Noyeem wants the world to see the pictures he has been sent by family and friends. Teguh Harahap

Foto-foto dari Krisis Rohingya: Sebuah Rangkaian Dilema

Author: Aisyah Llewellyn, Teguh Harahap
Published:

PERINGATAN: Beberapa foto dalam artikel ini mungkin terlihat mencolok dan menganggu.

Mohammad Noyeem, seorang pengungsi Rohingya, melihat sebuah foto yang tampaknya menunjukkan seorang perwira polisi Myanmar memotret mayat yang sudah membengkak di sebuah persawahan. Saat ditanya apakah pria tersebut memakain seragam resmi kepolisian dan apakah dia mengenali korban, remaja berusia 18 tahun itu mendorong handphone tersebut dan berkata, “Saya tidak sanggup.” Dia telah melihat foto-foto mayat dan mengidentifikasi mereka selama lebih dari satu jam.

Selama tiga tahun,  Noyeem tinggal di sebuah kamp pengungsian di Medan, Indonesia, di mana New Naratif mewawancari dia. Dia telah pindah ke Amerika Serikat untuk menetap di Portland. Dia luput dari kekejaman yang terjadi di Provinsi Rakhine di Myanmar saat dia masih berumur 15 tahun dan memiliki foto-foto  di handphonenya yang dikirim oleh abang iparnya, Samsualom, yang melarikan diri ke Malaysia lima tahun lalu. Semenjak saat itu Samsualom selalu mengumpulkan foto-foto yang dikirimkan ke dia oleh teman-teman dan keluarganya di Rakhine. Noyeem juga memiliki foto ayahnya dan teman-teman dia yang lain di kamp pengungsian di Bangladesh. Foto-foto tersebut menunjukkan tindakan kekerasan yang hampir tidak terbayangkan, tetapi Noyeem dan para pengungsi lainnya yang tinggal di Hotel Beraspati di Medan ingin agar foto-foto tersebut dipublikasikan oleh media asing.

“Kami tidak berbohong, dunia harus melihat ini,” selalu mengatakannya berulang kali.

Foto-foto yang dimiliki Noyeem dan para pengungsi lain di handphone mereka menampilkan kebrutalan yang secara gamblang dan mengejutkan… Handphone Noyeem seperti sebuah galeri horor

Namun untuk mempublikasi foto-foto tersebut menghadirkan serangkaian dilema bagi jurnalis, meskipun para pengungsi sendiri mendesak kami untuk melakukannya.

Foto-foto yang dimiliki Noyeem dan para pengungsi lain di handphone mereka menampilkan kebrutalan yang secara gamblang dan mengejutkan. Foto-foto tersebut menampilkan mayat-mayat berlumuran darah yang tergeletak di selokan dan korban-korban dengan luka sabetan benda tajam yang serampangan, termasuk dengan kepala yang terputus. Beberapa foto menunujukkan wanita dibakar di atas api yang menyala. Foto lain menunjukkan bayi bayi yang tewas tergeletak di parit atau dibakar di atas lembaran seng dengan nyala api dibawahnya. Ada foto wanita yang sudah dimutilasi yang tampaknya telah diperkosa sebelumnya. Beberapa orang dalam foto-foto tersebut terlihat seperti mereka telah ditembak. Handphone Noyeem seperti sebuah galeri horor.

 

Seberapa kerasnya tindak kekerasan?

Mempublikasikan, atau tidak? Hal ini merupakan dilema moral bagi editor yang harus membahasakannya. Sebagaimana Roger Tooth, kepala fotografi di The Guardian, mengatakan dalam sebuah tulisan pada tahun 2014, setelah gempuran di Gaza dan kecelakaan MH17 di atas Ukraina: “Jika anda telah tewas karena kekerasan dan kematian yang tidak adil, tidakkah anda ingin dunia mengetahui semua detail seputar kematian tersebut? Di sisi lain, dalam menampilkan gambar-gambar tersebut, apakah kita boleh jadi memberi makan mesin propaganda dan memicu lebih banyak konflik?”

Mempublikasikan gambar-gambar yang gamblang juga bisa menjadi percuma, jika digunakan sebagai pemikat sensasional untuk penayangan. Langkah seperti itu bukan hanya gagal untuk membantu,  karena juga menumpuk lapisan dari eksploitasi lain terhadap individu yang sudah dianiaya, menjadikan yang telah mati dan terluka menjadi objek daya tarik untuk memuaskan sebuah rasa keingintahuan audiens yang tidak wajar.

Dan jika foto-fotonya terlalu gamblang yang orang sendiri tidak bisa melihatnya, maka upaya para jurnalis membantu para korban akan percuma. Jika orang berhenti membaca sebuah artikel karena mereka tertekan oleh foto-foto di dalamnya, maka kami telah gagal dalam tujuan kami untuk memberitahu suatu cerita penting di depan sebanyak orang mungkin.

A photograph appears to show a police officer photographing a corpse in rice paddy. Teguh Harahap

Jadi terlampaukah jauhnya ketika menyangkut gambar-gambar kekerasan, dan seberapa banyak harahapan kita agar publik memakluminya? Dalam buku War Porn, fotografer Christoph Bangerts mengemukakan pertanyaan: “Bagaimana mungkin kami menolak mengakui representasi gambar hanya dari sebuah peristiwa mengerikan belaka, sementara orang lain dipaksa untuk hidup melalui peristiwa mengerikan itu sendiri?”

Ini merupakan hal yang wajar, tetapi gambar-gambar di handphone Noyeem akan menantang, bahkan editor fotografi yang paling tabah sekalipun. Dalam kasus pada wanita dan anak-anak khususnya, banyak dari mereka yang ditelanjangi atau dimutilasi. Sementara kematian mereka yang kejam layak didokumentasi, martabat mereka dalam kematian seharusnya juga dipertahankan. Sulit untuk mengetahui di mana harus menarik garis.

Menurut kantor berita Agence France Presse (AFP), ini tentang apa pentingnya menyampaikan arti dari apa yang terjadi di lapangan: “Tujuannya bukan untuk kejutan atau sensasionalitas, tetapi memberitahu. Dan itu berarti menunjukkan, dalam batas-batas tertentu, dampak konflik dari orang-orang yang hidup di zona pemberontak atau area yang dikuasai rezim. Jika tidak melakukan hal tersebut berarti menghilangkan hak kemanusiaan para korban”.

 

Persoalan dan pembuktian

Faktanya bahwa banyak foto yang berasal dari Rakhine belum diverifikasi (dan sangat sulit untuk diverifikasi) yang menambah kompleksitas dan ambiguitas moral lainnya kepada persoalan mempublikasi. Hampir semua foto-foto yang diberikan para pengungsi di Hotel Beraspati terlihat seperti diambil dengan menggunakan telepon seluler, kebanyakan diambil dari jauh. Pencarian cepat juga menemukan beberapa dari foto tersebut secara online, dipublikasikan di blog dan halaman media sosial. Banyak orang Rohingya mengambil foto menggunakan handphone ketimbang menggunakan kamera, kemudian segera mengunggahnya ke internet di mana foto-foto tersebut tersebar dengan sendirinya. Bagi banyak jurnalis, memverifikasi foto-foto seperti itu hampir tidak mungkin, meskipun beberapa kantor berita memiliki langkah lain.

Satu kantor berita yang unggul dalam verifikasi foto adalah Agence France Presse (AFP), yang menggunakan jaringan wartawan setempat atau ‘jurnalis warga’ untuk mengambil foto di berbagai tempat seperti Syria. Untuk verifikasi foto, mereka memeriksa metadata dari foto tersebut dan mereferensi silang foto-foto tersebut dengan informasi dari Google Maps untuk mengidentifikasi tanda-tanda yang dari daerah setempat tersebut. AFP merupakan salah satu dari beberapa kantor berita di dunia dengan perangkat lunak yang canggih dan laboratorium foto di Paris yang mengotentikasi foto-foto. Kebanyakan ruang redaksi yang lebih kecil tidak memiliki sumber daya untuk melakukan hal ini.

Noyeem mengidentifikasi wanita-wanita tersebut merupakan para ibu rumah tangga dari Shilkali. Teguh Harahap

Ketika Noyeem melihat foto-foto yang dikirimkan oleh abang iparnya di Malaysia dan juga yang dikirim oleh ayah beserta saudara-saudaranya di Bangladesh, dia mengatakan kalau dia mengenali tempat-tempat yang berada disekitar kampung halamannya di Shilkali, khususnya daerah di tepi sungai. Dia juga mengenali beberapa orang dalam foto-foto tersebut. Satu foto memperlihatkan tiga wanita  tewas tergeletak di kubangan, dan Noyeem berkata bahwa abang iparnya memberitahu dia kalau mereka adalah ibu rumah tangga, meskipun dia tidak ingat nama-nama mereka. Dalam foto lain, Noyeem mengidentifikasi seorang pria yang kelihatan kaki bagian bawahnya telah terpotong, Noyeem mengatakan bahwa pria itu adalah seorang nelayan yang tinggal di ujung Shilkali, jadi dia tidak mengenalnya dengan baik.

Dari semua foto, hanya satu orang yang namanya teridentifikasi secara positif oleh Noyeem; seorang pria paruh baya, dia panggil namanya Antamia yang terbaring tewas di tanah, berlumuran darah. Noyeem mengatakan mayat tersebut berumur sekitar 60 tahun, pernah berkerja sebagai kepala desa, memberikan bimbingan kepada anak-anak muda di Shilkali. Noyeem beranggapan bahwa dia memang sengaja dijadikan target karena pria itu mempunyai otoritas di desa tersebut. Dia menceritakan semua ini secara blak-blakan, namun ketika ditanya bagaimana perasaan dia saat melihat foto tersebut, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Sedih, dia pria yang baik.”

Noyeem mengidentifikasi pria ini sebagai Antamia dan mengatakan bahwa pria tersebut merupakan salah satu sesepuh di desa. Teguh Harahap

Tetapi tidak cukup bahwa satu sumber mengklaim mengetahui orang-orang dalam foto tersebut dan mengatakan bahwa mereka dari Shilkali. Noyeem memberikan nama-nama orang yang mengirimkan foto-foto tersebut, seperti abang iparnya Samsualom dan temannya Rayullah yang saat ini berada di Bangladesh. Namun pada akhirnya mereka masih hanya entitas di handphone yang tidak diketahui. Tidak jelas siapa yang mengambil foto-foto tersebut, siapa yang memiliki hak cipta, atau kemungkinan jika foto-foto tersebut telah diolah dengan cara tertentu. Sementara itu tidak ada petunjuk bahwa Noyeem tidak mengatakan yang sebenarnya, masalah lainnya yang dihadapi jurnalis ketika merekam testimoni.

 

Keraguan dan tanggung jawab

Jurnalis seperti Hannah Beech dari The New York Times telah menulis mengenai pengalamannya saat melakukan pemberitaan dari kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh. “Dalam satu jam, buku catatan saya telah dipenuhi dengan berbagai kutipan yang menyayat perasaan hati. Hanya sedikit yang benar,” tulisnya.

Seperti yang dikemukakan Beech, alasan mengapa para pengungsi Rohingya terkadang tidak memberitahu kebenaran sepenuhnya bervariasi. Beberapa mungkin percaya bahwa ada kepentingan mereka untuk membuat ceritanya terdengar seperti mengejutkan dan dibuat semenarik mungkin, sehingga jurnalis akan cenderung  mencetaknya dan membuat dunia memperhatikan krisis tersebut. Para pengungsi mungkin juga berjuang dengan perasaan trauma yang membuatnya sulit untuk mengingat kembali detailnya dengan akurat. Inilah alasan mengapa beberapa korban dari kekerasan, seperti perampokan, gagal mengingat wajah penyerang mereka atau membuat kesalahan mengenai waktu dan tanggal. Bisa dimaklumi bahwa penindasan dan kekerasan berat yang dialami para pengungsi Rohingya akan memakan korban.

Seperti yang dijelaskan Beech, mempublikasikan sesuatu yang kemudian ternyata tidak benar dapat menimbulkan konsekuensi yang mengerikan. […] narasi palsu mendevaluasi kengerian asli dari – pembunuhan, perkosaan dan pembakaran massal desa – yang ditimpakan kepada orang-orang Rohingya oleh pasukan keamanan Myanmar. Dan berbagai kisah yang dihias sedemikian itu hanya memperkuat pendapat pemerintah Myanmar bahwasanya apa yang terjadi di Provinsi Rakhine bukan pembersihan etnis, seperti yang dituduhkan komunitas internasional, tetapi tipu daya yang dilakukan oleh penjajah asing.”

Bahkan niat dan tujuan yang terbaik pun akan berakhir menjadi kontra produktif. Artikel Beech sendiri dikritik karena langsung bermain di tangan pemerintahan Myanmar; komentator menanyakan keputusannya memilih individual tertentu, beserta semua poin dari artikelnya. Bahwa beberapa cerita dari para pengungsi kemungkinan bisa salah, tapi bagaimanapun juga tidak mengejutkan para jurnalis, yang berurusan dengan sumber-sumber yang tidak bisa dipercaya setiap saat – dan tidak hanya di kalangan pengungsi, tetapi juga pengusaha, eksekutif hubungan masyarakat, politisi atau perwakilan pemerintah.

Sehingga upaya seorang jurnalis untuk menyampaikan kompleksitas dari pengalaman pelaporannya yang pada akhirnya digunakan oleh pemerintah untuk mediskreditkan atau melemahkan suatu komunitas yang sudah terpinggirkan hanya menunjukkan bagaimana media harus menangani situasi yang begitu rumit secara hati-hati.

 

Keputusan New Naratif

New Naratif meluangkan beberapa waktu berdiskusi, sebagai sebuah tim, bagaimana merespon permintaan Noyeem agar kami mempublikasikan foto-foto miliknya. Kami membahas tentang semua persoalan yang dijelaskan diatas,  mempertimbangkan kapasitas kami, sebagaimana sebuah start-up yang kecil dengan tenaga kerja dan pendanaan terbatas untuk memverifikasi foto-foto tersebut. Kami mengetahui bahwa akan menjadi masalah mempublikasikan gambar-gambar grafis tersebut, namun juga merasa bahwa kami tidak bisa berpaling dari permohonan Noyeem untuk meminta bantuan.

Penting bagi kami bahwa Noyeem digambarkan sebagai lebih dari sekedar korban, tetapi sebagai seorang individu yang memiliki agensi yang berbicara untuk dirinya

Pada akhirnya kami memutuskan untuk mempublikasikan foto-foto yang ditunjukkan Noyeem kepada kami sama seperti pertama kali kami melihatnya: di ponsel dia. Kami juga meminta Noyeem untuk menjelaskan mengapa dia begitu sangat yakin mempublikasi foto-foto ini. Dia memberikan akunnya sesaat sebelum dia berangkat ke Amerika Serikat, dan telah direproduksi dengan penyuntingan yang minimal. Penting bagi kami bahwa Noyeem digambarkan sebagai lebih dari sekedar korban, tetapi sebagai seorang individu yang memiliki agensi yang berbicara untuk dirinya.

Tidak ada jawaban sempurna atau solusi yang mudah bagi para jurnalis yang dihadapkan dengan pelaporan persoalan rumit yang mengakibatkan beberapa penderitaan terburuk di planet ini. Sebagaimana Fred Ritchin, direktur bidang program Fotografi dan Hak Asasi Manusia di Sekolah Seni Tisch di New York, mengatakan: “Tidak ada kalkulasi dalam menentukan cara yang paling efektif untuk menampilkan horor.”

 

Jika anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Aisyah Llewellyn

Aisyah Llewellyn is a British freelance writer based in Medan, Indonesia, and New Naratif's Regional Editor, Deputy Editor for Bahasa Indonesia, and Consulting Editor for North Sumatra. She is a former diplomat and writes primarily about Indonesian politics, culture, travel and food. Reach her at aisyah.llewellyn@newnaratif.com.

Teguh Harahap

Teguh Harahap is a freelance writer and translator based in Medan, Indonesia. Previously he worked as the editor of Koran Kindo, a weekly newspaper for Indonesian migrant workers based in Hong Kong.

If you enjoyed this article...

Join the movement and spread the love

If you enjoyed this article and would like to join our movement to create space for research, conversation, and action in Southeast Asia, please subscribe to New Naratif—it’s just US$52/year (US$1/week)!