Hujan deras mengguyur Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada Selasa sore setahun yang lalu, ketika saya memasuki gerbang rumah tahanan markas Komando Brigade Polisi (juga dikenal sebagai Mako Brimob). Saya melihat seorang perempuan bercadar duduk, Ia ternyata telah menunggu sejak tadi siang.

Kami pun diperkenalkan oleh petugas Detasemen Khusus 88 (Densus 88)— “Ini Dian Yulia” —Kami kemudian menuju ke ruangan kecil, hanya ada sebuah meja dan empat kursi di sana. Novi, begitu ia dipanggil, mengenakan niqab, sarung tangan abu-abu dan gamis cokelat (jubah). Warna pakaiannya gelap, kontras dengan suasana hatinya saat itu: santai, tenang, dan ceria.

“Saya sedang mual,” katanya sambil memegang sebuah botol minyak kayu putih. Ternyata Novi tengah hamil dua bulan.

Dian Yulia Novi, Ia telah dikader oleh ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) untuk menjadi bomber perempuan pertama di Indonesia. Misinya adalah meledakkan bom yang disimpan di sebuah penanak nasi elektronik di Istana kepresidenan Indonesia. Akan tetapi rencana itu gagal sebab polisi berhasil menggerebek rumah kosnya di Bekasi, di perbatasan timur Jakarta pada Desember 2016. Ia kemudian dituntut hukuman 10 tahun penjara. Namun pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan hukuman lebih ringan, 7,5 tahun penjara setelah Ia mengakui perbuatannya. Novi adalah wanita pertama di Indonesia yang dihukum karena merencanakan serangan mematikan itu.

Alih-alih menjadi martir perempuan pertama, nasib berkata lain, Novi akhirnya berakhir di sebuah ruangan kecil di Mako Brimob dengan dua polisi perempuan yang ditugaskan untuk terus mengawasinya.

Pada Mei 2018, tepat setahun setelah pertemuan saya dengan Novi, terjadi kerusuhan di Mako Brimob. Penyanderaan oleh narapidana pengikut ISIS selama 36 jam itu menyebabkan lima petugas polisi dan seorang narapidana tewas. Menurut juru bicara polisi, sebagian besar petugas terluka dengan sayatan di bagian leher mereka akibat kerusuhan itu. Jamaah Ansharud Daulah, sebuah kelompok teroris Indonesia yang berbaiat kepada ISIS, disebut sebagai biang kerusuhan serta pemboman di Surabaya yang terjadi di pekan yang sama itu.

Novi sendiri berada di Mako Brimob bersama bayi perempuannya yang berusia enam bulan saat kejadian tersebut. Laporan media mengatakan Ia dan anaknya akhirnya dievakuasi ke sebuah rumah tahanan di Jawa Tengah.

 

Ketika teroris perempuan melibatkan keluarga

Beberapa peristiwa bom mematikan terjadi di Jawa Timur setelah kerusuhan penjara di Mako tersebut. Pada 13 Mei, satu keluarga yang terdiri dari lima orang meledakkan bom di tiga gereja — dua diantaranya, sang anak laki-laki, meledakkan bom di Gereja Katolik Santa Maria di Surabaya, dan sang Ayah yang mengemudikan mobil berisi bom, meledakkannya di Gereja Pantekosta Center Surabaya. Kemudian sang Ibu, ditemani oleh anak-anak perempuannya yang berusia 12 dan 8 tahun, meledakkan bom di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro. Semua rentetan ledakan bom ini terjadi di hari yang sama, dalam selang waktu beberapa menit saja.

Beberapa jam kemudian, pada malam harinya di hari yang sama, keluarga lain tewas karena bom mereka meledak sebelum waktunya, mereka tinggal di perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Tiga anak mereka, antara usia 10 dan 15, selamat.

Keesokan harinya, keluarga ketiga menyerang kantor polisi, masih di Surabaya. Mereka menggunakan dua sepeda motor — satu-satunya yang selamat dari keluarga tersebut adalah seorang anak gadis berusia delapan tahun yang terjepit di antara orang tuanya.

Polisi telah menyampaikan bahwa keluarga yang menyerang gereja-gereja dan markas polisi baru saja kembali dari Suriah (Walau klaim polisi ini sempat diperdebatkan oleh beberapa tetangga mereka).

Serangan yang dilakukan oleh perempuan-perempuan ini, dengan membawa anak perempuan bersama mereka, membuktikan bahwa ISIS akhirnya berhasil mengkader barisan perempuan bomber perempuan pertama di Indonesia. Walaupun operasi pertama dengan Novi sempat gagal.

Masih belum jelas bagaimana ISIS merekrut, mengindoktrinasi dan meyakinkan perempuan, anak-anak dan bahkan seluruh keluarga untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Tetapi percakapan saya dengan Novi meninggalkan sedikit petunjuk tentang bagaimana seseorang akhirnya teradikalisasi menjadi pelaku bom bunuh diri.

 

Masa kecil dan keputusan menjadi TKI di luar negeri

Novi tumbuh dan besar di Bandung. Sebagai anak tunggal, Ia membantu orang tuanya berjualan di toko mereka di sebuah pasar tradisional. Seperti anak-anak pada umumnya, Ia ikut pengajian. Ia jarang keluar pada malam hari, karena orang tuanya tergolong konservatif dan tidak pernah mengizinkannya untuk bergaul dengan teman-temannya.

Setelah lulus dari SMA, Novi bekerja di pabrik tekstil. Ia memiliki kehidupan seperti remaja lain, nongkrong dan belanja dengan teman-teman sebaya di waktu luangnya. Ia kemudian pindah ke Cirebon, Jawa Barat. Akan tetapi tak lama kemudian, Ia memutuskan untuk merantau ke luar negeri menjadi pekerja domestik.

Ia bekerja sebagai buruh migran domestik di Singapura pada 2010 di usia 23 tahun. Majikannya seorang guru, Nasrani-Tionghoa, yang mengajar di sebuah sekolah menengah setempat. Ia merawat tiga anak mereka yang masih kecil dengan bayaran USD 330 (Rp 3 juta) setiap bulan. Tapi Ia mengaku tak bahagia dengan pekerjaannya itu karena sulit untuk mendapatkan hari libur — Ini merupakan keluhan umum di kalangan pekerja rumah tangga migran di negara-negara kaya dan maju seperti Singapura.

Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah setelah satu setengah tahun bekerja. Tapi hanya dalam waktu beberapa bulan saja, Ia memutuskan untuk kembali merantau menjadi pekerja migran di Taiwan. Kali ini Ia bekerja untuk pasangan lanjut usia yang ia panggil Ama (nenek) dan Yeye (kakek).

“Bos saya orang Buddha-Taiwan, tetapi alhamdulillah, mereka toleran,” katanya. Meskipun Muslim adalah minoritas di Taiwan, majikannya memahami dan mengizinkannya mengenakan niqab. Novi mulai mengenakan jilbab sebelum Ia bekerja di Singapura. Ia mulai ‘serius’ berjilbab dan mengenakan niqab setelah bekerja di Taiwan. “Bos saya baik-baik saja dengan itu (niqab). Mereka cukup toleran. Mereka mengatakan itu urusan saya. ”

Terlepas dari pengalamannya sebagai minoritas di Taiwan, Novi ternyata punya pandangannya yang bertolak belakang dengan bosnya soal minoritas. Saya menanyakan pandangannya ihwal minoritas Syiah di Indonesia. Ia menolak untuk menerima minoritas Muslim Syiah di Indonesia: “Syiah bukan Muslim. Tidak ada toleransi bagi mereka!,” katanya dengan geram.

Ketegangan antara sekte Syiah dan Sunni di antara pemeluk Islam terjadi di berbagai belahan dunia. Meskipun mereka memiliki kesamaan dalam hal kepercayaan fundamental, ada perbedaan signifikan dalam teologi, praktik, dan doktrin. Mayoritas Muslim dunia adalah Sunni, sedangkan Muslim Syiah membentuk mayoritasnya sendiri di negara-negara seperti Iran, Bahrain, dan Lebanon; sebagian besar peristiwa kekerasan di Timur Tengah misalnya telah dikaitkan dengan sektarianisme ini. Penolakan Novi terhadap Muslim Syiah cocok dengan ideologi ISIS, kelompok teroris yang mulai populer secara global pada 2014 dan menganut doktrin fundamentalis Sunni Islam.

Pekerjaan Novi di Taiwan cukup sederhana, tapi berat: Ia bertanggung jawab untuk membersihkan rumah empat lantai di Taichung serta memasak makanan dan merawat majikannya yang berusia 78 tahun. Pekerjaan itu membuatnya sibuk, sehingga Ia tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan komunitas pekerja rumah tangga migran yang cukup besar di kota itu. Teman yang sedikit dan kesempatan yang jarang untuk keluar, maka ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan di media sosial. Ia mulai belajar tentang jihad. Di Facebook lah, ia menemukan banyak percakapan tentang jihad atau perang suci.

Novi sebenarnya bukan satu-satunya pekerja rumah tangga migran yang merasa dirinya terisolasi di perantauan, yang menjadikan mereka rentan terhadap perekrutan kelompok ektrismis di dunia digital. Antara tahun 2015 dan 2017, misalnya, Singapura memulangkan sembilan pekerja domestik migran yang diduga radikal.

Pekerja migran seperti Novi mengalami fase di mana mereka merasa hidupnya kosong dan hampa. Salah satu narasumbernya misal bercerita, karena kesepian, Ia kemudian menghabiskan waktunya untuk menonton Drama Korea sampai bosan

Seperti yang disampaikan Nava Nuriyah, seorang peneliti dari Institut Analisis dan Konflik Kebijakan (IPAC)— Ia mengangkat kisah pekerja migran domestik yang diwawancarainya di Singapura di opininya di New York Times beberapa waktu lalu— kepada New Naratif, pekerja migran seperti Novi mengalami fase di mana mereka merasa hidupnya kosong dan hampa. Salah satu narasumbernya misal bercerita, karena kesepian, Ia kemudian menghabiskan waktunya untuk menonton Drama Korea sampai bosan.

“Ia (kemudian) mulai mencari ceramah (tentang Islam) di Internet. Google biasanya akan memunculkan konten Salafi, dan kemudian akan ‘mengarahkan’ pembaca ke VOA Islam, ” kata Nava. Gerakan Salafi adalah cabang Sunni Islam yang sangat ortodoks, ultra-konservatif, sementara VOA Islam adalah versi tiruan dari organisasi media yang didanai AS, Voice of America. VOA Islam dengan sengaja menerbitkan konten palsu dan informasi tidak akurat, menipu pembaca agar berpikir mereka membaca situs web VOA yang sebenarnya.

Nava menambahkan bahwa selain Google, algoritma Facebook juga memainkan peran penting dalam menyediakan tautan yang menghubungkan pekerja migran dengan jaringan teroris di dunia digital. “Mereka mencari ‘teman yang religius’ dan algoritma [Facebook] otomatis menyarankan beberapa teman; begitulah cara orang-orang ini hidup dalam gelembung mereka sendiri,” katanya. Terkadang, tambah Nava, jihadis laki-laki juga secara aktif mencari target di Facebook, menggunakan tameng “kencan online” untuk merayu perempuan yang rentan yang bekerja sebagai pekerja migran seperti Novi dan memanipulasi atau “menaklukkan” mereka dengan rayuan.

Begitulah awal mulanya Novi mulai terhubung dengan para jihadis di Facebook.

 

Jihad dan Pancasila

“Awalnya, saya ingin tahu tentang akun-akun ini di posting Facebook tentang jihad. Saya suka ‘mematai’ mereka. Saya bertanya kepada mereka, ‘Apa ini? Kenapa ini aneh sekali?‘” kata Novi. Pada waktu itu, Novi tidak mengerti mengapa orang ingin mengorbankan hidup mereka dan mati sebagai martir.

Novi kemudian mulai menghubungi sejumlah orang yang mem-posting di Facebook mereka tentang jihad. Salah satu di antara mereka, Fulana binti Fulan (bukan nama sebenarnya), akhirnya menjawab pertanyaannya. Ia kemudian meyakinkan Novi bahwa dirinya saat itu tinggal di Suriah, dan Ia akan mengajarkan tentang jihad pada Novi. Fulana juga menjelaskan tentang perbedaan antara al-Qaeda dan ISIS. “Al-Qaeda, di masa lalu, mereka mengikuti Alquran dan Sunnah (kebiasaan tradisional dan praktik Islam berdasarkan ajaran Nabi Muhammad), tetapi akhir-akhir ini, pemimpinnya tampaknya menggunakan jihad untuk politik. Jika mereka berbicara tentang politik, itu artinya mereka tidak lagi berperang atas nama Allah, ”kata Novi— Ia menyebut pemimpin jaringan teroris yang terakhir, Osama bin Laden, sebagai pengecualian. Sepeninggal Osama, organisasi itu diklaim berubah haluan. Ia mencontohkan kasus lain, Jabhat al-Nusra, sebuah organisasi jihadis yang berperang melawan pemerintah Suriah dengan maksud mendirikan negara Islam— ISIS mengkritik dan menuduh Qaeda dan al-Nusra “bergabung” dengan Amerika Serikat dan menyebut mereka sebagai minion negara adidaya tersebut. “Jihad adalah tentang berjuang untuk menjunjung tinggi agama Allah tanpa niat lain, termasuk untuk bisnis golongannya sendiri atau kepentingan satu kelompok,” Novi menjelaskan.

Dalam kesempatan yang sama, Novi menjelaskan sikapnya terkait Indonesia. Ia menyebut Pancasila sebagai sirik, musyrik, dan atau segala sesuatu yang dikaitkan dengan penyembahan terhadap berhala. “Mengapa kita harus mematuhi Pancasila bukan hukum Islam?” Ia beralasan bahwa mengikuti Pancasila adalah indikasi kurangnya kepercayaan terhadap hukum Al-Quran.

Ia tidak mengerti mengapa Indonesia, sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia, tidak mematuhi Islam dan Quran sebagai prinsip dasar mereka.

Cara pandang Novi sebagai anggota ISIS ini mirip dengan pandangan yang juga dipegang oleh kelompok Islam garis keras Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Karena itu kelompok ini dibubarkan oleh pemerintahan Jokowi. Mereka dianggap melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Pancasila dan prinsip negara kesatuan Indonesia. Pelarangan ini memicu kemarahan di media sosial, salah satunya dimotori oleh Cyber Muslim.

Tentang Pancasila, Robertus Robert, seorang ahli dari Universitas Negeri Jakarta mengatakan bahwa rumusan Pancasila sebenarnya pernah mendekati aspirasi kelompok Islam ini: pada satu titik dalam penyusunannya pada tahun 1945, dirumuskan bahwa, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Rumusan itu tertuang dalam Piagam Jakarta yang dianggap mewakili faksi kelompok muslim di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Ayat tentang kewajiban bagi umat Islam untuk mematuhi hukum Islam telah memicu perdebatan sengit di antara anggota BPUPKI. Presiden Sukarno sendiri saat itu sempat mempertahankan rumusan itu, tapi Ia berubah pikiran di menit-menit terakhir. Ia dan Mohammad Hatta kemudian mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di mana Hatta berpendapat bahwa penghapusan klausus tentang penganut agama Islam harus menjalankan syariat Islam dilakukan, “Demi persatuan Indonesia yang sebulat-bulatnya,” katanya. Pasal pertama di rumusan Pancasila itu kemudian sepakat untuk direvisi menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” setelah para pemimpin terkemuka Indonesia dari berbagai latar belakang — nasionalis dan Islam serta sekuler —akur dan berkompromi.

 

Muslim yang kafir 

Selain berkomentar tentang Pancasila, Novi juga menyampaikan keyakinan lain yang Ia pelajari dari ISIS: seorang Muslim, katanya, bukanlah penganut Islam sejati jika mereka mengikuti pemimpin politik seperti presiden. Di mata ISIS, seorang pemimpin adalah seseorang yang memerintah di bawah administrasi Negara Islam. Seorang muslim yang mengidolakan seorang ulama yang dipandang menggunakan ajaran Al-Qur’an untuk kepentingan bisnis atau politik mereka sendiri juga tak dapat diterima oleh ISIS, kata Novi. Sebagai contoh, ia melihat baik Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam, organisasi sayap kanan Sunni, sebagai organisasi politik yang terlalu banyak berkompromi dengan pemerintahan Jokowi. Ia bersikeras mereka tidak layak dihargai. Bagi Novi, negaranya—meskipun penduduknya mayoritas Muslim—masih jauh dari negara Islam sejati yang ia impikan.

Seorang muslim yang mengidolakan seorang ulama yang dipandang menggunakan ajaran Al-Qur’an untuk kepentingan bisnis atau politik mereka sendiri juga tak dapat diterima oleh ISIS, kata Novi. Sebagai contoh, ia melihat baik Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam, organisasi sayap kanan Sunni, sebagai organisasi politik yang terlalu banyak berkompromi dengan pemerintahan Jokowi

Novi sendiri memutuskan untuk menjadi bomber setelah meyakini bahwa Ia telah memenuhi semua kewajiban sebagai seorang Muslim yang baik: sholat lima kali sehari, berpuasa selama Ramadan dan membaca Alquran. Tepatnya setelah Ia belajar tentang jihad secara online, Ia memutuskan bahwa Ia ingin melangkah lebih jauh: Bergabung dengan barisan perang ‘suci’. Novi mengatakan keinginannya untuk bergabung dengan pasukan ‘perang salib’ ISIS berasal dari perasaan yang ‘kurang sempurna’ sebagai seorang Muslim: “Suatu hari, kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan sekarang, mulai dari saat kita lahir sampai hari kita mati. Kita adalah Muslim, tetapi kita belum benar-benar menerapkan diri sebagai Muslim.”

Ia sempat membahas ihwal bom bunuh diri dengan orang tuanya. “Saya katakan anak-anak di Suriah telah menderita karena perang, tidakkah Anda merasa bahwa hati Anda hancur menyaksikan saudara-saudari kita diperlakukan seperti itu? Di mana persaudaraan Muslim kita? ”Orang tuanya berkata,“ Tetapi mengapa harus bom bunuh diri? Itu tidak diperbolehkan dalam agama kita.”

Setahun sebelum penangkapannya, Novi belajar tentang syariah Islam dari Fulana melalui Facebook dan menerapkannya semaksimal mungkin dalam kehidupan sehari-harinya; Ia mengatakan itu memperkuat niatnya untuk melakukan jihad. Ia menyampaikan niatnya itu kepada pengikut ISIS lainnya, Ummi Abza, tentang rencananya. Pada saat itu, Abza hanyalah teman Facebook; Novi bahkan belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.

Novi kemudian bertemu Abza. Perempuan itu memperkenalkan Novi pada Nur Solihin, yang sebelumnya telah direkrut oleh Bahrun Naim, jihadis asal Indonesia yang dikenal oleh ISIS di Suriah dan salah satu anggota ISIS yang dipercaya mendorong aktifnya Jamaah Ansharud Daulah. Kepada Nur Solihin, Novi mengutarakan bahwa Ia ingin menikah sebelum menjadi martir. Nur Solihin setuju menikahinya, mereka kemudian mengikat janji dengan perantara seorang Ustadz di Malang, Jawa Timur, tanpa sepengetahuan orangtuanya. Walaupun, Novi dan Solihin belum pernah bertemu langsung atau bahkan bertukar foto sebelum menikah; Solihin sendiri juga sudah menikah dan memiliki tiga anak.

Setelah menikah, dalam masa persiapan menjadi bomber, baik suami barunya itu dan Bahrun mengatakan kepadanya bahwa Jokowi harus menjadi target utamanya. Mereka mengatakan pada Novi bahwa Jokowi adalah seorang kafir, sama seperti Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. ISIS menganggap Trump telah memusuhi Islam, apalagi setelah presiden Amerika itu mengeluarkan kebijakan ‘muslim ban’.

“Akan ada perang antara Muslim dan Amerika (AS),” kata Novi dengan mimik serius.

Operasi itu akhirnya digagalkan oleh Densus 88. Novi menyerah tanpa perlawanan.

 

Posisi perempuan dan laki-laki dalam jihad

Selama dua tahun terakhir, partisipasi perempuan di tubuh ISIS di Indonesia terus meningkat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah terorisme di Indonesia, pada Desember 2016 polisi menangkap tiga perempuan yang terlibat dalam perencanaan bom bunuh diri: Novi, Arida Putri Maharani dan Tutin Sugiarti.

Bulan Mei lalu, tercatat dua martir perempuan. Yakni Puji Kuswati yang menyerang gereja di Surabaya dengan putri-putrinya, dan Puspita Sari, yang meninggal bersama keluarganya bersama bom yang mereka ledakkan secara prematur di sebuah apartemen di Sidoarjo. Mereka mati sebagai militan ISIS perempuan pertama di Indonesia.

Puji Kuswati - New Naratif
Puji Kuswati and her husband Dita Oeprianto, who attacked three churches with their children. Indonesian Police

Lalu bagaimana pembagian peran perempuan dan laki-laki di ISIS? “Ya, (Tetap) ada perbedaan antara pria dan wanita dalam Islam. Misalnya, dalam jihad, tidak wajib bagi perempuan [untuk berpartisipasi]. Tetapi untuk sekarang, jihad adalah fardhu ain (wajib bagi semua Muslim), seperti sholat, ”kata Novi. Pandangan ISIS, seperti yang ia pahami, adalah bahwa setiap Muslim harus bergabung dalam perang, baik dia laki-laki maupun perempuan.

Meski demikian proritas berjihad sebenarnya tetap pada laki-laki. “Dalam jihad, jika diperlukan maka perempuan baru bisa bergabung,” jelasnya. “Tapi selama laki-laki bisa melakukan jihad, kami akan memprioritaskan mereka untuk melakukan itu,” tambahnya.

Sementara itu, Novi menuturkan, kehadiran brigade perempuan ISIS Indonesia sebenarnya terinspirasi oleh Brigade Al-Khansaa, kelompok brigade ISIS yang semua anggotanya adalah perempuan, misinya mengkader anggota perempuan agar sejalan dengan ide-ide kelompok tersebut dengan praktik yang mereka yakini berasal dari Islam —Dulu, ketika Raqqa masih menjadi markas ISIS, Brigade al-Khansaa pada dasarnya adalah pasukan urusan ‘moral’, mereka memastikan bahwa perempuan tidak muncul di depan umum dan jika harus, maka Ia sebaiknya ditemani oleh laki-laki sebagai pendampingnya.

Dengan latar belakang di atas, Novi menjelaskan bahwa gerakan jihadis perempuan bukan emansipasi. “Jadi ini bukan apa yang disebut sebagai emansipasi jihadis perempuan.”

Posisi perempuan dan laki-laki dalam sistim jihad ISIS makin jelas dalam pembagian peran di strukturnya. Meskipun perempuan-perempuan dari Brigade Al-Khansaa dilatih, dipersenjatai dan bahkan mendapat bayaran, operasi mereka masih tetap dipimpin oleh laki-laki. Hal yang sama berlaku untuk brigade ‘Al Khansaa di Indonesia, tempat Novi bergabung; betapapun kuatnya keyakinan perempuan (untuk berjihad), tapi tetap pria-lah yang menjadi pemimpin. Misal dalam kasus Novi, Nur Solihin, yang juga ditangkap dan dipenjara, yang memimpin operasinya.

“Dalam jihad, jika diperlukan maka perempuan baru bisa bergabung,” jelasnya. “Tapi selama laki-laki bisa melakukan jihad, kami akan memprioritaskan mereka untuk melakukan itu,” tambahnya

Di luar penjelasan di atas, Novi menyematkan pernyataan yang membuat saya terkejut. Ia menduga munculnya jihadis perempuan sebagai martir karena laki-laki di ISIS mungkin memang sengaja menghindari tugas jihad: “Mungkin karena para pengikut ISIS [pria] merasa bahwa mereka masih ingin menikmati hidup mereka dengan istri dan anak-anak mereka. Mungkin mereka takut,” katanya menyindir.

 

Pertanyaan yang belum terjawab  

Jarum jam dinding sudah menunjukkan waktu untuk shalat Ashar, itu berarti kami telah berbincang selama dua jam. Novi mengatakan Ia harus shalat dan Ia meminta saya untuk pulang.

Setelah pertemuan itu, saya merasa gelisah. Sebagai seorang yang menetap di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dengan meningkatnya pengaruh ISIS di negeri ini, saya masih memiliki banyak pertanyaan: berapa banyak anggota brigade perempuan ISIS di negeri ini? Berapa banyak lagi anak-anak yang akan dikorbankan atas nama Negara Islam?

Model bom bunuh diri dengan melibatkan perempuan dan keluarga yang terjadi baru-baru ini belum pernah terjadi sebelumnya.Tidak banyak yang diketahui tentang bagaimana jaringan keluarga menjadi bagian dari ISIS di Indonesia, meskipun beberapa upaya, seperti sekolah-sekolah deradikalisasi, mencoba melakukan penanggulangan untuk mencegah regenenasi teroris.

Karena itu, “Kebutuhan akan pengetahuan ini sangat mendesak,” seperti yang ditulis Sidney Jones, direktur Institut Analisis dan Konflik Kebijakan (IPAC) di Jakarta. “Jika tiga keluarga dapat terlibat dalam dua hari serangan teroris di Surabaya, pasti ada (keluarga lain) yang lebih siap untuk melakukan aksi.”

Dengan adanya serangan teror terjadi di Indonesia selama bulan Ramadan ini, maka hanya ada satu kekhawatiran: Berapa banyak orang seperti Novi di luar sana? Mungkin lebih banyak dari yang kita ketahui dan perkirakan.

 

Jika anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Febriana Firdaus

Febriana Firdaus is an independent investigative journalist based in Jakarta, Indonesia, and is New Naratif's Consulting Editor for Jakarta and Papua. She has reported on politics, corruption, human and LGBT rights, the 1965 purge, Papua, and ISIS. She is an editor of Ingat65, an online project for young people’s perspectives on the legacy of Indonesia’s 1965–66 massacres, and manages the Voice of Papua newsletter. She has previously worked at Tempo and Rappler. Her freelance work has appeared in TIME, BBC Indonesia, Jakarta Post, VICE Indonesia, etc. In 2017, she received the Indonesian Oktovianus Pogau Journalism Award in Courage for her fearless reporting on human rights, including on LGBT issues. She may be contacted at jakarta.papua.editor@newnaratif.com.