Halaman 1.
Sebuah halaman komik dari 2 panel dalam garis hitam dan berwarna. Narasi disediakan pada boks keterangan.
Panel 1. Sebuah grup pertemanan yang sedang tertawa bersama di sekitar sebuah meja. Ada seorang laki-laki dengan rambut keriting yang mengenakan sebuah kaus, seorang perempuan dengan kulit cerah yang mengenakan kaus lengan panjang dan kerudung, dan seorang laki-laki yang mengenakan jaket hoodie. Narator: “Ada puisi indah oleh J. J. Espinoza yang berawal “Aku membayangkan teman-teman cisku menertawakan lelucon tentang banci”. Kalimat itu merangkum kecemasan beranjak dewasa dengan gender yang tidak umum.” Di samping, kita melihat karakter utama, seorang non-biner dengan kulit gelap sedang dan rambut pirang yang berubah menjadi merah muda di ujungnya, mengenakan atasan singlet oranye dan jaket hijau. Ia terlihat sedih saat bekerja di komputer tablet.
Panel 2. Narator: “Gender adalah cara kita mengenali diri baik secara pribadi maupun sosial—membentuk bagian besar dunia kita. Tapi banyak dari kami dengan identitas non-biner mengalami gender dengan cara yang berbeda. Cara yang tampak asing bagi orang lain, dan mengasingkan diri sendiri.” Mendekat pada karakter utama. Kita melihat bahwa ia memiliki janggut yang lusuh, kuku yang dicat merah, mengenakan kalung berbentuk hati, dan memegang dompet kuning. Mereka dikelilingi oleh gelembung ucapan yang berisi pertanyaan: Dia tuh cewek atau cowok sih, sebenernya? Kenapa lo harus dandan kayak *******? Terus gimana deh caramu berhubungan seks? Dasar tukang cari perhatian!
Halaman 2.
Sebuah halaman komik dari empat panel dalam garis hitam dan berwarna. Narasi disediakan pada boks keterangan.
Panel 1. Lingkaran biru dengan lambang tradisional untuk jenis kelamin laki-laki, dan lingkaran merah dengan lambang jenis kelamin perempuan. Narator: “Banyak orang menyamakan gender dengan karakteristik seksual—anatomi tubuh kita sewaktu lahir. Konon, yang alami hanyalah dua gender yang hakiki dan tetap. Manusia terlahir laki-laki atau perempuan. Sepanjang hidup tidak akan berubah.”
Panel 2. Kami melihat kerucut tiga dimensi terbalik. Warna yang berbeda berjalan di sekeliling kerucut. Warna memudar menjadi hitam di sepanjang kerucut menuju ujung, yang diberi label agender. Pada permukaan lingkaran atas kerucut terdapat label: neutrois di tengah, di mana rona berwarna putih; laki-laki di satu titik di sepanjang keliling, di mana rona berwarna biru; perempuan di titik yang berlawanan, di mana rona berwarna merah; androgini pada titik tengah antara laki-laki dan perempuan, dengan rona ungu; dan non-biner pada titik tengah yang berlawanan, dengan rona hijau. Kerucut gender ini dikonseptualisasikan oleh Olivia Paramour. Narator: “Padahal, “laki-laki” dan “perempuan” hanyalah dua pilihan dari sekian banyak…”
Panel 3. Bentuk animasi kecil meregang dan bergerak melintasi Kerucut Gender. Narator: “...dan nggak ada yang bilang kita cuma boleh pilih satu! Kita bisa menempati banyak titik di saat bersamaan. Kita bisa merasakan intensitas gender yang berbeda-beda. Kita bisa berubah-ubah sepanjang hidup, setiap hari, atau tidak sama sekali. Itu semua wajar!”
Panel 4. Di luar angkasa, berbagai bendera identitas dan neopronoun mengambang. Seorang konservatif tua yang bertengger di asteroid menggoyangkan tongkatnya dengan marah pada karakter utama yang menjulang di antara bendera. Narator: “Mereka yang tidak mengalami non-konformitas gender mungkin merasa bahwa berbagai label dan identitas gender baru ini aneh. Tapi ketika kita paham betapa beragamnya pengalaman gender manusia, semua jadi masuk akal!” Orang konservatif berteriak: “Kalian hobi banget ngarang gender baru!” Karakter utama: “Kami menemukan kembali dan mengakui ragam pengalaman gender yang sudah senantiasa ada! Gender adalah taman bermain, bukan medan perang!”
Halaman 3.
Sebuah halaman komik dari empat panel dalam garis hitam dan berwarna. Narasi disediakan pada boks keterangan.
Panel 1. Tiga orang pribumi non-biner berdiri berdampingan. Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka berasal dari agama Tolotang. Narator: “Anggapan bahwa identitas non-biner merupakan sebuah “tren baru” tidaklah benar. Adat-adat lokal di berbagai penjuru dunia, seperti kepercayaan Tolotang di Bugis, telah mengenal identitas non-biner selama ribuan tahun. Tradisi dan spiritualitas seseorang berpengaruh dalam konstruksi gender. Banyak budaya yang menganggap non-konformitas gender sebagai hal suci.”
Panel 2. Tiga orang tersenyum. Satu diindikasikan memiliki sinestesia (melalui angka/huruf/musik dengan berbagai warna dan tekstur), yang lain digambarkan sebagai peri, dan yang lainnya diindikasikan sebagai sistem jamak dengan menggambarkan berbagai wajah. Narator: “Faktor neurologis juga berpengaruh pada pengalaman gender seseorang. Inilah mengapa ada spektrum neurogender, spektrum xenogender, ragam gender pada anggota sistem jamak, dan lainnya..”
Panel 3. Karakter utama melihat dirinya sendiri di cermin. Ia berkata: “Tapi… apa ini benar-benar diriku?” Narator: “Banyak dari kita yang mengalami semacam “sindrom penyemu gender,” curiga bahwa mungkin kita memang cari perhatian saja. Tapi, di manapun kita berada dalam perjalanan gender kita, euforia gender susah disangkal—kebahagiaan saat dikenali dengan  gender sejati kita (atau ketiadaan gender sama sekali!)”
Panel 4. Seorang laki-laki dan perempuan cis melihat diri mereka sendiri di cermin dengan gembira. Lelaki itu melenturkan bisepnya, berseru: “Gagah bener gue!”, Wanita itu berkata: “Gaun ini bikin aku kelihatan cantik, deh!”. Narator: “Individu cis juga banyak mengalami kebahagiaan ini—dengan cara yang sesuai gender yang ditetapkan saat lahir.”
Panel 5. Karakter utama akhirnya senang dengan dirinya sendiri di cermin. Narator: “Di sisi lain, individu trans dan non-biner merasakan euforia dalam cara yang seringkali tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat.” Karakter utama: “Orang bilang aku nggak boleh dandan kayak gini… Tapi dengan begini aku bisa mulai mengenali diriku yang sebenarnya!”
Halaman 4.
Sebuah halaman komik dari enam panel dalam garis hitam dan berwarna. Narasi disediakan pada boks keterangan.
Panel 1. Narator: “Seharusnya bagus, kan, kalau orang bisa mengenali diri sendiri di cermin? Sayangnya, masyarakat berpendapat lain.”
Panel 2. Karakter utama melewati kerumunan yang dibagi menjadi dua kelompok. Ada perempuan di sebelah kiri dan laki-laki di sebelah kanan. Mereka berjalan berlawanan arah dengan karakter utama. Narator: “Menurut Prinsip-Prinsip Yogyakarta4, setiap orang memiliki hak untuk memperoleh kesetaraan dan perlakuan non-diskriminatif, untuk dikenal di bawah hukum terlepas dari identitas gendernya.”
Panel 3. Karakter utama berdiri dengan tiga orang non-biner lainnya, masing-masing tampak sedih. Yang pertama adalah orang berperawakan jangkung dengan jenis kelamin yang tidak ditentukan dengan rambut hijau, kulit gelap, dan syal. Yang kedua adalah transmaskulin berpenampilan seperti orang Cina dengan kemeja Hawaii. Yang ketiga adalah anak kecil. Narator: “Namun, bagi banyak individu non-biner, realitas tidak semanis yang dijanjikan.”
Panel 4. Orang jangkung itu berdiri di luar toilet umum, memandangi tanda-tanda jenis kelamin pria dan wanita dengan bingung. Dua orang yang lewat menatap mereka dengan curiga. Narator: “Selayaknya individu trans biner, banyak individu non-biner merasa cemas ketika harus menggunakan toilet umum. Banyak yang akhirnya memilih untuk tidak ke toilet. Ini berpengaruh pada kesehatan kami.”
Panel 5. Orang transmasc melewati gerbong "khusus perempuan" di kereta angkutan umum, berjalan ke arah mobil berikutnya. Narator: “Ada kecemasan tertentu yang kami rasakan saat memasuki ruang publik yang terbagi dalam dua gender…”
Panel 6. Anak kecil itu berjuang ketika seorang guru yang mengancam mencoba memotong rambut panjang mereka. Mereka mengenakan seragam sekolah dasar. Di dinding, dua poster bertuliskan “GIRLS = LONG HAIR” dan “BOYS = SHORT HAIR”. Narator: “...atau saat menghadapi aturan-aturan berbasis dua gender yang tak berlandaskan logika, namun senantiasa diwajibkan di sekolah, kantor, dan lain-lain.”
Halaman 5.
Sebuah halaman komik dari empat panel dalam garis hitam dan berwarna. Narasi disediakan pada boks keterangan.
Panel 1. Narator: “Parahnya, tidak banyak yang memahami masalah-masalah ini!” Karakter utama duduk di meja makan, makan dengan sedih. Seorang wanita tua, mungkin ibu mereka, menatap mereka dengan frustrasi atau kasihan. Ibu: “Kamu kenapa nggak bisa normal kayak teman-temanmu yang lain, sih?”
Panel 2. Karakter utama berjalan melewati masjid dan gereja, keduanya dengan tanda anti-LGBT yang dipasang di depan. Narator: “Di saat susah, kami seringkali rindu dengan kedamaian agama. Sayangnya, ruang-ruang keagamaan justru seringkali menjadi sumber penolakan, bahkan trauma.”
Panel 3. Karakter utama melihat demonstrasi di kejauhan, di mana orang-orang membawa plakat dan berbaris. Kerumunan berteriak: “Tuntut kesetaraan gender!” Narator: “Gagasan tentang apa itu “normal” sangatlah politis.”
Panel 4. Karakter utama mencoba untuk bergabung, tetapi seorang aktivis menoleh ke mereka dan berkomentar: “Maaf, ini ruang khusus perempuan!” Narator: “Namun, berjuang dalam forum-forum politik juga tidak mudah. Banyak ruang politik, selayaknya ruang publik lainnya, masih terpaku pada dua gender.”
Halaman 6.
Sebuah halaman komik dari lima panel dalam garis hitam dan berwarna. Narasi disediakan pada boks keterangan.
Panel 1. Frustrasi, karakter utama berjalan kembali ke rumah. Seorang anak kecil menoleh untuk melihat mereka, tetapi orang tuanya tidak menyetujuinya. Sang ibu menutupi mata anak itu, dan sang ayah menariknya pergi. Narator: “Mengapa kebanyakan orang mengamini bahwa hanya ada dua gender alami? Bahwa identitas non-biner itu menyimpang?”
Panel 2. Flashback ke karakter utama sebagai seorang anak. Ia memiliki rambut hitam keriting pendek dan duduk di depan televisi. Narator: “Beranjak dewasa, kita belajar menertawakan gender yang tidak umum. Tokoh-tokoh bercirikan queer hampir selalu berperan sebagai musuh atau badut…”
Panel 3. Waktu berlalu; karakter utama sekarang remaja, dengan rambut panjang yang telah dicat pirang. Ia sedang menonton acara di laptop. Narator: “…atau lebih parah lagi: sebagai penjahat kelamin dan pembunuh.” Suara dari pertunjukan: “Ternyata dia seorang pria! Dandan sebagai perempuan untuk membunuh para korban!”
Panel 4. Karakter utama dan tiga karakter non-biner lainnya berdiri menghadap dinding papan tanda transfobik anti-LGBT. Narator: “Transfobia dan ketakutan akan segala yang queer dan tidak umum amatlah mengakar di masyarakat kita. Ia menyebar melalui media, candaan pertemanan, mana yang diajarkan  “benar” dan “salah” di keluarga...hingga mewujud ke dalam norma, aturan hukum, dan diskriminasi yang terus menyakiti kami.”
Panel 5. Keempat karakter mendekati tanda. Orang jangkung itu menyiapkan sekaleng cat semprot. Narator: “Jika kalian ingin membuat hidup kami sedikit lebih mudah...”
Halaman 7.
Sebuah halaman komik dari enam panel dalam garis hitam dan berwarna. Narasi disediakan pada boks keterangan.
Panel 1. Dua poster bermuatan kebencian telah diubah. Mereka sekarang membaca: “Dilarang berasumsi perkara gender! Hargai nama panggilan kami.” “Dengarkan suara para non-biner.” Narator: “...ada hal-hal kecil yang akan membantu.”
Panel 2. Sebuah tangan terulur dan merobek satu poster kebencian yang tersisa. Sebuah cahaya memancar dari celah di dinding di belakang poster. Narator: “Tapi kami bercerita bukan untuk dikasihani.”
Panel 3. Karakter utama memandangnya dengan kagum, diterangi oleh pancaran saat cahaya bersinar lebih terang. Narator: “Kami bercerita karena kami ada.”
Panel 4. Sebuah portal terbuka di celah. Melaluinya, kita melihat berbagai individu gender nonkonformis dari masa lalu. Ada penari Lengger Lanang, orang androgini dengan pakaian tahun 1960-an, orang Tionghoa yang tidak ditentukan jenis kelaminnya, seorang bangsawan Jawa transmaskulin zaman kolonial, dan tokoh dari agama Tolotang. Narator: “Kami di sini. Kami senantiasa ada di sini.”
Panel 5. Karakter utama memimpin yang lain ke portal. Semua orang terlihat sedang kagum atau tertawa. Narator: “Akan amat berarti bagi kami jika kalian berhenti menertawakan kami dan mulai tertawa bersama kami...”
Panel 6. Narator: “....untuk merayakan kebahagiaan taman bermain gender ini bersama-sama.” Panel ini mengambil sisa halaman, meluas ke atas untuk mengisi ruang di antara panel sebelumnya. Kami tiba di tempat di mana semua orang tampak bahagia. Langit ungu dan tanah kuning keemasan membentuk warna bendera non-biner. Karakter utama menawarkan tangan kepada pembaca, tersenyum lebar. Narator: “Pembebasan kami adalah pembebasanmu juga.”
Akhir komik.

Sumber

[1] Sumber puisi: https://apogeejournal.org/2016/06/28/queer-history-queer-now/#Espinoza
[2] Kerucut Gender oleh Olivia Paramour. https://linktr.ee/oliviaparamour
[3] Bornstein, K., & Drucker, Z. (2017). Gender Is a Playground. Aperture, (229), 24-31. Available at https://aperture.org/editorial/gender-playground/
[4] Prinsip-Prinsip Yogyakarta menjabarkan kewajiban pemerintah dalam menegakkan hak asasi manusia berkaitan dengan identitas gender dan orientasi seksual. Kunjungi: www.yogyakartaprinciples.org.

Ucapan Terima Kasih

Komik ini merupakan bagian dari proyek bertajuk “Being Nonbinary in Indonesia – An Advocacy Project Through Comics” yang dipimpin oleh Erik Nadir untuk APTN Amplifying Trans Advocacy Fellowship 2020. Komik ini terinspirasi oleh sebuah diskusi kelompok terarah sebagai bagian dari proyek. Terima kasih kepada Arin Shabrina dan Sarah F. Hana yang telah membantu memfasilitasi dan mengorganisir diskusi; kepada semua peserta yang telah membagikan pengalaman mereka; dan kepada Asia Pacific Transgender Network (APTN) atas dukungannya.

Untuk Informasi Lebih Lanjut

Jika kamu ingin mempelajari lebih lanjut atau memerlukan akses bantuan kepada individu non-biner, berikut ini adalah grup dan organisasi yang dapat kamu kontak:

  1. New Naratif
    New Naratif mempunyai kanal khusus LGBTQIA+ di server Discord kami untuk saling mengenal lebih baik dan mulai membangun solidaritas transnasional untuk komunitas LGBTQIA+ di Asia Tenggara. Untuk bergabung, daftarkan dirimu pada buletin mingguan kami.

  2. Asia Pacific Transgender Network
    APTN adalah organisasi trans-led yang mendukung dan mengadvokasi hak-hak individu trans serta beragam gender lainnya di Asia dan Pasifik. Ikuti APTN di media sosial untuk melihat berbagai kabar termasuk peluang fellowship khusus untuk transgender dan beragam gender lainnya.

    Situs web: https://weareaptn.org
    Instagram: @WeAreAPTN
    Twitter: @WeAreAPTN

  3. ASEAN SOGIE Caucus
    ASEAN SOGIE Caucus adalah organisasi regional yang terdiri dari aktivis hak asasi manusia LGBTIQ+ yang mengadvokasi kemajuan, perlindungan, pemenuhan dan penikmatan hak asasi manusia terlepas dari identitas seksual dan gender mereka di seluruh Asia Tenggara.

    Email: info@aseansogiecaucus.org
    Situs web: https://aseansogiecaucus.org/
    Twitter: @ASEANSOGIE
    Instagram: @aseansogiecaucus
    Facebook: https://www.facebook.com/aseansogie/

  4. Non-Binary Peer Support Group (Indonesia)
    Setiap individu non-biner yang berbasis di Indonesia yang mencari dukungan dari komunitasnya dipersilakan untuk bergabung. Grup ini menggunakan Bahasa Indonesia. Hubungi Erik Nadir melalui email (eriknadjr@gmail.com) untuk bergabung. Semua pendaftar akan melalui proses seleksi untuk memastikan keamanan grup.

  5. Arus Pelangi (Indonesia)
    Arus Pelangi adalah federasi berbasis anggota yang bersifat nirlaba, non-pemerintah, dan menganut nilai-nilai non-diskriminasi, pluralisme, non-kekerasan, kemandirian, inklusi, solidaritas, kolektivitas, demokrasi, transparansi dan akuntabilitas. Arus Pelangi dibentuk pada tanggal 10 Maret 2006 di Jakarta dengan visi untuk memenuhi hak-hak kaum tertindas berdasarkan SOGIESC di Indonesia.

    Twitter: @aruspelangi
    Instagram: @aruspelangi

  6. Pink Triangle Foundation (Malaysia)
    Pink Triangle Foundation adalah organisasi nirlaba berbasis komunitas di Malaysia yang berfokus untuk memajukan kesehatan seksual yang lebih baik. Mereka menyediakan tes dan konseling berbasis komunitas yang gratis dan non-diskriminatif di Lembah Klang. Sayangnya, karena situasi lockdown di Malaysia, PTF tidak dapat menyediakan layanan tersebut saat ini. Di halaman IG PTF, siapa pun dapat memilih untuk memesan sesi tes anonim mereka jika memungkinkan.

    Situs Web: http://ptfmalaysia.org/v2/
    Email Outreach Manager: kevin@ptfmalaysia.org
    Facebook: www.facebook.com/ptfmalaysia
    Instagram: @jomtest_ptfoundation

  7. Tabung Pelangi (Malaysia)
    Tabung Pelangi adalah inisiatif kecil yang mendukung individu nonbiner dengan menyediakan sumber daya untuk individu queer di Malaysia seperti pembebat dada. Mereka juga menerbitkan zine queer nirlaba tahunan “Stories for A Cause” – edisi kedua mereka akan diluncurkan pada pertengahan Juli. Cerita dari individu queer Malaysia akan digunakan untuk mendorong penggalangan subsidi terapi yang mengafirmasi invididu queer di PLUHO Org.

    Cari tahu lebih lanjut tentang mereka di https://tabungpelangi.carrd.co/.

  8. Cempaka Collective / Gocoh! (Malaysia)
    Cempaka Collective telah menerbitkan Gocoh! – Webzine berbahasa Melayu yang membahas isu dan strategi seputar anarka-feminisme dan anarkisme queer.

    Baca lebih lanjut tentang mereka di https://gocoh.noblogs.org/about/.

Bonni Rambatan

Bonni Rambatan is a writer and artist based in Jakarta, Indonesia. As an artist, fae has worked on a number of comics, as well as in the medium of prose, films, and installation. Fae co-founded and currently runs a comic book company, NaoBun, focusing on making progressive thoughts available to young readers. Faer forthcoming book on cybercultural studies and philosophy (co-written with Jacob Johanssen) is set to be published in January 2022 by Zer0 Books.

Reymigius

Reymigius is a writer based in Bandung, Indonesia. With a degree in Communication Science, they is passionate about a variety of topics including pop culture, queer activism, new media, and creative writing. You can contact them at reymigius@gmail.com.