Pada 12 April 2020, Lucya Chris Pardede terpaksa pulang ke kampung halamannya di Medan dari Jakarta. Hari itu, ia mendapat kabar bahwa ayahnya, Santun H. Pardede, baru saja meninggal dunia pada usia 79 tahun akibat penyempitan pembuluh darah.

Berbagai pertanyaan segera menyerbu Lucya. “Kenapa ayahku meninggal sekarang? Mengapa ini harus terjadi sewaktu pandemi virus corona?”

Bagaimanapun, tidak ada orang yang tahu kapan kematian akan datang. Ketika ajal tiba, semua orang, baik yang meninggalkan dan ditinggalkan, hanya dapat menghadapinya dengan setegar mungkin. Semua ini dapat terjadi ketika dunia tengah menghadapi situasi terburuk, seperti dikacau-balaukan sebuah pandemi.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to sponsorship@newnaratif.com to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Tonggo Simangunsong

Tonggo Simangunsong is an Indonesian journalist based in Medan city, North Sumatra. His work has appeared in the South China Morning Post, Al Jazeera, New Naratif, VICE and Destinasian, covering environmental issues, culture and identity, politics, arts and travel.

Tonggo Simangunsong ialah jurnalis Indonesia berbasis Kota Medan, Sumatera Utara. Karya jurnalistiknya seputar isu lingkungan, budaya dan identitas, politik, seni dan perjalanan, telah diterbitkan di South China Morning Post, Al Jazeera, New Naratif, VICE dan Destinasian.