lokal, dan pemerintah. Namun masalah jangka panjang terus mengintai para pekerja migran, warga Filipina, serta negeri tersebut.

Awal bertemu ajal di Terengganu dan Kelantan

Semasa British menyerahkan kuasa kepada golongan elit tempatan selepas hampir dua abad bawah penjajahan pada tahun 1957, Persekutuan Tanah Melayu (Malaya) berada dalam keadaan yang tidak memberangsangkan. Maka tidak mengejutkan yang jangka hayat penduduk di Malaya[1] pada tahun 1960 jauh ketinggalan berbanding penduduk British pada tahun yang sama. Seorang bayi yang lahir di Malaya pada tahun 1960 dijangka hidup sehingga umur 59.48 tahun, menurut data dari Bank Dunia[2] , berbeza dengan di United Kingdom di mana jangka hayat pada tahun yang sama adalah 71.13 tahun.

Pembangunan yang pesat di Malaysia dalam beberapa dekad seterusnya telah berjaya mengecilkan jurang tersebut. Hari ini, seorang bayi yang lahir di bawah bayang deretan bangunan pencakar langit di Malaysia pada tahun 2017 dijangka hidup sehingga umur 72.7 tahun – 22% lebih lama dari datuknya dua generasi sebelum itu, menurut statistik terkini dari Jabatan Statistik Malaysia (DOSM).[3] Sebagai perbandingan, jangka hayat bagi seorang bayi lelaki pada tahun sama di UK ialah 79.5 tahun.[4]

if(“undefined”==typeof window.datawrapper)window.datawrapper={};window.datawrapper[“gmxPP”]={},window.datawrapper[“gmxPP”].embedDeltas={“100″:612,”200″:489,”300″:431,”400″:431,”500″:400,”700″:400,”800″:400,”900″:400,”1000”:400},window.datawrapper[“gmxPP”].iframe=document.getElementById(“datawrapper-chart-gmxPP”),window.datawrapper[“gmxPP”].iframe.style.height=window.datawrapper[“gmxPP”].embedDeltas[Math.min(1e3,Math.max(100*Math.floor(window.datawrapper[“gmxPP”].iframe.offsetWidth/100),100))]+”px”,window.addEventListener(“message”,function(a){if(“undefined”!=typeof a.data[“datawrapper-height”])for(var b in a.data[“datawrapper-height”])if(“gmxPP”==b)window.datawrapper[“gmxPP”].iframe.style.height=a.data[“datawrapper-height”][b]+”px”});

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to [email protected] to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Faktor-faktor Struktural dan Sistemik Penghambat Demokrasi di Asia Tenggara: Sebuah Perspektif Feminis

Kami mempelajari faktor-faktor struktural dan sistemik yang menghambat praktek aksi demokrasi inklusif yang berdasarkan feminisme dan keadilan gender di Asia Tenggara. Dalam proses ini kami menemukan tiga masalah mengakar yang umum ditemukan di berbagai negara di region ini. Ketiganya termasuk penegakan hukum yang tidak efektif, pembatasan kebebasan berekspresi, serta fundamentalisme agama. Kami hanya berfokus ke tiga faktor kunci tersebut, supaya kami benar-benar memahami bagaimana ketiganya menghalangi aktivisme. Bersama-sama, ketiganya menjadi gerbang bagi kami menjelajahi tantangan-tantangan lain yang menghalangi perkembangan demokrasi regional. 

Responses