Ia menyebutnya sebagai perjamuan terakhir.

Malam itu 21 Oktober 1966, Martin Aleida tiba di suatu rumah di Jakarta Pusat dengan 50 tusuk sate untuk dinikmati bersama lima kawan. Selama seminggu lewat, ia membobok tembok dan memasang pipa instalasi listrik sebuah rumah. Sebagian upahnya untuk membeli sate itu di Pasar Baru.

Pada perjamuan terakhir di Mangga Besar ini, tak ada setetes pun anggur merah dan roti, walau hanya remahnya. Yang ada cuma Putu Oka dan orang-orang yang dia berikan perlindungan serta 50 sate yang tinggal bambu penusuknya.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to sponsorship@newnaratif.com to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.