Bootleg liquor containing methanol is a silent killer in Indonesia. Teguh Harahap

Keracunan Metanol: Wabah Senyap

Author: Aisyah Llewellyn, Teguh Harahap
Published:

Indra* merasa tidak sehat. Dia sudah minum wiski oplosan hingga dini hari dan sekarang dia merasa tidak enak badan. Berguling di atas sebuah kasur tipis dalam kamar kosnya di Medan, Sumatera Utara, dia membuka mata dan melihat teman sekamarnya Roby. Dia tidak bisa melihat dengan jelas, dia menggosok matanya dan menyadari pandangannya kabur. “Aku hampir tidak bisa mengangkat kepalaku dari kasur. Rasanya seperti ada batu bata yang digantung di bagian belakang kepalaku. Peningnya terasa sakit sekali, beda dibandingkan dengan pening biasa,” kata dia.

Saat dia mencoba untuk bangun, dia mendengar suara batuk. Meskipun matanya belum bisa melihat dengan jelas, dia bisa melihat saat Roby tersungkur di depan pintu. Temannya berlumuran darah; awalnya Indra berpikir bahwa temannya telah ditikam. Ketika Roby mulai batuk lagi, Indra melihat temannya memuntahkan darah sampai membasahi singlet putihnya. Tidak ada orang yang tahu ketika mereka mengalami keracunan metanol.

 

Pembunuh yang senyap

Mulai dari bulan Maret hingga April 2018, Indonesia mengalami musibah insiden terburuk keracunan alkohol di Jawa Barat, Jakarta, dan Papua, mengakibatkan lebih dari 100 orang meninggal dunia dan beserta lebih dari 160 dilarikan ke rumah sakit setelah menenggak minuman keras oplosan yang memiliki jumlah kandungan yang fatal dari metanol. Kejadian ini menyebabkan kembali bertambahnya korban keracunan metanol, yang mana ternyata metanol telah menjadi pembunuh yang senyap di Indonesia selama bertahun-tahun. Sulit untuk mendapatkan angka pasti jumlah orang yang meninggal dunia karena keracunan alkohol setiap tahunnya, sebagian besar sering salah didiagnosis atau dihubungkan dengan penyebab lainnya, seperti pendarahan di otak. Sebuah laporan dari Centre for Indonesian Policy Studies (CIPS) memberikan suatu indikasi: “Secara nasional, 487 orang telah meninggal dunia akibat keracunan minuman keras ilegal antara tahun 2013–2016—meningkat sebesar 226% dibandingkan angka dari tahun 2008 ke 2012.”

Mulai dari bulan Maret hingga April 2018, Indonesia mengalami musibah insiden terburuk keracunan alkohol di Jawa Barat, Jakarta, dan Papua, mengakibatkan lebih dari 100 orang meninggal dunia dan beserta lebih dari 160 dilarikan ke rumah sakit setelah menenggak minuman keras oplosan yang memiliki jumlah kandungan yang fatal dari metanol

Metanol, tidak berwarna dan tidak berbau, merupakan produk sampingan yang dihasilkan dari proses fermentasi dalam membuat minuman keras. Hanya 30 ml metanol—sekitar setara satu gelas loki—bisa membunuh anda. Seharusnya metanol terbakar secara alami saat alkohol disuling, akan tetapi kesalahan yang dibuat mengakibatkan metanol tetap terkandung pada hasil akhir produk. Untuk memotong biaya dan mempercepat target produksi, tempat pembuatan minuman alkohol rumahan dan pabrik minuman alkohol ilegal di Indonesia terkadang cukup gagal dalam proses memanaskan alkohol, atau tidak mematuhi prosedur proses pemanasan dengan semestinya, membiarkan metanol tertinggal dalam produk jadi.

Laporan tentang metanol yang sengaja ditambahkan untuk meracuni konsumen sangat jarang, jikapun terjadi hal seperti itu; lebih kemungkinan disebabkan karena human error. Yang membuatnya lebih buruk, beberapa pembuat minuman keras ilegal dengan sengaja mencampur alkohol dengan produk lainnya berupa obat anti nyamuk, racun tikus atau semir sepatu untuk membuat minuman keras tersebut lebih kuat dan memberi dampak halusinogen. Hal ini yang nantinya membingungkan masalah keracunan metanol langsung versus mereka yang diracuni oleh zat terlarang lainnya.

Ketika manusia menelan metanol, proses metabolismenya berubah menjadi formaldehida. “Itu seperti tubuh kamu dibalsem dari dalam ke luar,” Lanang Suartana Putra, seorang doktor di Rumah Sakit Sanglah di Bali, mengatakan kepada wartawan pada tahun 2016.

Methanol poisoning is a swift and silent killer in Indonesia. Teguh Harahap

Keracunan metanol bukan masalah yang secara luasnya dipahami, begitu banyak para peminum tidak mengetahui saat mereka keracunan hingga nyawa mereka terancam. Karena tidak bisa dideteksi melalui rasa atau bau, banyak orang beranggapan bahwa mereka hanya hangover. Gejala awalnya memang sangat mirip seperti hangover: pening, perut terasa kram, rasa mual, tidak selera makan, dan peka terhadap cahaya. Salah satu tanda utama keracunan metanol adalah pandangan kabur dikarenakan metanol menyerang sistem saraf pusat. Keracunan metanol juga terjadi dengan cepat: dalam waktu 12–24 jam mengkonsumsi alkohol yang tercemar, banyak peminum mungkin tertidur, pusing atau masih mabuk saat mereka merasa tidak sehat. Sangat penting bagi konsumen mendapatkan perawatan medis sesegera mungkin, meskipun demikian keracunan metanol sering salah diagnosis – bersama dengan konsekuensi yang mengerikan.

 

Salah diagnosis

Ada berbagai alasan penyebab salah diagnosis. Indonesia merupakan sebuah negara dengan jumlah penduduk beragama Muslim terbanyak di bumi dan selalu memiliki hubungan kontroversial dengan minuman keras. Meskipun minuman beralkohol tersedia secara legal hampir di seluruh nusantara, minuman keras dilarang dalam agama Islam, sehingga para korban keracunan yang dilarikan ke rumah sakit bisa kemungkin kurang mendapatkan simpati, ditolak untuk pengobatan atau salah diagnosis oleh staf medis yang tidak terbiasa dengan keracunan metanol. Di daerah pedesaan di Indonesia, kematian kadang-kadang disebabkan karena setan atau karena ganjaran yang pantas didapatkan karena meminum minuman keras.

Ketika Indra melihat temannya memuntahkan darah, dia segera mengangkatnya dari lantai, memasukkan ke dalam becak dan membawanya ke rumah sakit setempat. Sesampai di sana, staf rumah sakit mendiagnosis Roby mengalami keracunan minuman keras—sebuah kesalahan diagnosis umum—dan memasangkan infus. Indra mengatakan bahwa ketika mulai merasakan efeknya, Roby mulai menjerit dan mencoba melepaskan jarum tersebut dari tangannya. “Seolah-olah obat tersebut bereaksi dengan metanol yang terkandung di dalam darah Roby,” kata Indra. “Dia bilang urat-uratnya terasa seperti terbakar.”

Ketika akhirnya perawatan tidak berhasil di rumah sakit akhirnya—berjam-jam setelah dia diracuni—setuju untuk melakukan dialisis pada Roby, satu-satunya pengobatan untuk keracunan metanol tingkat selanjutnya. Tindakan itu akhirnya menyelamatkan nyawanya. Namun akibat penundaan tersebut meninggalkan efek samping yang parah pada Roby. Ketika New Naratif berbicara kepada dia mengenai insiden tersebut, dia mengatakan bahwa dia tidak ingat apapun selain dia terbangun di rumah sakit setelah cuci darah. Dia berjuang dengan kehilangan ingatan parah yang dialaminya saat ini dan hampir tidak bisa mengingat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepadanya. Dia juga berpikir dia akan segera menikah, meskipun dia telah menikah selama bertahun-tahun.

 

Persoalan minuman keras Indonesia

Indonesia bukanlah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengalami masalah terhadap keracunan metanol; Thailand dan Vietnam juga memiliki kasus orang keracunan minuman keras oplosan. Meskipun begitu, Indonesia memiliki beberapa persoalan unik terkait minuman keras yang mengakibatkan meningkatnya kematian keracunan metanol di seluruh negeri.

Salah satu persoalannya adalah pajak minuman keras sebesar 150%, yang artinya harga minuman keras impor sangat mahal bagi kebanyakan masyarakat Indonesia—gaji awal rata-rata untuk sarjana sekitar tiga juta rupiah (USD225) perbulan. Namun ini bukan hanya tentang masyarakat Indonesia yang kurang makmur; semua orang, dari pelajar hingga wisatawan ingin membeli minuman keras semurah mungkin. Jika sebuah bar akan menjual vodka dan cola dengan harga Rp15,000 (USD1.80), hal yang dipromosikan secara luas di luar perusahaan minuman di Bali, maka harus menekan biaya produksi serendah mungkin dengan menggunakan minuman alkohol ilegal yang dibuat sendiri ketimbang menggunakan minuman keras impor asli.

Bahkan meskipun jika anda mampu untuk membelinya, terdapat masalah lain untuk mendapatkan minuman keras legal di Indonesia. Undang-undang yang diberlakukan sejak tahun 2015 membuat penjualan minuman keras menjadi ilegal di mini market seluruh Indonesia (dengan pengecualian Bali), suatu kebijakan yang dikeluarkan oleh mantan menteri perdagangan Rachmat Gobel, yang menyatakan bahwa minuman keras yang menyebabkan korupsi moral melanda anak-anak muda Indonesia. Namun, semua peraturan baru tersebut yang sudah dilaksanakan mengakibatkan sulitnya untuk membeli minuman keras, sebuah konsekuensi yang disoroti oleh para kritikus RUU tersebut dari awalnya. RUU tersebut juga ditentang oleh mantan Gubernur Jakarta, Basuki “Ahok” Tjahja Purnama, yang mengatakan bahwa “larangan tersebut akan mendorong penjualan minuman beralkohol ilegal di kota”.

 

Kehadiran toko minuman

Purnama benar, banyak masyarakat Indonesia, tidak sanggup untuk membeli minuman keras di toko swalayan telah beralilh ke “toko minuman” tidak berizin yang biasanya menjual minuman keras palsu seperti wiski yang diminum oleh Roby dan Indra. Minuman keras yang dijual di toko-toko ini tidak di kelola dengan benar dan tidak ada cara untuk mengetahui apa yang terkandung di dalamnya. Menurut CIPS, larangan untuk menjual minuman keras di swalayan telah memiliki dampak negatif “[…] penelitian di enam kota di Indonesia mengemukakan bahwa, alih-alih membatasi terjadinya kasus keracunan, larangan yang dikeluarkan memfasilitasi pertumbuhan pasar gelap, kasus keracunan sering terjadi di daerah-daerah yang mengalami pembatasan dalam pendistribusian minuman beralkohol untuk zona tertentu.” Dengan kata lain, larangan tersebut tidak berhasil – hanya mendorong untuk bertumbuhnya pasar gelap, yang terkadang membawa dampak kematian bagi para konsumen.

Ketika New Naratif mewawancarai Indra tentang toko botol tempat di mana dia membeli wiski yang hampir membunuh temannya Roby, dia menjelaskan praktek luas yang membahayakan nyawa para peminum. Indra mengidentifikasi toko botol di Medan hanya “Warung X”—pemiliknya menolak untuk diwawancarai, sehingga kami merujuk ke Indra, yang mengklaim bahwa dirinya merupakan “pelanggan setia” warung tersebut yang juga bertindak sebagai juru bicaranya.

Indra almost died drinking bootleg whisky but still regularly buys illicit alcohol as it is cheaper than imported spirits. Teguh Harahap

Indra telah membeli berbotol-botol minuman keras dari Warung X sejak tahun 2004 dan menjelaskan bagaimana mereka cara membeli dan mencoba minuman keras mereka: “Ketika sales minuman dari salah satu pabrik datang, toko meminta pelanggan setia mereka seperti saya sebagai tester (penguji).” Ini merupakan hal yang luar biasa. Menurut Indra, toko minuman tersebut, dan toko-toko minuman lainnya di Medan, menggunakan “pelanggan setia”, dengan imbalan minuman gratis, mencoba berbagai minuman baru untuk melihat apakah minuman tersebut mengandung racun atau tidak.

Tetapi bagaimana jika suatu botol minuman beralkohol mengandung metanol? “Jika ada metanol di dalamnya, ya kamu meninggal dunia,” jawab Indra, tertawa terbahak-bahak dan menepuk pahanya, “Tapi lihat saya, saya masih hidup.” Dia mengatakan terkadang dia merasa tidak sehat ketika mengambil sampel minuman keras di toko tersebut; jika itu terjadi, dia selalu segera berhenti meminumnya. Namun, metode seperti menggunakan pelanggan sebagai tester minuman alkohol tanpa izin atau rumahan sangat beresiko.

Ketika New Naratif mencoba berbicara dengan lima toko minuman berbeda di Medan, tidak ada satupun dari mereka yang mau diwawancarai tentang kapan dan di mana mereka memperoleh minuman beralkohol mereka ataupun memperbolehkan kami untuk mengambil gambar, meskipun mengklaim bahwa mereka menjual minuman keras secara legal dari pabrik lokal yang berlisensi.

 

Kampanye menyelamatkan jiwa

Selama bertahun-tahun, respons pemerintah Indonesia terhadap wabah keracunan alkohol hampir tidak ada. Melarang penjualan minuman keras di mini market telah mendapatkan dampak sebaliknya dalam hal menjaga konsumen tetap aman, dan hal tersebut di serahkan kepada kelompok lain untuk menindaklanjutinya. Salah satunya berupa kelompok LIAM – Lifesaving Initiatives About Methanol – Charitable Fund, sebuah badan amal Australia yang didirikan oleh Lhani Davies setelah kematian putranya Liam Davies yang berumur 19 tahun.

Liam meminum vodka yang dicampur jeruk nipis di Rudy’s Bar di Gili Trawangan Lombok di saat Malam Tahun Baru, 2012. Minuman yang dia pikir berisi vodka impor di mana sebenarnya berisi arak buatan lokal, sejenis minuman keras hasil fermentasi, yang mengandung kadar metanol mematikan. Liam mengalami kejang-kejang dalam perjalanannya ke rumah sakit di Lombok, di mana dia salah didiagnosis mengalami pendarahan otak sebelum diterbangkan kembali ke Australia di mana secara tragis terlalu terlambat untuk menyelamatkan nyawanya.

Karena seperti bom waktu dan tidak memengaruhi orang kaya”

New Naratif berbicara kepada Davies, yang tinggal di Perth, untuk mencari tahu apa yang telah dilakukan badan amal tersebut sejak dididirikan di tahun 2013 untuk memperingatkan orang tentang bahaya dari keracunan metanol. Davies menjelaskan bahwa mereka baru saja selesai melakukan sesi pelatihan di kota Yogyakarta, mengajari para doktor dan rumah sakit setempat tentang standar internasional dan protokol penggunakan etanol sebagai penghambat keracunan metanol. Bagi banyak orang medis di Indonesia, ini merupakan salah satu hal yang paling sulit untuk diatasi, karena pengobatan untuk keracunan metanol merupakan metode menawarkan lebih banyak alkohol, dalam bentuk etanol, untuk memperlambat proses metanol menyerang tubuh dan memberikan waktu lebih banyak bagi pasien saat menuju rumah sakit untuk bisa melakukan cuci darah.

LIAM Charitable Fund kini telah menjalankan sesi pelatihan di berbagai kota seluruh Indonesia seperti Yogyakarta dan Makassar serta pulau Lombok. Untuk Bali sendiri, badan amal tersebut telah melatih 80 rumah sakit dan klinik setempat tentang bagaimana cara mengelola penghambat etanol kepada para pasien yang mengalami gejala keracunan metanol. Davies mengatakan bahwa Dinas Kesehatan telah sangat mendukung sesi pelatihan tersebut, namun masih belum sepenuhnya seperti yang diharapkan, 16% doktor mengatakan mereka tidak akan mengobati pasien menggunakan penghambat etanol dan Davies telah menerima laporan dari pasien yang datang ke rumah sakit di Lombok hanya untuk menolak pengobatan yang berhubungan dengan alkohol—dan dengan meluasnya keracunan metanol—untuk alasan agama.

Liam Davies died from methanol poisoning while in Lombok. LIAM Charitable Fund

Saya tanya Davies apakah dia terkejut dengan rentetan kejadian baru-baru ini terjadi di seluruh Indonesia. “Tidak. Karena seperti bom waktu dan tidak memengaruhi orang kaya,” kata dia. “Mereka bisa mendapatkannya di duty-free atau membeli koktail yang menggunakan minuman keras impor. Selalu orang dari kalangan kelas bawah yang mengalaminya.”

Ada juga penolakan terhadap kampanye melawan keracunan metanol baik di dalam maupun luar negeri. “Kami dituduh ‘menampar Bali’ saat kami berbicara tentang keracunan metanol. Meskipun kami tidak memberitahu orang-orang agar tidak pergi ke Bali atau tidak minum saat mereka di sana. Yang kami ingin lakukan adalah memberikan orang informasi agar mereka bisa membuat pilihan” kata Davies. Ini termasuk merekomendasikan agar para konsumen di Indonesia tetap hanya minum bir ataupun minuman dari duty-free yang mereka dibawa sendiri.

Davies berharap agar lebih banyak media yang meliput kasus lokal maupun internasional. Keracunan metanol di Indonesia biasanya hanya dilaporkan ketika dialami oleh wisatawan Barat dan dianggap layak diberitakan. Meskipun telah terjadi kematian turis di Bali, Lombok, dan Sumatera Utara, keracunan yang baru-baru terjadi tahun ini—setengahnya diduga berasal dari satu jenis minuman keras yang terkontaminasi—mengakibatkan kematian di Provinsi Jawa dan Papua. Keracunan metanol bukan hanya terkait tentang para backpacker yang berpesta dengan murah; ini merupakan masalah nasional yang berdampak pada semua orang.

Keracunan metanol bukan hanya terkait tentang para backpacker yang berpesta dengan murah; ini merupakan masalah nasional yang berdampak pada semua orang

Davis berharap ada lebih banyak kasus “nyaris celaka” di media; dia mengutip kasus baru-baru ini di Bali di mana seorang backpacker berhasil diobati karena keracunan metanol namun tidak ingin berbicara karena takut disalahkan karena meminum minuman alkohol murah. Namun sikap diam seperti itu memiliki efek secara tidak langsung mengabaikan kurangnya kesadaran akan bahaya minuman alkohol oplosan. “Orang-orang percaya hal tersebut bukan lagi persoalan jika bukan karena media dan sehingga menciptakan rasa aman yang salah. Seperti menggunakan sabuk pengaman. Kita tidak selalu mendengar setiap saat sabuk pengaman menyelamatkan nyawa seseorang. Meskipun demikian masih penting untuk dikenakan,” dia menjelaskan.

LIAM Charitable Fund memiliki rencana ambisius untuk memerangi keracunan metanol di Indonesia ke depannya. “Kami selalu mendorong prosedur standar nasional terhadap keracunan metanol. Hal ini sudah diterima di Bali. Namun kami harus ke seluruh rumah sakit di Indonesia,” kata Davies.

Indra pernah mengalami keracunan metanol ringan dan sudah sembuh total. Alasan kenapa beberapa orang meninggal dan yang lain bertahan, bahkan jika mereka meminumnya bersama, adalah metanol lebih ringan ketimbang etanol dan mengapung di atas permukaan dalam botol minuman keras. Jika minuman alkohol tersebut tercemar, orang yang pertama meminumnya akan mendapatkan segelas metanol yang hampir murni dan mendapatkan konsekuensi yang tentu saja lebih besar.

Hingga praktek kesehatan yang dikembangkan oleh LIAM Charitable Fund diterima secara nasional, meminum minuman keras oplosan di Indonesia akan selalu menjadi seperti permainan yang mematikan.

* Nama telah diubah atas permintaan orang yang diwawancara.

 

Jika anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Aisyah Llewellyn

Aisyah Llewellyn is a British freelance writer based in Medan, Indonesia, and New Naratif's Regional Editor, Deputy Editor for Bahasa Indonesia, and Consulting Editor for North Sumatra. She is a former diplomat and writes primarily about Indonesian politics, culture, travel and food. Reach her at aisyah.llewellyn@newnaratif.com.

Teguh Harahap

Teguh Harahap is a freelance writer and translator based in Medan, Indonesia. Previously he worked as the editor of Koran Kindo, a weekly newspaper for Indonesian migrant workers based in Hong Kong.

If you enjoyed this article...

Join the movement and spread the love

If you enjoyed this article and would like to join our movement to create space for research, conversation, and action in Southeast Asia, please subscribe to New Naratif—it’s just US$52/year (US$1/week)!