Sore itu, Anto, seorang lelaki berusia 20 tahun, pergi mandi seperti biasa di sungai depan rumahnya yang terletak di desa Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Timur. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia telah berenang di Sungai Santan bersama teman-temannya; anak-anak kecil di desa itu menganggapnya seperti taman bermain mereka sendiri.

Celakanya, Anto tak pernah kembali.

Sejak Juli 2008, Anto lenyap bak ditelan bumi. Kedua orang tuanya, Amir dan Harpiah, mulai khawatir—apalagi di tahun sebelumnya terdapat beberapa kasus serangan buaya di daerah itu. Kepada New Naratif, mereka menceritakan bagaimana penduduk setempat bersama-sama menyisir tepian sungai untuk mencari Anto.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to sponsorship@newnaratif.com to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Abdallah Naem

Abdallah Naem is from Samarinda in Kalimantan. He is an activist with the Mining Advocacy Network (JATAM).