Hello!

Stay up to date with New Naratif’s latest stories and upcoming events with our weekly newsletter. No spam, just good content.

* indicates required

Bagi para tenaga kerja asing, memiliki hak, kesempatan, dan kesejahteraan yang setara dengan anggota masyarakat lainnya seharusnya sudah merupakan hal yang wajar untuk diminta. Karya Agatha Celia, elegan dan sederhana, membuat kita merenung mengapa mimpi ini masih terasa begitu jauh.

Cahaya lampu neon dari auditorium tidak menyilaukanku.

Suamiku yang berperawakan kasar itu mengibaskan lembaran panduan acara ke kanan dan ke kiri, berupaya membuka jalan di lautan orangtua mahasiswa. Aku berhati-hati supaya baju kurungku yang dijahit khusus dengan bordiran istimewa ini tidak kusut. Anak gadis bungsu kami, Aminah, akan diwisuda hari ini.

Aku meninggalkan rumah untuk mencari kerja ketika Aminah baru saja bisa berjalan. Saat itu, aku tidak bermimpi akan sanggup mengirim anak-anakku ke SMA, apalagi kuliah. Rasanya terlalu jauh. 

Kala itu, aku sudah merasa beruntung apabila sanggup mengirimkan keluargaku uang yang cukup untuk bayar listrik. Aku pun merasa lebih beruntung lagi jika majikanku tidak memukuliku, atau menyiramiku dengan air mendidih setiap kali aku berbuat kesalahan. Kisah-kisah ini membuat bulu kuduk berdiri. Namun, saat itu, suamiku tidak bisa mendapatkan pekerjaan, sementara kami harus makan.

Aku pun teringat bagaimana pertama kali aku mendengar tentang Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga dari seorang teman yang bekerja di pasar. Ia mengatakan para pejabat di parlemen sedang menggodoknya. Yang benar saja. Mana mungkin para pejabat peduli dengan orang-orang seperti kami. Aku bahkan tidak tahu bahwa aturan itu sudah diketok sampai aku lepas dari pemberi kerja lamaku.

Salah seorang teman memperkenalkanku pada Pak Malhotra, yang akhirnya menjadi majikanku sejak saat itu. Dia majikan yang baik. Namun aku tidak tahu apakah ia mau untuk membayarku setinggi itu, dengan tunjangan sebanyak itu, jika tidak diancam denda atau penjara—terutama setelah bertahun-tahun terbiasa dibayar jauh di bawah UMR. 

Sejak aku bekerja dengan Pak Malhotra, keluargaku menikmati peningkatan kualitas hidup. Kami akhirnya bisa membeli rumah. Dengan tunjangan kesehatanku yang baru, akhirnya aku bisa berobat untuk penyakit darah tinggiku. Aku juga bisa dengan bijak berinvestasi di kebun kakakku dan warung kopi tetanggaku.

Sekarang, aku bisa melihat Aminah yang cantik duduk barisan depan, berbalut jubahnya yang anggun.

Lampu dipadamkan. Band memainkan mars yang bersemangat. Pak Dekan berpidato. Ia berbicara tentang semangat pantang menyerah dan masa depan. Aku berhenti mendengarkannya, sementara pikiranku melayang-layang.

Rekening pensiunku menggendut. Pak Malhotra tidak pernah lalai membayar iurannya. Terkadang, aku pun menyisihkan sebagian penghasilanku untuk ditabung di rekening itu. Selama dua tahun berturut-turut, seharusnya aku sudah punya cukup uang untuk pensiun dan pulang kampung ke desa, hidup nyaman sampai akhir hayatku.

Ada beberapa mimpi yang harus aku tunda. Aku ingin punya kolam ikan agar ketika aku bangun tidur, aku dapat menikmati indahnya air bening berkecipak ditimpa cahaya mentari pagi. Aku juga ingin punya kandang ayam di halaman belakang agar kami bisa selalu punya telur segar untuk sarapan. Cucu-cucuku bisa bermain-main dengan ayam ketika berkunjung saat liburan. Aku menutup mataku dan membayangkan sejuknya angin sore bertiup di teras—cuaca yang sempurna untuk menikmati teh melati dan biskuit.

Pak Dekan selesai berpidato. Para mahasiswa memekik senang. Satu per satu, para wisudawan dipanggil. Suamiku meremas tanganku.

“Aminah Baringin…” 

Aku tidak menyimak lagi kelanjutan ucapannya. Aku langsung melompat dan berteriak, “Itu anakku!”

Aku bertepuk tangan sekeras-kerasnya dengan telapak tanganku yang pecah-pecah akibat bertahun-tahun menggosok lantai. Aminah berjalan melintasi panggung, memiringkan topinya setengah jalan. Air mata memenuhi mataku saat ia menerima ijazahnya.

Ini dia. Mimpi jauhku telah terwujud.


Agatha Celia bertempat tinggal di Jakarta, Indonesia.

Karya ini diilustrasikan oleh Azisa Noor dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gisela Swaragita.

Karya ini diterbitkan berkat dukungan Heinrich Böll Stiftung, Grant C12.22_2021

Baca kisah lainnya dalam musim ini:

Agatha Celia

Agatha Celia is currently based in Jakarta, Indonesia.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *