Sudah 55 tahun sejak Operasi Coldstore, sebuah operasi besar yang dilakukan kepolisian pada Februari 1963 dimana lebih dari 110 aktivis, serikat pekerja, mahasiswas dan politisi ditangkap dan ditahan tanpa diadili terlebih dahulu di Singapura. Operasi dilakukan dengan alasan melawan komunisme, dimana penangkapan tersebut mengakibatkan kekacauan pada gerakan sayap kiri anti kolonial di Singapura dan lumpuhnya partai oposisi utama, Barisan Sosialis, yang memegang 14 dari 51 kursi di Dewan Legislatif (dipegang oleh Partai Aksi Rakyat, dipimpin oleh Perdana Menteri Lee Kuan Yew, yang mendapatkan 25 kursi). Beberapa dari tahanan terus menjalani hukuman selama lebih dari satu dekade di balik jeruji penjara tanpa pernah dikenai tuduhan secara resmi atas tindakan pidana. Operasi Coldstore menyisakan babak penangkapan dan penahanan terbesar yang pernah dilakukan di Singapura.

Selama bertahun tahun, sebagian besar kisah para kaum kiri ini telah dikaburkan atau dihapus dari narasi resmi Singapura. Sebuah survey yang dilakukan oleh Institute of Policy Studies pada tahun 2015 menemukan bahwa Operasi Coldstore termasuk salah satu diantara peristiwa sejarah paling dilupakan oleh warga Singapura. Namun Kiri Tua masih mengingat kejadian itu: mereka berkumpul setiap tahun saat dalam acara makan siang reuni besar tahunan saat Tahun Baru Imlek. Ini merupakan kesempatan untuk berjumpa kembali dengan teman-teman dan juga sambil memperingati peristiwa di masa lalu mereka.

Tahun ini, New Naratif berbincang dengan beberapa bekas tahanan pada acara pertemuan tahunan tersebut. Kami menyajikan kutipan hasil dari wawancara singkat dengan mereka di samping foto-foto mereka dibawah, dan juga disandingkan dengan keseluruhan ringkasan Cabang Khusus dimana Dewan Keamanan Dalam Negeri Singapura (terdiri dari tujuh anggota: Komisaris Inggris, dua pejabat koloniah pemerintah Inggris lain, tiga politisi PAP termasuk Lee Kuan Yew, dan Federasi Kementrian Keamanan Dalam Negeri  Malaya, Tun Dr. Ismail) yang memutuskan penangkapan dan penahanan mereka, bersamaan dengan laporan oleh New Narratif. Dokumen-dokumen Cabang Khusus yang sudah diklasifikasikan ini didapat dari Arsip Nasional Pemerintah Inggris.

CHUA WEE PUAN

USIA PADA SAAT PENANGKAPAN: 23
Chua Wee Puan merupakan anggota dari Singapore Bookshops, Pers Publikasi dan Pencetakan Serikat Pekerja. Tom White

Mereka menginginkan kami mendatangani dokumen untuk “meninggalkan” komunisme; jika kamu tidak menandatanganinya mereka tidak membiarkan kamu keluar. Saya bagian dari Singapore Bookshops, Pers Publikasi dan Pencetakan Serikat Pekerja. Saya ditahan selama 10 tahun. Saya menghabiskan waktu di beberapa penjara: Changi, Queestown, Pusat (Kantor Polisi),  Pusat Bulan Sabit  pusat penahanan, [sekarang sudah tutup, di dalam Penjara Changi]…Saya tidak mendapatkan penyiksaan, tetapi saya dikurung tersendiri selama 3 bulan.

DARI ARSIP PEMERINTAH INGGRIS

Klasifikasi Keamanan: Diduga Komunis
Pertama kali diperkenalkan kepada Komunis saat menjadi murid di Sekolah Tinggi Chung Cheng. Kemudian menjadi anggota aktif dari SCMSSU [Singapore Chinese Middle School Student Union] dan dikeluarkan dari sekolah karena mengikuti kegiatan Pro-Komunis saat organisasi SCMSSU dilarang pada tahun 1956. Pertama bergabung T.U [trades union] pada tahun 1959 sebagai Sekretaris yang dibayar untuk Serikat Pekerja Memutarbalik Singapura. Kemungkinan bertindak atas instruksi dari CPM bawah tanahmer upakan salah satu sponsor dia untuk pindah ke serikat buruh Pro-Komunis sebagai calon independen pada tahun Pemilihan Umum 1959 mengingat terjadinya perpecahan dengan kepemimpinan P.A.P saat itu. Karena beberapa alasan yang kurang diketahui kelompok ini dijatuhkan meskipun sejumlah kandidat telah terpilih. Pada Juni 1960 maju ke posisi yang lebih bertanggung jawab di SGEU yang dikuasai Komunis. Dia bertugas di Komite yang bertanggung jawab untuk menerbitkan SUARA KESATUAN, organ dari SGEU, dan sangat aktif dalam melakukan kelas pelatihan kader mengajarkan teori Komunis kepada anggota SGEU. Pada November 1961 dia melakukan kelas pelatihan Komunis serupa di SBPPPWU dimana saat itu dia menjabat sebagai Sekretaris Umum. Selama kampanye Komunis yang menentang penggabungan dia konsisten mendukung eksekutif Communism United Front (Front Serikat Komunis) dan memberikan mereka kesempatan untuk menyebarkan propaganda mereka di kelas pelatihan kader di dalam Serikat dia sendiri.

Ringkasan Chua merupakan contoh klasik tentang pencorengan, sindiran, dan spekulasi yang dilakukan Cabang Khusus untuk menjuluki banyak aktivis anti kolonial sebagai “komunis”. Saat demontrasi anti kolonial meningkat, dan banyak warga Singapura menuntut kemerdekaan, pemerintah kolonial Inggris menanggapinya dengan memperluas defenisi dari komunis bertujuan untuk membenarkan aksi penindasan mereka terhadap

pergerakan anti kolonial. Pada Agustus 1956, sebuah memorandum internal oleh Direktur Cabang Khusus Alan Blades dan Sekretasi Kolonial William Goode berpendapat bahwa semua penentang kebijakan pemerintah, yang sah atau sebaliknya, mendukung tujuan Partai Komunis Malaya, maka harus diklasifikasikan sebagai subversi dan diperlakukan sebagai Komunis. Berbekal “definisi” ini, Cabang Khusus mulai menangkap banyak aktivis anti kolonial. Namun Cabang Khusus tidak memiliki bukti sedikitpun terhadap tuntutan mereka diatas. Dimana memang ada bukti, sangat cepat bertindak dan mengajukan tuntutan; dimana memang tidak ada bukti, terpaksa menahan aktivis tanpa diadili.


Ang Eng Siong

USIA PADA SAAT PENANGKAPAN: 23
Ang Eng Siong merupakan anggota dari Asosiasi Rakyat. Setelah perpecahan di Partai Asosiasi Rakyat, pekerja Asosiasi Rakyat lainnya – banyak yang mendukung Barisan Sosialis – memilih Ang untuk menjadi perwakilan mereka untuk berbicara kepada Lee Kuan Yew. Tom White

Penangkapan saya dikarenakan Kuan Yew, karena ketika saya menghadapi dia atas nama pekerja dia memberitahu saya bahwa dialah yang telah mengirim saya ke Jepang (untuk pendidikan dan pelatihan) dan ‘sekarang anda kembali untuk melawan saya.’ Jadi saya pikir (penahanan saya) karena dendam pribadi Lee Kuan Yew. Saya ditahan selama delapan tahun empat bulan; Saya sudah pernah menjalani di seluruh penjara Singapura!

DARI ARSIP PEMERINTAH INGGRIS

Klasifikasi Keamanan: Diduga Simpatisan Komunis
Menjadi Sektretaris yang dibayar Singapore Textiles and General Merchants Employees Union (STGEU) yang dikuasai Komunis pada tahun 1959 dan General Affairs Officer (Petugas Umum) pro Komunis dan Old Boys’ Association (Asosiasi Alumni Pria) pro Komunis pada tahun 1960. Mengundurkan diri dari STGMEU pada bulan Juni 1960  saat ditunjuk sebagai Pengurus di Association People. Berperan aktif dalam pergolakan pekerja Asosiasi Rakyat yang terinspirasi Komunis melawan Pemerintah di tahun 1961. Telah menyebarkan propaganda Komunis melalui ceramah di kelas pelatihan kader serikat dan berperan aktif dalam pergolakan Front Serikat Komunis menentang penggabungan, Malaysia dan Referendum tahun 1962.

Ang ditangkap dan ditahan selama lebih dari delapan tahun meskipun tidak menjadi komunis, tidak juga simpatisan komunis, tetapi hanya diduga simpatisan komunis. Lee Kua Yew telah menempatkan dia dalam Asosiasi Rakyat di bulan Juni 1960, berpikir bahwa dia akan menjadi pendukung Lee dalam PAP. Untuk mengejutkan Lee, Ang menerima tawaran pekerjaanya berbicara atas nama pekerja secara serius, dan menentang usaha Lee untuk melemahkan pergerakan serikat buruh. Satu ketidaksetujuan pribadi – dan satu paragraph – secara drastis telah mengubah kehidupan Ang selamanya.


Tan Kok Fang

USIA SAAT PENAGKAPAN : 23
Tan Kok Fang di pertemuan tahunan ‘Kiri Tua’ Singapura saat makan siang tahun baru imlek. Tom White

Saya baru saja lulus dari Universitas Nanyang. Saya seorang aktivis mahasiswa bersama Serikat Mahasiswa Universitas Nanyang – Saya adalah Ketua Hubungan Eksternal selama dua periode. Saya ditahan selama empat tahun setengah. Mereka menuduh saya simpatisan Komunis. Mereka tidak menuduh saya Komunis. Tetapi menganggap diri saya anti kolonialis.

DARI ARSIP PEMERINTAH INGGRIS

Klasifikasi Keamanan: Terduga Simpatisan Komunis
Diberhentikan dari sekolah pada tahun 1954 karena aktivitas mendukung pergolakan pimpinan Komunis menentang National Service Registration. Pada bulan September 1957  merupakan salah satu pimpinan yang bertanggung jawab karena menyelenggarakan kelas indotrinasi “Hsueh Hsih” di Chinese High School (Sekolah Tinggi Cina). Ditangkap pada 25 SEP 57 namun dibebaskan pada 9 OKT 57. Pada tahun 1960/61 merupakan Petugas Hubungan Luar dari Serikat Mahasiswa Universitas Nanyang dan berusaha mendirikan  hubungan dekat antara NUSU dan Serikat Mahasiswa Internasional (Organisasi Front Komunis). Berperan aktif dalam bagian pergolakan yang terinspirasi Komunis menentang sistem pendidikan 4-2. Pulang dari tur NUSU ke Australia pada Agustus 62 dan terbukti untuk kepemilikan literatur Komunis.

Pengubahan paksa pada sistem pendidikan Cina dari “3-3” (tiga tahun Menengah Kebawah  dan tiga tahun Menengah Keatas) menjadi sistem Inggris “4-2” (empat tahun Secondary dan dua tahun Pre-University) sangat banyak kontroversial. Ini bukan dikarenakan prinsip perampingan semua sistem pendidikan ke dalam sistem yang umum (yang mendapat dukungan luas), tetapi dikarenakan transisinya sangat terburu buru (Sekolah Tiong Hoa hanya diberi beberapa bulan pemberitahuan untuk dipersiapkan), hal ini sangat tidak dikomunikasikan dengan baik (bahkan saat itu – Menteri Pendidikan Yong Nyuk Lin dan para pejabatnya bingung dengan kecepatan perubahannya dan sering mengkomunikasikan informasi yang tidak akurat), disertai dengan perubahan mendasar lainnya terhadap pendidikan Cina (termasuk panjang minggu sekolah, gaji guru, dan standar pendidikan), dan tidak ada kebijakan yang diformulasikan mengenai apa yang akan terjadi terhadap siswa Tiong Hoa yang terlantar akibat perubahan tersebut. Tentu saja pelajar Menegah Atas 1 yang diberitahu pada pertengahan tahun 1961 bahwa mereka tiba-tiba harus menghadapi ujuan kelulusan sekolah pada akhir tahun geram, dan dengan marah memprotes. Sayangnya, hal ini terjadi bersamaan dengan saat terjadinya perpecahan di PAP, yang menyebabkan Lee Kwan Yue menuduh para siswa berada di Barisan.


Yeh Kim Pak

USIA SAAT PENANGKAPAN: 27
Yeh lahir di Malaya, dan dilucuti kewarganegaraannya serta diusir dibawah hukum Singapura. Dia bukanlah satu-satunya; sebuah briefing Amnesty International di Singapura tahun 1976 mencatat bahwa “pola yang biasanya digunakan untuk tahanan politik yang ditahan tanpa diadili tanpa ketentuan Undang-Undang Keamanan Internal atau Undang-Undang Pembuangan.” Tahanan yang bukan lahir di Singapura kehilangan warga negara mereka dan dideportasi. Tom White

Mereka datang ke kedai kopi di Joo Chiat dimana saya sedang bekerja jam 2 pagi. Sekitar lima atau enam petugas datang, dan mereka membawa saya ke Outram [kantor polisi], dimana sudah ada banyak orang. Saya ditahan selama empat setengah tahun. Saya seorang warga Singapura tetapi saya kehilangan kewarganegaraan; mereka membawa saya menuju perbatasan. Saya tidak bisa kembali ke Singapura selama empat tahun, tetapi sekarang saya bisa karena saya akhirnya mendapatkan kewarganegaraan Malaysia dua, tiga tahun lalu.  [Kepada Kirsten] Anda bahkan belum lahir; ada banyak hal yang terjadi pada saat itu: kemerdekaan, pemilihan, pengorganisasian…Orang-orang seperti saya adalah saksi sejarah.

DARI ARSIP PEMERINTAH INGGRIS

Klasifikasi Keamanan: Terduga Simpatisan Komunis
Di tahun 1956  dia sangat mengkritik tindakan pemerintah dalam menangkap komunis dan memberikan dukungan penuh kepada Komite Hak Sipil dalam pergolakannya untuk kebebasan mereka. Dia adalah seorang pengagum berat Komunis CINA dan secara konsisten menggemakan posisi Komunis dalam berbagai isu terkini. Dia telah bertugas untuk berbagai posisi di Serikat Pekerja Kedai Kopi Singapura dan asosiasi dan berhubungan dekat dengan tersangka Komunis. Dia secara aktif sibuk dengan memastikan dukungan maksimalnya untuk Kebijakan Komunis yang dikontrol SGEU dari anggota perhimpunannya.

Yang ironis dari ringkasan ini adalah bahwa ditahun 1956, Partai Aksi Rakyat merupakan partai yang memimpin partai oposisi, dan memimpin kritik terhadap tindakan pemerintah. Dari bulan Oktober 1956 kemudian Perdana Menteri Lim Yew Hock ditangkap dan ditahan tanpa diadili banyak aktivis anti kolonial, serikat pekerja, pelajar, dan politisi, dan melarang berbagai asosiasi anti kolonial. Banyak anggota Partai Aksi Rakyat termasuk di antara mereka yang ditangkap. Lee Kwan Yew memimpin kritik terhadap Lim Yew Hock di Dewan Legislatif, menuduhnya melakukan penangkapan karena alasan politik dan memanggilnya dengan sebutan penjahat kolonial. Tujuh tahun kemudian, Lee akan menggunakan tindakan yang sama menetang lawan-lawan politiknya, membenarkan mereka seperti Lim pernah lakukan di tahun 1956 – sebagai tindakan menentang “komunis” yang dilakukan atas nama “keamanan nasional”.

 

Aksi Mogok Makan 1970/71

Ada lebih banyak diskusi tentang Operasi Coldstore ditahun 1963 dan Operasi Spectrum di tahun 1987 dalam beberapa tahun terakhir, namun saat itu bukanlah satu-satunya individual yang pernah ditahan. Wakil Perdana Menteri Teo Chee Hean menyatakan di Parlemen pada tahun 2011 bahwa 1,045 orang telah ditahan yang pada awalnya mengatasnamakan Preservation of Public Security Ordinance (PPSO yang diubah namanya menjadi Internal Security Act (ISA) ditahun 1963) antara 1959 dan 1990. Sebuah daftar tahanan politik dari 1950 sampai 2015 yang disusun oleh Loh Miao Ping – dirinya adalah mantan tahanan – terhitung lebih dari 1,300 nama. Ini hanya mencakup nama-nama orang yang ditahan dibawah sesi 8 dari ISA, yang memungkinkan penahanan (tanpa batas waktu yang dapat diperpanjang) sampai 2 tahun. Sekitar 1,000 sampai 1,500 lebih orang telah ditahan dibawah sesi 74, yang memungkinkan orang untuk ditahan tanpa surat perintah oleh Departemen Keamanan Internal hanya karena dicurigai menjadi resiko keamanan sampai selama 28 hari. Banyak dari tahanan tersebut dilepaskan setelah 28 hari dan segera ditangkap kembali ketika mereka keluar dari komplek ISD.  Kondisi dalam tahanan yang  digambarkan buruk. Sebuah briefing Amnesty International 1976  menyatakan bahwa “makanannya memprihatinkan, dengan hanya supleme terbatas yang di izinkan oleh keluarga.”

Dari kiri: Toh Siew Tin, Sim Teong Hiok dan Goh Peng Wah saat pertemuan makan siang tahunan tahun baru imlek Singapura ‘Kiri Tua’. Tom White

Toh Siew Tin, Sim Teong Hiok and Goh Peng Wah, ditahan pada tahun 1970, menyajikan New Naratif dengan lebih detail, beberapa diantaranya menguatkan penjelasan yang terdapat dalam laporan Ammensty International: kunjungan dari anggota keluarga menggunakan sarana telepon, dengan panel kaca tebal di antara mereka dan tahanan. Pembicaraan selalu dipantau oleh sipir, yang akan memutuskan sambungan telepon jika pembicaraan telepon berbelok arah yang mereka tidak setujui. Tahanan tidak diperbolehkan untuk menerbitkan buku-buku tertentu, meskipun judul-judulnya tidak dilarang di Singapura. Surat kabar akan diberikan kepada tahanan dengan lubang besar dimana artikel-artikel tersebut sebelumnya berada. Jenis penyensoran kasar untuk mencegah mereka menerima berita-berita tertentu dari luar penjara.

Kemudian muncul kondisi lain yang ternyata tidak dapat diterima: pihak yang berwenang mengingikan tahanan tersebut untuk bekerja, melakukan pekerjaan kasar selama berjam-jam setiap hari. “Mereka ingin membuat pikiran kami melunak dan membuat kami bekerja dengan mereka,” kata Toh, yang berumur 20 tahun saat penangkapan.

Para tahanan berusaha untuk bernegosiasi dengan mereka yang bertanggung jawab. “Kami ingin berdialog untuk waktu yang lama, tetapi itu tidak mungkin terjadi,” kata Goh. Dia berumur 18 tahun ketika ditahan. Para tahanan akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan yang drastis pada bulan Desember 1970. Delapan wanita, termasuk Toh, Goh, dan Sim, memulai aksi mogok makan. Sejumlah tahanan politk pria dalam penjara pria melakukan hal serupa. “Untuk minggu pertama kami minum air. Setelah itu, tidak ada,” kata Toh.

Perserta aksi mogok makan kemudian berakhir pada pemaksaan untuk makan secara brutal, pertama sekali, lalu dua kali, dan akhirnya tiga kali sehari. Tiga wanita tersebut masih memiliki ingatan yang jelas dari pengalaman tersebut:

“Mereka melengketkan tabung pada tenggokan kamu; jika mereka tidak bisa memasukkannya kedalam tenggorokan kamu mereka akan melengketkan tabung yang lebih keci ke hidung kamu. Akan ada tabung diujung lainnya dan mereka akan tuangkan susu kedalam tabung itu. Kemudian, mereka akan menambahkan banyak suplemen pada susu tersebut.”

Mereka menceritakan tentang memar diseluruh tubuh mereka; lengan mereka diborgol ke kursi, dan wajah mereka ketika sipir memaksa mulut mereka terbuka. Tenggorokan mereka digosok secara kasar dengan tabung; Sim, yang berumur 25 saat penangkapan, teringat bahwa kadang-kadang ada darah dalam muntahnya saat perserta aksi mogok makan memuntahkan susu yang diberikan dengan paksa.

“Kami ingin mereka menyetujui permintaan kami [untuk tidak bekerja didalam tahanan, dan untuk kondisi yang lebih baik].  Kami menulis surat kepada orang tua kami memberitahu mereka bahwa kami ingin melakukan aksi mogok makan dikarenakan kondisi kami yang begitu keras,” kata Goh.

Selama berjalannya aksi mogok makan, keluarga dari para tahanan berusaha menekan pemerintah untuk memperbaiki kondisi para tahanan yang mereka cintai.

“Hari ini jika kehidupan tahanan politik harus mendapatkan dampak serius, otoritas LKY harus menanggung semua konsekuensi yang mengerikan. Otoritas LKY harus dengan segera menghentikan semua penganiayaan dan perlakuan buruk pada tahanan politik, menyelesaikan tuntutan yang wajar pada tahanan, membebaskan semua tahanan tanpa syarat,” mereka menulis di sebuah surat yang dipublikasikan Journal of Contemporary Asia in 1971.

Terlepas dari perlakuan yang menyakitkan dan memalukan, perserta aksi mogok makan dapat bertahan hingga 130 hari sebelum pihak berwenang mengalah. Para tahanan tidak diharuskan lagi untuk bekerja, dan beberapa kondisi diperbaiki.

Dr Poh Soo Kai, yang ditahan total selama 17 tahun, menyapa seorang teman di acara makan siang tahunan untuk ‘Kiri Tua’ Singapura. Tom White

Hari ini, anggota dari Kiri Tua mengenang saat dikelilingi teman-teman dan keluarga, tetapi masyarakat masih ditahan tanpa diadili menurut undang-undang seperti Undang-Undang Keamanan Internal dan Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Ketentuan Sementara). Tanpa tuduhan, pengadilan, atau akses ke tahanan, tidak ada cara untuk memverifikasi gugatan yang dibuat oleh Kementrian Dalam Negeri dalam pernyataan publiknya yang membenarkan penahanan tersebut.

 

MEMPELAJARI LEBIH LANJUT

The 1963 Operation Coldstore in Singapore: Commemorating 50 Years (Petaling Jaya: SIRD, 2013) diedit oleh Dr Poh Soo Kai, Tan Kok Fang, dan Prof Hong Lysa, memberikan pandangan yang beragam pada Operasi Coldstore dari perspektif akademisi dan mantan tahanan.

”The Fundamental Issue is Anti-colonialism, Not Merger’: Singapore’s “Progressive Left”, Operation Coldstore, and the Creation of Malaysia’ oleh New Naratif Managing Director Dr Thum Ping Tjin (Asia Research Institute Working Paper Series No 211, 2013) memberikan konteks sejarah pada Operasi Coldstore, yang merupakan bagian dari Singapura untuk melakukan merger dengan Federasi Malaya.

Jika anda tertarik dengan sumber utama yang dikutip diatas dalam artikel ini, anda bisa melihat berkas kasus ringkasan Operasi Coldstore (PDF, 14MB) yang diambil dari Arsip Nasional Pemerintah Inggris yang mana digunakan Dewan Keamanan Internal untuk memutuskan penangkapan dan penahanan 175 orang.

 

Jika anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Kirsten Han

Kirsten Han is Editor-in-Chief of New Naratif, and a Singaporean journalist whose work often revolves around the themes of social justice, human rights, politics and democracy. Her bylines have appeared in publications like The Guardian, Foreign Policy, Asia Times and Waging Nonviolence. As an activist, Kirsten has advocated for an end to the death penalty in Singapore, and is a founding member of abolitionist group We Believe in Second Chances. Reach her at kirsten.han@newnaratif.com.

Tom White

Originally from Bradford, West Yorkshire in the north of England, Tom is currently based in Singapore where he works as a freelance photographer. His photography has been published and exhibited internationally. Editorial clients include The New York Times, The L.A. Times, The Wall Street Journal, TIME magazine, The Guardian U.K, Thompson Reuters and The European Press Photo Agency.

Thum Ping Tjin

Thum Ping Tjin (“PJ”) is Managing Director of New Naratif and founding director of Project Southeast Asia, an interdisciplinary research centre on Southeast Asia at the University of Oxford. A Rhodes Scholar, Commonwealth Scholar, Olympic athlete, and the only Singaporean to swim the English Channel, his work centres on Southeast Asian governance and politics. His most recent work is Living with Myths in Singapore (Ethos: 2017, co-edited with Loh Kah Seng and Jack Chia). He is creator of “The History of Singapore” podcast, available on iTunes. Reach him at pingtjin.thum@newnaratif.com.

Teguh Harahap

Teguh Harahap is a freelance writer and translator based in Medan, Indonesia. Previously he worked as the editor of Koran Kindo, a weekly newspaper for Indonesian migrant workers based in Hong Kong.