Mohammad Noyeem, seperti yang diceritakan kepada Aisyah Llewellyn

PERINGATAN: Beberapa foto dalam artikel ini mungkin terlihat mencolok dan menganggu.

Keluarga dan teman-teman saya di Myanmar dan Bangladesh selalu mengirimkan saya foto-foto apa yang terjadi di sana. Terkadang saya mengenali orang di dalam foto-foto tersebut – mereka dulunya adalah tetangga saya. Saya dari Shilkali (Chinkali), yang terletak di Kecamatan Rathedaung, dan situasinya sedang mencekam. Sekarang sudah terbakar habis dan tidak ada seorangpun tinggal di sana. Saya dihadapkan dengan genosida di Myanmar. Biksu-biksu selalu mencegat Rohingya di jalan sehingga mereka tidak bisa pergi ke sekolah. Kemudian mereka menjadikan kami pekerja manual yang tidak diberikan upah atau makanan. Saya pergi di tahun 2015 melakukan perjalanan ke Indonesia saat saya berumur 15 tahun, tetapi hingga hari ini tidak ada kabar baik untuk Rohingya. Situasinya tidak berubah sama sekali. Itu sebabnya saya ingin media mempublikasikan foto-foto yang ada di handphone saya.

Saya adalah salah satu dari tujuh bersaudara dan sekarang ayah, ibu, saudara laki-laki dan perempuan saya sedang di Kamp Pengungsian Balukhali di Bangladesh. Ayah memberitahu kepada saya bahwa penting menunjukkan situasinya kepada dunia. Situasinya sangat mengerikan dan Rohingya adalah orang yang paling teraniaya di dunia. Keluarga saya selalu mendorong saya untuk membagikan kisah kami kepada setiap orang yang mau mendengarkannya.

Hampir semua foto-foto yang ada di handphone saya berasal dari desa saya Shilkali. Tetapi banyak masyarakat di luar Myanmar tidak mengetahui cerita tentang desa saya, itulah mengapa sangat penting untuk dipublikasikan. Saya ingin dunia melihat apa yang mereka lakukan terhadap kami di sana. Keluarga saya masih berada di Shilkali pada tanggal 25 Agustus 2017 ketika militer Myanmar, pasukan keamanan dan masyarakat Rakhine secara diam-diam berencana untuk menyerang desa kami. Tepat jam satu pagi saat orang-orang masih tidur dalam rumah, mereka mengepung desa dan mulai menembakkan roket langsung ke rumah-rumah. Orang-orang berlarian secepat yang mereka bisa. Namun banyak orang yang tidak berlari   keluar rumah saat itu karena mereka sedang tertidur. Mereka mati seketika di dalam rumahnya. Tidak setiap orang yang berlari ke luar rumah selamat karena mereka ditembak saat mereka berusaha untuk melarikan diri. Banyak orang tua dan anak-anak meninggal dunia karena mereka tidak cukup cepat untuk melarikan diri. Sekitar 150 orang meninggal dunia pada saat itu, sebagian besar wanita, orang tua, dan anak-anak karena mereka ditembak atau tewas terpanggang di dalam rumah mereka.

Teguh Harahap

Ayah saya mengatakan kepada saya bahwa militer menargetkan orang tua seperti Kepala Desa karena merekalah yang bisa berbicara sedikit dalam bahasa Inggris. Mereka tahu bahwa jika mereka melarikan diri mereka bisa memberitahu kepada dunia tentang situasi di Shilkali sehingga mereka membunuhnya terlebih dahulu dikarenakan mereka punya pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi sekarang kami memiliki foto-foto yang kami juga bisa menunjukkannya kepada orang-orang bahkan walaupun jika kami tidak dapat menjelaskan semuanya kepada mereka dikarenakan kami tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Mereka berusaha mengambil handphone banyak orang di desa dan mereka membunuh orang-orang yang mengambil foto karena mereka ingin berbohong mengenai apa yang terjadi di sana. Jadi sekarang jika kami punya foto-foto kami, akan memberikannya kepada setiap orang yang memintanya kepada kami. Sebanyak yang anda mau.

Orang-orang di Shilkali yang selamat, termasuk keluarga saya berlari ke dalam hutan terdekat dan tinggal disana selama lima hari tanpa makanan atau tempat berlindung. Mereka tidak punya apa-apa untuk dimakan sehingga setelah lima hari mereka kembali ke desa untuk mengambil beras yang sudah terbakar. Mereka melihat  sekitar delapan puluh orang telah tewas dibantai di ladang. Mereka dengan sengaja menargetkan orang-orang untuk dibunuh dengan langsung menembaki mereka. Sekitar 800 rumah telah dibakar pada hari yang sama. Banyak orang yang berada di dalam hutan terluka dengan beberapa luka tembak namun tidak ada obat yang tersedia sehingga mereka meninggal tanpa perawatan. Keluarga saya melakukan perjalanan dua belas hari melintasi gunung untuk menyelamatkan diri dari pembunuhan brutal sampai mereka tiba di perbatasan Bangladesh. Ayah saya memberitahukan kepada saya mereka makan dedaunan dan meminum air hujan untuk bertahan hidup. Kapanpun saya melihat foto-foto yang dia kirim kepada saya, membuat saya teringat tentang horor di Shilkali. Saya tidak bisa melupakannya.

Keluarga saya tidak berpendidikan dan mereka tidak bisa bebicara dalam bahasa Inggris. Saat pertama kali saya tiba di Indonesia pada tahun 2015, saya bahkan tidak tahu alfabet bahasa Inggris. Namun saya bisa belajar bahasa Inggris setiap hari dan saya bisa menjelaskan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain di Myanmar dan Bangladesh. Keluarga dan teman-teman saya mengetahui ini sehingga mereka meminta saya berbicara untuk mereka. Sekarang saya akan berbicara kepada semua orang. Siapapun yang ingin mendengar tentang genosida dan pembersihan etnis di Myanmar. Saya akan mengirimkan mereka semua foto-foto yang saya punya.

Masalahnya adalah bahwa pemerintah Myanmar ingin menutupi ini. Mereka telah menolak kewarganegaraan bagi Rohingya selama bertahun tahun dan sekarang mereka melakukan hal lain. Rencana mereka adalah menghilangkan Rohingya dari Myanmar. Mereka memanggil kami dengan sebutan Bengali dan mengatakan ini bukan negara kalian. Desa kami telah dikepung dan diserang selama bertahun-tahun. Dari tahun 2012 kami tidak bisa keluar atau melakukan perjalanan di sekitar Myanmar dengan mudah. Jadi untuk waktu yang lama kami tidak bisa menceritakan kisah kami dan tidak ada seorang pun tahu apa yang sedang terjadi pada kami. Sekarang orang-orang telah melarikan diri dan kami akhirnya bisa memberitahukan kepada dunia. Dan juga sekarang kami memiliki foto-foto.

Saya aman di Indonesia dan saya akan ditampung di Portland, Amerika Serikat di mana saya bisa belajar. Saya merasa senang dan beruntung karena hal itu, dan saya berharap suatu hari nanti keluarga saya bisa datang dan bergabung dengan saya di Amerika Serikat. Karena ini situasi yang saya alami, tentu saja saya merasa ini tugas saya untuk membagikan informasi mengenai saudara laki-laki dan perempuan saya di Myanmar kepada dunia. Saya merasa mempunyai tanggung jawab besar. Sebagai Rohingya kami harus menjelaskan cerita kami secara detail kepada setiap orang.

Teguh Harahap

Dalam impian saya, saya ingin belajar jurnalis dan politik. Sebelumnya saya selalu ingin menjadi doktor, tetapi sekarang saya ingin menjadi jurnalis sehingga saya bisa menulis artikel mengenai Rohingya. Ini bukan hanya tentang apa yang terjadi hari ini. Genosida ini telah terjadi selama bertahun tahun namun masih belum dihentikan. Dunia tidak memiliki informasi yang akurat tentang Rohingya dan pemerintah Myanmar berbohong mengenai kami sepanjang waktu dan mengatakan bahwa tidak ada pembersihan etnis di Myanmar. Tetapi foto-foto yang kami miliki tidak berbohong.

Foto-foto yang keluarga dan teman-teman  kirimkan kepada saya dari Shilkali sangat mengerikan tetapi memang benar bahwa orang-orang harus tahu tentang mereka. Jika tidak ada foto-foto penderitaan Rohingya maka akan bermasalah. Kami tidak melihat para jurnalis itu buruk bagi Rohingnya, sebaliknya kami memuji mereka karena mencoba untuk membantu. Kami akan menjelaskan situasi di Myanmar kepada siapa saja yang ingin mengetahuinya, bahkan kepada teman-teman yang tidak bekerja untuk media sehingga mereka mengetahui cerita sebenarnya.

Tidak ada banyak cara menceritakan cerita kami jika kami tidak berbicara kepada beberapa media. Saya menggunakan Facebook, Twitter dan Instagram untuk menulis apa yang terjadi di Myanmar dan juga mempublikasikan foto-foto dari keluarga dan teman-teman yang dikirimkan kepada saya. Saya tidak bisa berbuat banyak. Namun banyak Rohingya lainnya tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik jadi mereka tidak bisa melakukan hal ini. Saya berbicara kepada jurnalis dan menceritakan cerita saya kepada UNCHR saat mereka memproses permohonan pengungsian saya untuk ditampung di Amerika Serikat. Ketika pemerintah Amerika berbicara kepada saya mereka bertanya apakah saya pernah membunuh seseorang di Myanmar atau apakah saya pernah memukul orang. Mereka tidak mengerti situasinya dan bertanya pada saya apakah hal ini tentang agama atau pembersihan etnis. Tetapi saya tidak takut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ini tentang genosida.

Sulit mendengar bahwa orang-orang tidak ingin melihat foto Rohingya karena foto-foto tersebut mengganggu. Saya tidak mengerti mengapa mereka tidak ingin melihatnya. Orang-orang harus melihatnya meskipun foto-foto tersebut mengerikan dan juga menyeramkan. Saya mendengar cerita tentang apa yang terjadi setiap hari di sana dari keluarga saya, namun melihat foto-foto lebih baik ketimbang membaca ceritanya. Orang akan memahaminya lebih mudah. Saya merasa sedih jika orang berpikir bahwa foto-foto tersebut tidak asli. Sekarang ada banyak foto-foto di seluruh internet mengenai Rohingya, jadi anda bisa melihat bahwa kami tidak berbohong. Jika anda ketik “Rohingya Genocide” di Google sekarang, begitu banyak foto-foto mengenai apa yang militer Myanmar dan masyarakat Rakhine lakukan terhadap kami. Jadi itu sangat bagus.

Jika orang melihat foto-foto tersebut, maka mungkin seseorang akan menghentikan apa yang sedang terjadi di Myanmar. Kemudian akan menjadi damai lagi dan saya bisa kembali.

 

Jika anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Aisyah Llewellyn

Aisyah Llewellyn is a British freelance writer based in Medan, Indonesia, and New Naratif's Consulting Editor for North Sumatra. She is a former diplomat and writes primarily about Indonesian politics, culture, travel and food. Reach her at northsumatra.editor@newnaratif.com.

Teguh Harahap

Teguh Harahap is a freelance writer and translator based in Medan, Indonesia. Previously he worked as the editor of Koran Kindo, a weekly newspaper for Indonesian migrant workers based in Hong Kong.