Pada suatu September yang cerah di tepi Danau Inya Yangon, sejumlah pasangan terlihat berbaring santai di atas rumput sambil berteduh di bawah naungan payung yang mereka bawa. Myanmar adalah negara yang cukup konservatif: hingga beberapa tahun lalu, cara para pasangan muda dapat lebih saling mengenal satu sama lain secara intim adalah mencari tempat yang tenang di taman kota seperti Danau Inya. Meski bermesraan di tempat publik umumnya dianggap menyalahi norma sosial, di bawah lindungan payung para pasangan muda tersebut dapat merasa lega dan mencuri kesempatan untuk beberapa ciuman kecil, jauh dari pandangan masyarakat yang menghakimi.

Meski taman kota dan danau masih populer sebagai lokasi kencan, kini cara generasi muda Myanmar untuk menemukan pasangan telah berubah. Apabila dulu mereka berkenalan dengan orang baru ketika berkumpul bersama teman-teman, mereka kini berkenalan dengan orang asing yang memiliki teman yang sama (mutual friend) di Facebook. Secara radikal, media sosial telah mengubah cara kaum muda urban Myanmar menemukan cinta, dimana Facebook menjadi sarana mereka untuk berjejaring dan menjalin hubungan—bahkan ketika belum pernah bertemu di dunia nyata.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to sponsorship@newnaratif.com to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Teguh Harahap

Teguh Harahap is a freelance writer and translator based in Medan, Indonesia. Previously he worked as the editor of Koran Kindo, a weekly newspaper for Indonesian migrant workers based in Hong Kong.