Hello!

Stay up to date with New Naratif’s latest stories and upcoming events with our weekly newsletter. No spam, just good content.

* indicates required

Bahwa suatu hari masyarakat adat akan mendapatkan tanah mereka kembali merupakan mimpi yang begitu sederhana namun begitu radikal. Diceritakan lewat obrolan dua bocah, Ida berhasil menggarisbawahi kepolosan gagasan ini.

Di ladang bertingkat pada sebuah pulau yang luas, Sarah senang membaca buku di keteduhan pohon tua raksasa. Selama berbulan-bulan, ia berlatih membaca, melafalkan setiap kata keras-keras, sampai ia menjadi makin mahir dan makin mahir.

Tree,” katanya, mengulanginya beberapa kali sampai kata itu bergulir di lidahnya dengan lancar. “Tree, Tree, Tree.”

Tree,” sebentuk suara dari atasnya memanggil kembali. Seorang gadis yang tinggi muncul dari cecabang dan berayun ke tanah, mendarat di kakinya, membuat Sarah terkejut.

“Seperti yang satu ini! A tree. Sebuah pohon,” gadis itu berkata, mengerucutkan bibirnya ke si pohon tua raksasa.

“Bukan, maksudku angka,” balas Sarah, menghitung dengan jemarinya. 

Three!” Keheningan yang canggung menyelubungi kedua gadis itu, dan berlalu bersama sepoi angin. Mereka saling tersenyum.

“Aku Ani. Aku tinggal di sini,” gadis yang tinggi itu berkata, menunjuk ke sisi lain kebun, di mana sebuah komunitas yang besar tinggal senada dengan alam.

“Aku Sarah,” suaranya lemah dan takut-takut. Ibunya selalu bercerita tentang pondok-pondok nipa besar yang memenuhi sisi lain kebun. Katanya, para petani di sana hidup secara komunal, menggembala bebek dan kambing di sore hari setelah menghabiskan sepanjang hari bekerja di ladang.

“Ha! Tiba-tiba kau jadi diam,” Ani menggodanya. “Lagipula, mengapa kau membaca keras-keras seperti itu?”

“Ibuku,” jawab Sarah. “Dia membuatku membaca buku keras-keras. Katanya, penting bagiku untuk bisa berbicara dengan lancar.”

“Tentu saja! Kau adalah anak gadis aktris yang tinggal di gedung hijau.”

“Itukah julukan mereka untuk rumahku?”

“Ya, gedung hijau. Mau dipanggil apa lagi? Dindingnya tertutup tanaman rambat, dan bangunan itu memang rumah gedongan,” Ani tertawa. “Sayang sekali gedung itu mau dirubuhkan. Aku selalu ingin tahu berapa orang tinggal di lahan yang begitu luas.”

Three,” kata Sarah.

“Ada pohon di dalam?” mata Ani terbelalak.

“Tidak. Maksudku, hanya kami bertiga yang tinggal di situ.”

“Oh, three,” Ani duduk di sebelah Sarah, beralaskan selimut rajut putihnya yang ditebarkan di atas rumput hijau. “Pasti sedih ya.”

“Nggak pa-pa, sih,” Sarah tersenyum. “Bagaimana dengan ibumu? Di mana dia?”

“Dia dikubur di bawah sini! Dia selalu ingin berada di sebelah pohon tua raksasa ini ketika dia meninggal,” tutur Ani dengan antusias. “Nanay senang menghabiskan sore-sore di sini sepertimu, duduk saja diam-diam dan merenung. Suatu hari, ia berjanji padaku bahwa kami nanti akan merebut tanah ini kembali dan mengembalikannya kepada leluhur kami. Tahukah kamu kalau mereka dulu menanam segala macam buah-buahan di sini?”

“Oh ya? Apa saja?”

“Segala macam! Makanya senang sekali akhirnya bisa mendapatkan tanah kami lagi.”

Sarah tersenyum sementara mata Ani berbinar dengan kebahagiaan. Hari itu adalah hari terakhir keluarganya di gedung hijau. Dalam beberapa jam saja, Sarah akan meninggalkan seluruh masa lalunya.

“Oh! Ngomong-ngomong, kamu mau jeruk yang baru saja kami tanam?” tanya Ani.

Sarah tergelak. “Mau! Minta tiga boleh?”


Baca kisah lainnya dalam musim ini:

Ida Palo

Ida Palo adalah seorang penulis trans dan aktivis dari Los Baños, Laguna, Philippines. Sebagai penulis, Ida mendedikasikan karyanya untuk mengangkat suara trans dan queer.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *