Hello!

Stay up to date with New Naratif’s latest stories and upcoming events with our weekly newsletter. No spam, just good content.

* indicates required

Cerita Adania Saraswati—yang sengaja ditulis dengan huruf kecil sepenuhnya—begitu cantik dengan imaji puitis dan ambiguitasnya. Judulnya menawarkan sebuah pertanyaan yang kita semua miliki, dan mungkin tidak akan pernah mampu kita jawab. Namun, kita terus berjalan maju…

ketika sedang menampi beras, kau teringat sebuah frasa.

angan-angan.

angan-angan, kau mengulangi kata-kata teman sekelasmu, tawa mereka berdering di telingamu. suara yang sama yang akan menemanimu berpuluh tahun kemudian sementara tanganmu, berdebu dan berdarah, membangun kembali tanah dan air ini menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan utopia.

mendekat.

mendekat.

bersama dengan jutaan pemimpi lainnya.

kau balas berteriak pada kawan-kawan sekelasmu: para pendiri bangsa kita punya mimpi yang sama, untuk membangun bangsa yang mereka sebut milik sendiri.

kata mereka: bangun, kawan, kita tidak lagi ditindas penjajahan!

lidahmu kelu, perutmu mulas menelan kata-katamu sendiri. orang-orang itu telah lama wafat. namun warisannya masih ada. tempat duduk mereka diisi orang-orang yang bercakap-cakap dengan bahasamu dan lahir untuk bertahan di bawah sengatan matahari tropis. kau diajari bahwa hanya dengan menyenangkan mereka, kau bisa bertahan di dunia modern ini—kau menuntut ilmu supaya bisa melayani kepentingan mereka, karirmu dibangun untuk memperkaya mereka, dan bahkan keluargamu dibentuk untuk menyerupai model ideal mereka.

angan-anganmu adalah untuk melihat orang-orang tersenyum ke manapun kau pergi. tidak pernah kuatir apa yang bisa dimakan besok karena tanah ini selalu menyediakan, selalu meneduhkan, dan selalu menghidupi leluhurmu hingga hari ini, ketika anugerah-anugerah itu diambil oleh sebagian kecil orang dan dipagari supaya tidak diraih orang-orang lain.

leluhurmu melawan mereka, dan sebagai balasannya, mereka menghina dewa-dewamu, adat istiadatmu, makananmu—sampai beberapa tahun lalu, kau dapat melihat ini terjadi di mana-mana, ketika entah karena ketidakpedulian atau bukan, orang-orang seperti teman-teman sekelasmu berkata kau tidak punya hak untuk memprotes ketidakadilan itu.

tidakkah kamu merasa sedih karenanya? kau ingin bertanya pada mereka. namun kau sibuk membangun dan menyembuhkan diri. tenggorokanmu sakit karena mencoba memberitahu mereka, jadi kau mencoba untuk menunjukkan pada mereka—

tunggu. beras. 

kau kembali pada tugasmu, memasak nasi untuk pesta kecil-kecilan ini. orang-orang telah berkumpul di sini, di bawah langit yang cerah, membawa berbagai macam hasil bumi dari tempat mereka masing-masing. kau bertemu dengan mereka di internet beberapa waktu lalu, berbagi mimpimu tentang membuat dunia yang lebih baik—paling tidak di wilayah ini, di mana leluhurmu pernah berkorban dan berjuang untuk kebebasannya.

(kau memaklumi para orang skeptis itu; sangat sulit untuk berjuang demi tujuan mulia ketika kau punya keluarga yang harus diberi makan dan tagihan yang harus dibayar.) 

ini bukan main-main. bersama-sama kau membangun kembali mitos-mitos yang telah dilupakan. bersama-sama kau membuka jalan untuk mempelajari kembali bagaimana caranya kemanusiaan bisa harmonis dengan alam. sudut dunia ini pantas mekar tanpa mengorbankan tanahnya.

kau letakkan nasi di atas meja. semua orang tersenyum, tak sabar untuk segera menyantapnya.

perjuanganmu tidak sia-sia.


Baca kisah lainnya dalam musim ini:

Adania Saraswati

A wanderer who is easily distracted. Currently, Adania Saraswati is finishing a thesis on terrorism and figuring out many paths to the unknown.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *