Pada tahun 1979, Ker Mao Chhommaradh, yang saat itu berusia 19 tahun, pindah ke Street 184, yang terselip di balik Istana Kerajaan di ibukota Kamboja, Phnom Penh. 10 tahun kemudian, jalan tersebut akan dikenal sebagai “London Street”, yang diwarnai oleh berbagai plang iklan kelas bahasa yang mengubahnya menjadi pusat pembelajaran bahasa Inggris sementara di kota tersebut.

Tetapi pada saat itu, Mao Chhommaradh tidak bisa mengetahuinya. Justru sebaliknya; ia mengatakan larangan belajar bahasa asing waktu itu berarti bahwa para siswa yang berminat, termasuk dirinya sendiri, dipaksa untuk belajar secara rahasia.

“Jika Anda ingin belajar [bahasa Inggris], Anda harus bangun jam 3 pagi,” pria berusia 57 tahun itu menceritakan dengan gaya bicaranya yang sangat tepat, saat berdiri di luar rumahnya di tengah teriknya matahari. “Anda akan belajar di tempat yang gelap, jadi dengan cahaya lilin.” Listrik bukanlah pilihan, karena meningkatkan kemungkinan digerebek oleh pihak berwenang – takdir yang untungnya berhasil ia hindari.

“Kami sangat takut. Mereka berkata, ‘Jika Anda melakukan sesuatu yang salah, kami akan menangkap Anda.’ Kami berpikir, ‘Oh, jika mereka menangkap kita, mereka akan menginjak kebebasan kita.’ Kami tidak tertarik untuk meminta rincian,” kata Chan 49 tahun, yang juga belajar di bawah radar selama larangan tersebut, dan sejak itu telah berkontribusi dalam pembuatan kamus bahasa Inggris-Khmer online.

Larangan Bahasa Inggris

Menurut Chan, bahasa Inggris adalah bahasa yang paling populer untuk dipelajari pada awal tahun 1970an, ketika pemerintah Perdana Menteri Kamboja Lon Nol yang didukung AS berkuasa, karena bahasa itu dilihat sebagai penghubung dengan modernitas dan pembaratan.

Ini berubah setelah pemerintah dijatuhkan pada tahun 1975 oleh rezim Khmer Merah. Pendidikan dilarang dan guru menjadi sasaran sebagai ancaman bagi komunisme. Kecenderungan anti-intelektual yang kejam dari pemerintah berarti menguasi bahasa asing ataupun hanya memakai kacamata—yang diasumsikan menunjukkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi—bisa membuat seseorang dihukum mati. Phnom Penh dievakuasi dan penduduk negara didesak ke pedesaan untuk bekerja di kolektif desa.

“Jika seseorang berbicara bahasa Perancis, bahkan satu kata pun, mereka akan dibunuh … selama Khmer Merah” karena ini adalah tanda pendidikan dan kelas mereka, kata analis politik Kamboja Meas Nee. Ketika rezim tersebut digulingkan oleh sebuah kelompok pemberontak dengan bantuan dari Vietnam pada tahun 1979, pendidikan dikembalikan di negara Kamboja, namun hanya berdasarkan persyaratan pemerintah.

“Bahasa Inggris berasal dari dunia bebas, jadi mereka menganggapnya bersifat kontrarevolusioner”

“Kami bisa belajar bahasa Rusia dan Vietnam karena berasal dari blok komunis,” kata Lim Phai, 53 tahun, yang belajar secara rahasia sebelum mengajar kursus bahasa Inggrisnya sendiri pada tahun 1983. Tapi pembelajaran semua bahasa asing lainnya dilarang, dengan fokus khusus pada bahasa Inggris.

Ada motivasi politik di balik kekhususan itu. “Bahasa Inggris berasal dari dunia bebas, jadi mereka menganggapnya bersifat kontrarevolusioner, karena Anda bisa melihat propaganda dari Barat, jadi itu adalah niat di balik larangan tersebut,” ia menjelaskan.

Tetapi justru hubungan dengan “dunia bebas” ini yang membuat bahasa Inggris begitu menarik. Kemahiran dalam bahasa tersebut dipandang sebagai kunci untuk melarikan diri dari negara tersebut dan menemukan kehidupan yang lebih baik setelah penghancuran dan kekerasan para Khmer Merah dari Pol Pot – sejarawan memperkirakan bahwa rezim tersebut mengatur kematian antara 1.7 dan dua juta orang. Jadi pelajaran bahasa Inggris menjadi rahasia.

Belajar Secara Rahasia

Kelas-kelas disisipkan ke apartemen kuno di gang-gang di seluruh kota. Kelompok yang terdiri dari empat sampai lima siswa dibentuk dari mulut ke mulut di antara teman-teman dan diajar di tengah malam oleh beberapa guru yang bersedia mengambil risiko nasib kemungkinan di razzia oleh polisi.

“Anda harus pergi mencari dan berburu [untuk kelas], atau mencari tahu dari teman,” kenang Phai.

Meskipun tidak ada cara untuk mengetahui berapa banyak kelas yang diadakan, Phai ingat bahwa para siswa telah bertekad untuk menemukan pembimbing yang bersedia dan untuk menguasai bahasa baru. Seorang wanita mencapai kelancaran bahasa dengan belajar secara pribadi dari Phai selama enam bulan sebelum melarikan diri dari negara tersebut. Ia tidak pernah mendengar kabar darinya lagi.

Mao Chhommaradh dan Phai menggunakan buku pelajaran yang berbeda—”Each Enjoy English” dan “Essential English”—buku yang bertahan dari Khmer Merah, dan membantu memimpin tuntutan akademis. Tapi buku-buku ini, dan bahasa Inggrisnya sendiri, hanya bisa ditemukan dalam kerahasiaan kamar pribadi, karena takut ditemukan.

Janelle Retka

Tidak ada hukuman yang jelas jika ditangkap; Chan mendengar bahwa beberapa guru dan siswa menghadapi denda dan hukuman penjara, sementara Phai hanya mendengar bahwa orang-orang yang tertangkap basah harus membayar denda dan memberi cap jempol ke dokumen yang isinya menjanjikan tidak akan pernah terlibat dalam pengajaran bahasa lagi. “Larangan itu tidak benar-benar konsisten,” katanya. Untuk kewaspadaan, penegakan dan hukuman, pihak berwenang setempat memiliki banyak kekuatan dan kelonggaran.

Namun, beberapa orang tetap berusaha keras untuk menghindari mengetahui hukuman apa yang menantinya. Chan mengingat adiknya memiliki teman yang melompat dari balkon kelas untuk menghindari razzia polisi.

Penggeseran Bertahap

Larangan itu berlangsung sekitar satu dasawarsa sebelum pihak berwenang mulai mengendur. Phai menempatkan awal perubahan pada tahun 1984, ketika iklan untuk kelas akhirnya bisa dipajang secara terbuka di Phnom Penh. Kelas-kelasnya berjalan pada puncaknya saat itu, namun selain dari edisi “Essential English” yang difotokopi, ia memastikan hanya menggunakan bahan-bahan belajar bahasa Inggris dari Rusia untuk menghindari tuduhan mendorong ideologi Barat di kelasnya.

Tetapi Chan berpendapat bahwa pencabutan larangan bahasa itu mendekati 1989. “Ketika mereka mulai mengizinkannya, mereka tidak mengumumkannya. Menurut saya, saya pikir mereka tidak pernah secara resmi mencabut larangan tersebut, “katanya.

Meskipun tidak ada perubahan kebijakan resmi, alasan penggeseran bertahap toleransi sudah jelas. Pemerintah Hun Sen mulai menerima lebih banyak bantuan asing dari negara-negara Barat dan kemudian menandatangani Kesepakatan Perdamaian Paris 1991 untuk mengakhiri perang Kamboja-Vietnam. Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian mengirim pasukan ke Kamboja dalam upaya untuk membentuk pemerintahan baru dan pemilihan umum.

Mereka yang telah belajar bahasa Inggris di sudut tersembunyi secara rahasia, menemukan bahwa keahlian mereka tiba-tiba sangat diminati. “Ada kekurangan orang-orang yang dapat berbicara bahasa Inggris untuk bekerja dengan bantuan luar negeri, sehingga sebagian besar orang yang dapat bekerja dengan [Otoritas Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kamboja] adalah orang-orang yang kembali dari luar negeri,” kata Nee.

Minat belajar bahasa Inggris meningkat dan iklan-iklan semarak melonjak di sepanjang “Jalan London” Mao Chhommaradh. “Pada tahun 1991, ada banyak kelas di jalan ini,” katanya.

Janelle Retka

Hari ini, bahasa Inggris ditawarkan di sekolah negeri dan “London Street” kembali disebut hanya dengan nomornya. Pengajaran bahasa Inggris telah bergeser dari aktifitas yang dilarang menjadi daya tarik umum bagi orang muda asing yang berkunjung atau pindah ke Kamboja untuk mengajar di sekolah swasta. Sebagai hasil dari berbagai kesempatan belajar sekarang tersedia—serta meningkatkan akses terhadap hiburan dan media internasional—banyak pemuda ibukota kini yang lancar berbicara dalam bahasa ini.

Tetapi kelas sampingan di apartemen pribadi juga masih tersedia; Mao Chhommaradh menunjuk ke sebuah tanda di atas sebuah gang yang ditulis dalam Khmer, yang membimbing siswa menuju ruangan kelas terdekat. Ini adalah pengingat konstan tentang bagaimana keadaan berubah di Kamboja modern: dalam satu masa saja, pendidikan bahasa Inggris telah berubah dari usaha berisiko ke industri yang berkembang pesat.

 

Jika Anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Janelle Retka

Janelle Retka is a Phnom Penh-based illustrator and journalist currently working at the Southeast Asia Globe.

Dewi Fitzpatrick

Dewi Fitzpatrick stems of Indonesian and English origins and has lived in Singapore for the past seven years. Upon graduating with a Bachelor of Arts in History from the National University of Singapore, Dewi decided to stay on in Singapore to work in arts management. Currently, Dewi is a research analyst in the corporate sector focusing on Indonesia and Malaysia.