“Ia seksi tapi kurang diliput.” Hal yang dimaksud ilmuwan iklim Indonesia Daniel Murdiyarso ialah karbon biru. Karbon biru adalah karbon dioksida dalam ekosistem pesisir. Indonesia memiliki dua ekosistem karbon biru pesisir berukuran besar:  hutan mangrove seluas hampir 3 juta hektare dan 300.000 hektare padang lamun.

Isu-isu terestrial terkait iklim dan lingkungan, seperti deforestasi atau pelestarian satwa terancam punah, senantiasa memperoleh liputan lebih banyak dalam media. Sekalipun amarah publik dan media atas penebangan hutan atau pembakaran habitat orangutan dapat dibenarkan, kenyataannya mangrove mampu, per hektare, menyimpan lima kali lebih banyak karbon dioksida yang diserap hutan dataran tinggi.

Ini berarti penebangan mangrove akan melepaskan lima kali lebih banyak karbon dibandingkan dengan karbon dari hutan rusak dengan luas lahan sama. Bertambahnya karbon masuk atmosfer akan semakin meningkatkan terjadinya perubahan iklim. Deforestasi mangrove hanya 6% dari semua deforestasi di Indonesia, tetapi emisinya itu sudah sebanyak 30% emisi karbon secara nasional, Murdiyarso mengatakan kepada New Naratif.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to sponsorship@newnaratif.com to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Warief Djajanto Basorie

Warief Djajanto Basorie reporter Kantorberita Nasional Indonesia, KNI, di Jakarta dari 1971 hingga 1991 dan pada waktu bersamaan menjadi koresponden Indonesia untuk DEPTHnews Asia yang berkantor pusat di Manila (DNA 1974-1991). Pada 1991, Warief bergabung dengan Lembaga Pers Dr. Soetiomo, LPDS, sebuah sekolah jurnalisme di Jakarta, sebagai pengajar dan pelaksana lokakarya-lokakarya jurnalisme tematik. Ia menjadi manager proyek tiga putaran lokakarya meliput perubahan iklim dari 2012 hingga 2017. Lebih dari 600 wartawan di provinsi-provinsi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, daerah-daerah mana rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan gambut yang mengemisikan karbon, pernah menjadi peserta.