Pada 12 April 2020, Lucya Chris Pardede terpaksa pulang ke kampung halamannya di Medan dari Jakarta. Hari itu, ia mendapat kabar bahwa ayahnya, Santun H. Pardede, baru saja meninggal dunia pada usia 79 tahun akibat penyempitan pembuluh darah.

Berbagai pertanyaan segera menyerbu Lucya. “Kenapa ayahku meninggal sekarang? Mengapa ini harus terjadi sewaktu pandemi virus corona?”

Bagaimanapun, tidak ada orang yang tahu kapan kematian akan datang. Ketika ajal tiba, semua orang, baik yang meninggalkan dan ditinggalkan, hanya dapat menghadapinya dengan setegar mungkin. Semua ini dapat terjadi ketika dunia tengah menghadapi situasi terburuk, seperti dikacau-balaukan sebuah pandemi.

Lucya hanya dapat menenangkan dirinya dengan pikiran-pikiran tersebut, yang ia rapalkan di benaknya layaknya doa, selagi ia bergegas menuju Medan.

Namun, tak satu orang pun menduga bahwa Santun akan berpulang saat sedang mempersiapkan tempat peristirahatan terakhirnya.

“Kami sempat heran karena waktu itu Bapak sedang pergi ke Balige untuk mengurus lahan pemakamannya. Memang itu sudah lama dipersiapkannya sendiri agar kami, anak-anaknya, tidak direpotkannya nanti ketika dia sudah meninggal,” terang Lucya pada New Naratif.

Santun menempuh perjalanan enam jam dari Kota Sidikalang ke Balige, Kabupaten Toba, dan tengah mengurus lahan makam yang ia siapkan untuk dirinya sendiri ketika ia tiba-tiba diserang rasa sakit yang hebat. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Vita Insani di Pematangsiantar—yang memakan waktu empat jam dari Balige—tapi nyawanya tidak tertolong. Santun menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tersebut.

“Keluarga sudah berusaha untuk membawanya ke rumah sakit yang lebih baik. Namun, mungkin itulah waktunya Bapak pergi,” kata Lucya.

“Keluarga sudah memutuskan acara adat baru akan dilakukan nanti, setelah pandemi berakhir. Sebab, semasa hidupnya Bapak sudah mempersiapkan semua hal untuk kematiannya.”

Bagaimanapun, keluarga Lucya segera menyadari bahwa urusan kematian bukan perkara mudah di masa pandemi corona—terlebih karena adat Batak mereka mewajibkan ritual kematian yang begitu saklek ketika orangtua mereka meninggal.

Arahan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial—serta ketakutan orang-orang akan infeksi virus corona—pada akhirnya membuat Lucya dan keluarganya terpaksa menunda pelaksanaan ritual untuk mendiang ayah mereka, yang orang Batak sebut sebagai adat. Padahal, mereka sempat meminta surat kematian dari pihak rumah sakit sebagai bukti bahwa sang ayah tidak mengidap COVID-19, yang kemudian diteruskan ke pihak kepolisian untuk memperoleh izin melakukan penguburan sederhana.

Pada akhirnya, keluarga Lucya memilih untuk berkompromi. Mereka memutuskan untuk membalsem jenazah sang ayah, memasukkannya ke dalam sebuah kubur batu di atas tanah, kemudian membiarkannya di sana hingga pandemi berakhir dan proses penguburan dapat berlangsung sesuai adat.

“Acara pemakamannya sangat singkat. Keluarga sudah memutuskan acara adat baru akan dilakukan nanti, setelah pandemi berakhir. Sebab, semasa hidupnya Bapak sudah mempersiapkan semua hal untuk kematiannya. Itu harus [tetap] dilakukan,” jelas Lucya.

Sejumlah Pertanda Awal

Kehidupan masih berlangsung normal di Indonesia sepanjang Januari hingga Februari 2020, meskipun kabar tentang keganasan COVID-19 yang tengah menelan korban di Wuhan, Tiongkok, sudah menjadi tajuk utama berita domestik nyaris setiap hari.

Keadaan ini berbalik 180 derajat ketika pemerintah mengumumkan kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada 3 Maret 2020. Ibarat gunung es yang tiba-tiba runtuh ke laut, Indonesia, yang selama ini disebut aman dari jangkauan pandemi global tersebut, mendadak masuk dalam kondisi siaga tinggi. Pada hari berikutnya, Presiden Joko Widodo mengumumkan agar masyarakat mulai memberlakukan pembatasan jarak sosial (social distancing) dengan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah.

Pada 2 September 2020, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 177.000 jiwa, dengan pulau Jawa sebagai titik penyebaran virus paling besar. Namun, pada titik ini hampir tidak ada daerah di Indonesia yang benar-benar bebas dari ancaman virus corona. Sementara itu, tingkat kematian nasional telah mencapai angka 7 persen.

Di Sumatera Utara, kasus kematian pertama akibat COVID-19 terjadi pada 17 Maret. Sang korban, Ucok Martin, merupakan seorang dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Adam Malik dan baru saja melakukan perjalanan dinas ke Yerusalem dan Italia bersama sejumlah dokter lainnya. Foto-foto pemakaman sang dokter pun segera tersebar pada berbagai grup WhatsApp marga Batak di Sumatera Utara. Hanya beberapa orang yang tampak datang melayat ke rumah duka, sementara acara pemakaman hanya dihadiri oleh anggota keluarga, pendeta, serta dua atau tiga orang kerabat dekat.

Dalam budaya Batak, seseorang yang berprofesi sebagai dokter bisa dikatakan menempati posisi tinggi di masyarakat. Acara kematian bagi orang-orang seperti Ucok Martin biasanya akan dihadiri oleh banyak orang dan dapat berlangsung hingga berhari-hari. Pemakaman yang begitu sepi dan sederhana, sebaliknya, terasa cukup menyedihkan.

Bagi orang-orang Batak yang melihatnya, foto pemakaman Ucok Martin adalah kemalangan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya—dan menjadi pertanda awal akan dampak pandemi COVID-19 terhadap kehidupan budaya dan adat mereka. Seiring bertambahnya angka korban jiwa di Sumatera Utara, ritual pemakaman sederhana bahkan menjadi kemewahan yang sulit dilakukan. Kini, semua orang yang meninggal sebagai Orang Dalam Pengawasan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) harus dimakamkan sesuai protokol dalam kuburan massal di TPU Muslim Simalingkar B di Kota Medan.

Semua sakralitas ritual kematian, beserta filosofi Batak yang melingkupinya, setelah itu bak menguap ke udara.

Semesta Adat Batak

Orang Batak tidak dapat dilepaskan dari ritual adat mereka, yang menandai seluruh peristiwa penting dalam kehidupan. Terdapat ritual yang harus dilaksanakan ketika seorang bayi masih berada dalam kandungan, ketika mereka lahir, dibaptis, meninggalkan rumah, bertunangan, hingga menikah.

Menurut budayawan Batak Thompson Hutasoit, berbagai ritual adat tersebut dijiwai oleh Dalihan Natolu—sebuah sistem filosofi Batak yang mengatur hubungan kekerabatan mereka. Dalihan Natolu terdiri dari tiga prinsip, atau elemen, yang saling menghormati satu sama lain:  Somba Marhula-hula (hormat kepada pemberi pengantin perempuan atau istri), Elek Marboru (bersikap membujuk kepada pihak penerima istri), dan Manat Madongan Tubu (saling menghormati kepada sesama satu marga).

“Itu merupakan adat dalam suasana sukacita. Ada lagi adat habot ni roha, atau adat dalam dukacita dan bencana,” jelas Thompson.

Sebuah keluarga Batak berkumpul menjalankan upacara kematian.
Sebuah keluarga Batak berkumpul menjalankan upacara kematian. Dokumentasi keluarga Wesly Marpaung

Masyarakat Batak juga mengenal sejumlah ritual kematian spesifik yang wajib dilaksanakan berdasarkan kondisi atau waktu kematian setiap orang. Ritual-ritual tersebut memiliki sebutan yang berbeda, seperti mate di bortian (kematian seorang janin dalam kandungan akibat keguguran), mate posoposo (kematian anak di bawah usia satu tahun), mate dakdanak (kematian anak di atas usia satu tahun), mate bulung (kematian di usia remaja), hingga mate ponggol atau mate matipul (kematian saat usia dewasa dan belum menikah).

Selain itu, ritual kematian bagi orang Batak yang sudah menikah dibagi pula berdasarkan tahapan hidup anak-anak mereka. Terdapat mate diparalang-alangan (mati setelah menikah, tetapi belum memiliki keturunan), mate mangkar (mati meninggalkan anak-anak yang masih kecil), mate hatungganeon (mati meninggalkan anak-anak yang sudah dewasa, tetapi belum menikah), mate sari matua (mati ketika belum semua anak menikah), mate saur matua (mati ketika semua anak sudah menikah), mate saur matua bulung (mati ketika anak sudah memiliki cucu), serta mate sumalin (kematian seorang ibu waktu melahirkan).

“Untuk semua kematian itu, adat berjalan sesuai kondisi kematian,” jelas Thompson.

Adat kematian bagi orang yang belum berkeluarga umumnya dilakukan secara singkat dan sederhana. Sebaliknya, kematian dalam kondisi sari matua maupun saur matua mengharuskan ritual yang lebih kompleks, dimana pelaksanaan adat disesuaikan dengan tingkatan generasi seseorang dalam keluarga masing-masing berdasarkan ketentuan Dalihan Natolu. Ketentuan ini juga berlaku dalam adat panakkokhon saring-saring (mangungkal holi, pahothon batu na pir/tambak), yakni ritual mengangkat tulang belulang jenazah yang sebelumnya sudah dimakamkan untuk dipindahkan ke dalam peti mayat baru.

Dalam situasi normal, ritual kematian Batak bisa berlangsung selama tiga sampai empat hari—suatu hal yang mustahil dilakukan dalam masa krisis.

Singkatnya, filosofi Dalihan Natolu berfungsi sebagai fondasi yang teramat penting dalam setiap pelaksanaan adat Batak. Namun, praktik budaya merupakan hal yang dapat berubah—termasuk oleh pandemi.

Menurut Thompson, filosofi yang mendasari ritual adat, khususnya ritual yang berkaitan dengan kematian, juga harus mempertimbangkan kebutuhan manusia yang masih hidup. “Sesungguhnya adat untuk na Saur Matua sudah dapat dilakukan sewaktu hidup. Ketika meninggal hanya tinggal pelaksanaan upacara sesuai religi atau agama yang dianut,” usulnya.

“Orang mati tidak mengetahui lagi kalau adat dilaksanakan atau tidak waktu kematiannya,” ujar Thompson.

Hal serupa juga dinyatakan M. Tansiswo Siagian, seorang novelis Batak dan aktivis budaya di Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak. Ia menjelaskan bahwa acara adat Batak, seperti ritual kematian untuk orang yang telah saur matua, memang dapat memakan waktu yang lama. Namun, saat ini berbagai ritual tersebut telah disesuaikan—dengan sejumlah perbedaan di wilayah tertentu—sembari tetap berpegang pada prinsip Dalihan Natolu.

“Adat itu tidak lagi seragam prinsip dan tata laksananya. Semua hanya berpatokan pada kesepakatan Dalihan Natolu dan pemangku adat,” katanya pada New Naratif.

“Orang mati tidak mengetahui lagi kalau adat dilaksanakan atau tidak waktu kematiannya.”

Dengan kata lain, kondisi pandemi memang memungkinkan sejumlah ketentuan adat untuk dikesampingkan sementara waktu. Di sisi lain, Tansiswo pun meramalkan bahwa semua prinsip dasar, tata laksana, dan teknis pelaksanaan adat Batak tidak akan pernah diterapkan dengan sama lagi—bahkan setelah wabah lama berlalu.

“Demikian juga adat saur matua itu, pasti akan terjadi terjadi degradasi yang signifikan. Sebab apa? Karena tidak lagi standar yang kita sepakati. Juga tidak ada lembaga formal atau non-formal yang diakui untuk mengawasi pelaksanaan adat Batak Toba. Apa yang dilakukan atau tidak dilakukan sekarang akibat wabah ini—semua bisa maklum,” jelasnya.

Sejumlah diskusi daring di antara komunitas Batak turut meramalkan terjadinya revolusi besar terhadap budaya Batak sesuai pandemi COVID-19. Meski demikian, berbagai anggapan ini segera ditepis mengingat kebudayaan bukanlah hal yang terjadi begitu saja, melainkan hasil pembiasaan yang berlangsung untuk waktu yang sangat lama. Mengganti sebuah kebudayaan, karenanya, jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Melepas Dengan Singkat

Pada 29 Maret 2020, Petrus Sitohang menerima kabar dari adik bungsunya bahwa ayah mereka, Pirman Marthin Sitohang, telah meninggal dunia pada usia 83 tahun. Petrus, yang merupakan seorang pengusaha sekaligus politisi, begitu terkejut mendengar kabar itu. Ia terdiam sejenak, dan akhirnya berhasil menemukan rasa damai setelah merenungkan dalam hati bahwa kematian adalah takdir.

Petrus pun terbang dari Kota Tanjung Pinang di Provinsi Kepulauan Riau bersama istrinya, Lenni Purba, menuju Jakarta. Pesawat Garuda yang mereka tumpangi dari bandara Raja Haji Fisabililah hari itu hanya berisi belasan orang penumpang, ditambah awak pesawat. Kabin pesawat begitu lengang. Terlalu lengang.

“Tidak pernah saya mengalami penerbangan dengan penumpang seminim hari itu. Teror yang diakibatkan oleh virus corona telah menimbulkan rasa takut yang luar biasa bagi semua orang,” kisah Petrus kepada New Naratif.

Perayaan acara pesta Batak di sebuah wisma.
Perayaan acara pesta Batak di sebuah wisma. Tonggo Simangunsong

Selama penerbangan, Petrus terus memikirkan bagaimana pemakaman ayahnya akan dilakukan pada masa pandemi. Ia sudah menerima pesan dari adiknya bahwa proses yang akan dijalankan keluarga mereka nanti akan sangat berbeda dari biasanya. Dalam situasi normal, ritual kematian Batak bisa berlangsung selama tiga sampai empat hari—suatu hal yang mustahil dilakukan dalam masa krisis.

“Di tengah ‘teroris super’ yang tidak kasat mata ini, proses berhari-hari itu harus dipersingkat menjadi maksimal kurang dari satu hari,” ujar Petrus.

Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Petrus dan Lenni langsung bergegas ke RS Dharmais di Jakarta Barat, tempat jenazah ayahnya disemayamkan. Di perjalanan, ia menerima panggilan telepon dari seorang kerabat yang menanyakan posisinya, sekaligus menyampaikan bahwa semua orang sudah berkumpul: mereka hanya tinggal menunggu kehadirannya sebagai anak laki-laki tertua.

Ketika sampai di ruang duka RS Dharmais, Petrus menemui bahwa saudara-saudaranya sudah menyusun acara sedemikian rupa—menggabungkan prosesi penghormatan dan perpisahan secara adat Batak, serta menghibur para pelayat yang berduka dengan ritus Kristiani.

Namun, praktik budaya merupakan hal yang dapat berubah—termasuk oleh pandemi.

Prosesi adat Batak ditandai dengan pemberian Ulos Saput, kain tenun tradisional Batak, dari pihak marga ibu dari ayahnya, yakni marga Pandiangan. Seusai meletakkan Ulos Saput di atas tubuh sang ayah, berikutnya Ulos Sampe Tua diberikan oleh pihak marga ibunya, Pakpahan, untuk diletakkan di atas kepala sang ibu. Terakhir, pihak keluarga memberikan ucapan dan tanda terimakasih kepada marga Pandiangan dan Pakpahan atas kehadiran dan pemberian ulos mereka.

Petrus mengatakan bahwa ayahnya sudah saur matua: ia memiliki dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang semuanya telah menikah dan memiliki keturunan. Dua orang cucu Pirman pun sudah menikah juga, dan telah memberinya empat orang cicit. Dalam budaya Batak, keturunan merupakan hidup dan kekayaan. Mereka meyakini filosofi “Anakkon hi do hamoraon hu di ahu“—anakku adalah harta dan kekayaanku.

“Dalam alam budaya Batak, situasi kematian ayah saya dikategorikan sebagai peristiwa saur matua. Ini selayaknya dirayakan sebagai peristiwa bahagia, karena keberuntungan hidup yang diterima ayah saya termasuk lengkap,” terang Petrus.

Dalam situasi pandemi, semua ungkapan syukur tersebut terpaksa dimodifikasi sesingkat mungkin. Hal ini, kata Petrus, bukan karena ayahnya terinfeksi virus—Pirman bahkan tidak masuk kategori ODP—melainkan karena semua orang sudah terlalu ketakutan untuk bertemu satu sama lain, apalagi mengikuti adat kematian yang dapat berlangsung berhari-hari dan dihadiri ratusan, bahkan ribuan orang.

“Situasi kematian ayah saya dikategorikan sebagai peristiwa saur matua. Ini selayaknya dirayakan sebagai peristiwa bahagia.”

Hanya sekitar belasan orang di luar keluarga besar Petrus yang hadir menghibur keluarganya sejak di RS Dharmais, mengikuti mereka hingga ke tempat pemakaman di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Ia mensyukuri hal ini, dan melihat mereka sebagai suruhan Tuhan untuk menemani keluarganya yang tengah berduka.

“Sampai di rumah orang tua saya, saya merenung. Kenapa semua berjalan begitu lancar dan baik? Padahal semua tanpa direncanakan dan dikoordinasikan?” tanya Petrus pada dirinya sendiri. Pada akhirnya, ia meyakini itu semua karena ayahnya seorang Kristen yang taat. Pirman Martin Sitohang adalah orang pertama dari keluarganya yang menjadi pengikut Kristus, dan dibaptis sebagai seorang Katolik.

“Ayah saya pergi ke rumah Bapanya di sorga untuk berdoa bagi kami, anak-anak, cucu dan cicit-cicitnya yang masih di dunia ini,” kata Petrus.

“Ia menyiapkan tempat yang baik bagi kelak, saat waktunya tiba bagi kami untuk berkumpul kembali bersama-sama nanti.”

Author

Tonggo Simangunsong

Tonggo Simangunsong is a journalist based in Medan, Indonesia. He began his career in 2005 writing for the newspaper Medan Global Daily. In 2007 he became the editor of the indie magazine 9PM. He was the Managing Editor of KOVER Magazine (2009-2012), the Daily Editor of MedanBisnis (2012-2018), and a correspondent for VENUE Magazine (2012 – 2019). His writing has been published in Visual Art Magazine, Medantalk.com, HAI Magazine, and the Portal of Creative Indonesia. He loves to write about culture, travel and social life. He also writes a newsletter at narasi.substack.com

Now that you're here, we have a favour to ask...

New Naratif is a movement for democracy, freedom of information, and freedom of speech in Southeast Asia (see our manifesto). Our articles report on issues that are often overlooked or suppressed by the mainstream media in Southeast Asia. We rely on our members for their support. Every cent of your membership fee goes to supporting our research, journalism, and community organisation activities. Your support enables us to be editorially independent and to conduct hard hitting independent research and journalism. It allows us to give a voice to the powerless and to hold the powerful accountable. Our members are active participants in our movement, helping us to create content and informing us about important issues, which shapes our coverage and content. Join our movement and let us, together, build a better Southeast Asia. Please subscribe to New Naratif—it’s just US$52/year (US$1/week) or US$5/month—and it only takes a minute. If you’d like to learn more, and read more articles, please start here! Thank you!

Subscribe

Get the Newest Naratif

Sign up for our Weekly Newsletter or join our Telegram Chat to get the scoop on matters concerning Southeast Asia

Join our newsletter

Newsletters go out every Thursday.

Sign Up For Telegram Updates