Dev tengah mempromosikan rokok di sebuat mall di Yogyakarta ketika seorang pria paruh baya berjalan ke belakangnya dan mendorong kunci pahanya kepada bokongnya. Dev, yang saat itu berumur awal 20an, menjadi tidak berdaya karena ketakutan dan bahkan terlalu takut untuk melirik kebalik bahunya.

“Saya kaget,” ceritanya pada New Naratif. “Saya sedang mengerjakan sesuatu di komputer di stan kami, dan dia berjalan kearah saya dan menindih saya. Rasanya lama sekali sehingga akhirnya pengawas saya melihat kejadian tersebut dan meneriaki dan mengusir pria itu.”
Walaupun memiliki status sebagai kota metropolis yang berkembang dengan cepat, Jakarta tetap konservatif dibandingkan dengan ibukota Asia lainnya. Di luar mall dan kelab, tidak umum melihat wanita memakai rok diatas lutut ataupun baju yang menunjukkan bahu; mereka yang berpakaian seperti itu biasanya akan di dipelototi dan diejek. Namun kebanyakan perusahaan yang mempekerjakan sales promotion girls (dikenal juga sebagai SPG), mengotot bahwa mereka harus berpakaian minim – banyak iklan untuk pengerahan lowongan kerja SPG bahkan menyatakan secara khusus “jilbab tidak diperbolehkan”, artinya mereka tidak menerima pelamar wanita yang memakai hijab. Ini merupakan kontras yang aneh, di sebuah kota dimana semakin banyak sekolah dan universitas, termasuk sekolah negeri, mengharuskan pelajar wanita menggunakan jilbab.

“Banyak orang merendahkan SPG dan mereka percaya bahwa para SPG tersedia untuk pekerjaan seks, padahal ini seringnya tidak benar”

Pengalaman Dev tidak unik. Bekerja sebagai SPG di Indonesia membawa banyak tantangan: dari perkiraan 40,000 wanita yang bekerja sebagai SPG (link dalam Bahasa Indonesia) di Indonesia, mereka bukan hanya memiliki target penjualan yang tinggi yang harus dicapai, tetapi mereka harus bekerja sambil tetap sopan walaupun dihadapi pelecehan lisan dan seksual.

“Ini merupakan kejadian sehari-hari,” kata Nita Winoto, umur 25 tahun asal Jakarta, sambil tertawa. “Kami harus pintar dan melindungi diri.” Ia telah bekerja di beberapa merek sejak pertama kali mulai bekerja pada tahun 2011 saat berumur 18 tahun. Ia mengakui sebenarnya tidak mau menjadi SPG; ia ingin kuliah namun tidak mampu membiayainya.

“Orang tua saya semakin tua, jadi saya harus mendukung mereka secara finansial,” jelas Winoto. “Saya melamar untuk pekerjaan sebagai SPG, dan mereka mengatakan saya memenuhi kebutuhannya [secara fisik]. Ternyata saya juga pintar menjual, jadi dengan semua komisi yang saya dapatkan, gaji saya hampir setinggi apabila saya bekerja di sebuah kantor.”

Pelecehan Seksual yang Terus-Menerus

Itu adalah pekerjaan yang sulit. Selain jam kerja yang panjang dan kondisi yang susah secara fisik – 16% dari SPG yang di wawancarai di Medan (link dalam Bahasa Indonesia) pada tahun 2016 memiliki masalah musculoskeletal karena memakai sepatu berhak lebih dari 5cm lama berjam-jam – pelecehan seksual terjadi secara terus-menerus.

“Laki-laki melototi saya; berusaha menggandeng tangan saya; berbicara tidak senonoh; meminta nomor telefon saya; berusaha membujuk saya untuk menjadi model telanjang; mengajak saya untuk belanja dengan menjanjikan mereka akan mengeluarkan banyak uang untuk saya; dan pernah sekali, seorang laki-laki berumur tengah baya meminta saya untuk menjadi istri keduanya,” kata Winoto sambil menggelengkan kepalaknya. “Ia mengatakan akan memberikan saya toko, rumah, mobil dan bulan madu di luar negeri.”

Bahkan, rekan kerja senior Winoto dari kantor pusatnya berusaha meminta foto telanjang darinya. “Ia mengatakan ia akan bayar per foto, tetapi saya tidak mau, jadi saya terus menolaknya,” katanya. “Saya harus menolaknya dengan sopan, tentunya.”

“Suatu malam, seseorang mengikuti saya saat pulang kerja,” tambahnya. Laki-laki tersebut mengikutinya dengan sepeda motor, dan meraba-raba payudara Winoto sebelum melaju cepat dan pergi. “Saya merasa bodoh,” katanya. “Saya menangis dan berlari pulang. Sekarang saya tidak pernah jalan pulang sendirian lagi.”

An SPG at a motor show in Jakarta. Credit: Pras Nazri / Shutterstock.com

“Saya rasa ini terjadi karena orang-orang salah pengertian mengenai pekerjaan SPG,” jelas Mona*, yang pernah bekerja sebagai SPG dari umur 18 hingga 29 tahun. Banyak orang merendahkan SPG dan mereka percaya bahwa para SPG tersedia untuk pekerjaan seks, padahal ini seringnya tidak benar. “Semua SPG pernah mengalami ini,” kata Mona. “Hanya cara kami mengahadapi ini semua yang membuat kami berbeda.”

Mona kini berumur 31 tahun dan telah berhenti bekerja semenjak menikah dua tahun yang lalu. Ia pernah bekerja sebagai SPG bagi sebuah bank pribadi dan beberapa perusahaan properti, dan ia mengatakan bahwa laki-laki sering berkelakuan tidak pantas dengannya, menggodanya dan mengomentari badannya. Beberapa menawarkan uang untuk berhubungan seksual atau untuk pacaran, dan seseorang bahkan mengikutinya hingga ia pulang.

“Salah satu laki-laki mengatakan kepada saya, ‘Kamu sangat cantik. Daripada membuat dirimu capek dengan bekerja keras seperti ini, kamu harusnya dengan saya. Saya akan bayar lebih dari gaji kamu sekarang. Kamu hanya harus memuaskan saya [secara seksual],” ingat Mona. “Seorang pria lain bertanya secara langsung berapa harga satu malam dengan saya.”

“Laki-laki yang mengikuti saya hingga rumah melakukannya karena saya menolaknya,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia merasa sangat takut. “Saya meminta ayah saya untuk mengantar dan menjemput saya selama satu minggu, tetapi saya tidak bisa cerita kenapa. Sekarang, saya selalu membawa pisau lipat. Untuk jaga-jaga.”

Danni Ludfi, seorang mantan pemimpin tim promosi yang kini memiliki agensi SPG sendiri, sering menyaksikan pegawai wanitanya dilecehkan oleh pelanggan pria.

“[Beberapa] pria memiliki pikiran negatif tentang SPG, mereka menggangapnya sebagai lebih rendah dari mereka sendiri, secara social,” kata Ludfi. “Tetapi ada beberapa SPG yang juga main sampingan, untuk mendapatkan uang yang lebih, dan pakain minimalis mereka tidak membantu – para pria menggangapnya mengundang. Sangat susah sebagai pemimpin tim untuk berurusan dengan ini, karena kita harus bertanggung jawab atas keamanan pegawai kami.”

Masalah yang Lebih Luas

Ketika ditanya mengapa SPG menarik begitu banyak perhatian seksual dari pria, banyak wanita yang diwawancarai menyalahkan pakaian dipaksakan oleh para majikan mereka: rok atau gaun pendek, yang seringnya mengetat ke kulit.

“Saya rasa mereka ingin kami memakai pakaian ini karena membuat orang tertarik untuk membeli produk kami,” pikir Winoto. “Dan strategi tersebut berhasil – pria yang tadinya tidak ingin beli apa-apa unjung-ujungnya masih membeli produk kami setelah melihat kami.”

Tetapi banyak SPG diraba-raba bahkan ketika berpakain yang sepenuhnya menutupi badan; Winoto berpakaian jaket dan celana panjang saat diraba-raba oleh laki-laki berkendaraan sepeda motor tersebut. Mona mengatakan bahwa pelecehan tersebut tidak hanya dibatasi pada SPG yang sedang bekerja saja. “Pria mengatakan hal-hal tidak senonoh kepada kita [disaat kita bekerja], mereka berusaha menggandeng tangan kita,” katanya. “Namun ini juga terjadi pada saya ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Guru Bahasa Inggris dan guru komputer saya sering menggandeng tangan saya dan duduk terlalu dekat, hal-hal seperti itu. Alhasil, saya harus berhenti datang ke kelas itu, karena saya terlalu takut untuk menceritakan ini kepada orang tua saya. Saat itu saya masih berumur lima tahun.”

“Kami diwajibkan secara kontraktual untuk memastikan bahwa 100% dari orang yang kami ajak bicara memiliki interaksi yang positif, jadi yang bisa saya lakukan hanya tersenyum pahit dan pura-pura berbicara dengan orang lain”

Bahkan wanita yang sebenarnya bukan SPG, seperti para wanita yang bekerja di garis depan bagi organisasi amal, tidak bebas dari pelecehan seksual. Nurmufidha Muliana bekerja selama dua setengah tahun di Surabaya di sebuah organisasi bantuan internasional; pekerjaannya adalah membujuk orang yang lewat untuk daftar untuk donasi bulanan. Ia tidak diharuskan memakai pakain seksi, tetapi ia masih dilecehkan secara teratur, sama dengan dua dari tiga rekan kerja lainnya.

“Saya masih ingat satu pria,” kata Muliana. “Ia terus memandangi tubuh saya dari atas hingga bawah, walaupun badan saya sepenuhnya ditutupi pakaian. Kami mengobrol sejenak dan saya berhasil mendapatkan donasi darinya, kemudian ia mengatakan ‘Kan saya sudah tolong kamu. Saya memiliki dua istri, apakah kamu mau jadi istri ketiga?’ Kami diwajibkan secara kontraktual untuk memastikan bahwa 100% dari orang yang kami ajak bicara memiliki interaksi yang positif, jadi yang bisa saya lakukan hanya tersenyum pahit dan pura-pura berbicara dengan orang lain.”
Banyak SPG yang berbicara dengan New Naratif ingin keluar dari pekerjaan ini, namun uang penghasilan mereka terlalu bagus, sehingga mereka tidak bisa memikirkan pekerjaan lain secara serius. Pekerjaan kecil seperti menjual sampo mulai dengan RP. 175,000 (US$12.25) per hari, sesuai dengan upah minimum bulanan Jakarta sejumlah RP. 3,600,000 (US$262). Pekerjaan lebih besar, seperti yag ditawari oleh merek rokok besar, dapat membayar sebanyak Rp. 500,000 (US$36.35) per hari. Wanita muda dengan kewajiban keuangan yang sangat menuntut dan dengan kesempatan yang terbatas, merasa sangat susah meninggalkan pekerjaan mereka, walaupun mereka membenci cara mereka diperlakukan.

Tidak seperti pekerja rumah tangga, tidak ada usaha untuk membuat serikat pekerja atau mengembankan jaringan resmi. Aktifis wanita juga kurang memperhatikan isu ini, dan lebih fokus terhadap inisiatif anti-pelecehan seksual yang lebih umum.

Winoto mempertahankan bahwa ia akan lebih senang bekerja di sebuah kantor. “Kamu tahu, memakai baju kantor yang bagus, supaya tidak ada yang melototi saya lagi,” katanya. Ia mengakui bahwa ini mungkin angan-angan yang khayal, karena majikan lebih memilih lulusan universitas. Untuk sementara, ia meneruskan mencari pekerjaan SPG, sambil berharap bahwa sesuatu yang lebih bagus akan muncul suatu hari.

*Nama diubah atas permintaan yang diwawancarai.

Jika anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Dewi Fitzpatrick

Dewi Fitzpatrick stems of Indonesian and English origins and has lived in Singapore for the past seven years. Upon graduating with a Bachelor of Arts in History from the National University of Singapore, Dewi decided to stay on in Singapore to work in arts management. Currently, Dewi is a research analyst in the corporate sector focusing on Indonesia and Malaysia.