Gemstones on sale at a market in Mogok. Mongkolchon Akesin

Perdagangan Batu Delima di Myanmar

Author: Joshua Carroll, Dewi Fitzpatrick
Published:

Sebelum menjadi pedagang permata yang makmur, Maung Gyi berpayah-payah di tambang batu delima di lembah Mogok di Myanmar selama dua puluh tahun. Ia mengambil risiko tanah longsor dan batu berjatuh saat menyaring tanah untuk mencari permata terkenal dari lembah tersebut. Batu yang berwarna merah seperti darah burung merpati itu dianggap sebagai batu delima terbaik di dunia. Namun, hanya saat beliau bertemu dengan seorang prospektor suatu malam – malam yang ditenagai bir – sekitar lima tahun yang lalu, beliau menjadi kaya.

Si prospector, seorang kenalan, masuk ke dalam kedai sederhana tempat Maung Gyi sedang minum bersama teman-temannya, dan menyatakan bahwa ia telah menemukan sebidang tanah yang belum dijelajahi, yang tampaknya kaya akan endapan. Prospektor tersebut tengah mengumpulkan sebuah kelompok untuk melakukan galian malam itu juga, dan ia bertana: siapa yang mau bergabung?

Maung Gyi menawarkan untuk menginvestasikan 100.000 kyats (sekitar USD 100) untuk peralatan dan kebutuhan penting lainnya untuk perusahaan perusahaan sederhana

tersebut. Yang lain menawarkan diri untuk menggali, dengan imbalan potongan dari keuntungan. Bahkan wanita yang memiliki kedai tersebut ikut patungan dengan jumlah setara dengan beberapa gelas minuman.

Kelompok tersebut tiba di tanah prospek sekitar tengah malam dan mulai menggali poros tambang vertikal. Operasi spontan ini tanpa izin dan ilegal, dan meski pasar gelap di Myanmar tumbuh subur berkat pejabat setempat yang korup, bekerja di tengah malam saat gelap lebih aman bagi mereka. Para pekerja, yang mabuk karena sensasi judi yang mereka alami, bekerja sepanjang malam.

Keesokan paginya, perjudian mereka terbayar dengan cara yang spektakuler; tak lama setelah matahari terbit, mereka menemukan sebuah batu dengan 113 karat. Batu tersebut sangat berharga, sehingga pemilik kedai berhasil mengumpulkan ribuan dollar. Permata itu menghasilkan lebih dari USD 800,000 bagi kru, dan potongan keuntungan Maung Gyi bernilai sekitar USD 100,000 katanya.

“Setelah itu, hal-hal menjadi lebih baik bagi saya,” kata pria berumur 43 tahun itu, saat kami menyesap teh masala di sebuah restoran di pusat kota Yangon, di mana ia sekarang menikmati hidup yang nyaman, sambal jual-beli permata berharga. Di sebuah jalan yang dikelilingi pepohonan di sekitarnya, pedagang permata hinggap di trotoar menawarkan pernak-pernik. Seorang pria memandang dengan tajam melalui sebuh alat pembesar saat melihat seikat batu giok kecil, kemudian ia tertawa terbahak-bahak, tampaknya ia tidak terkesan dengan kualitas permata itu.

Kekayaan besar terpendam di dalam kerak bumi sementara kemiskinan ekstrim menghancurkan mereka yang tinggal di atasnya

Mereka yang terlibat dalam pasar permata berharga di Myanmar menavigasi wilayah yang dipenuhi alam yang ekstrim, yang mungkin akrab bagi orang-orang di negara yang kaya akan sumber daya alam, namun tidak berfungsi secara ekonomi. Kekayaan besar terpendam di dalam kerak bumi sementara kemiskinan ekstrim menghancurkan mereka yang tinggal di atasnya.

Laksmann shows off his ring, a sapphire he bought in Mogok. Joshua Carroll

“Di Mogok, seorang pria dapat berjuang untuk memberi makan keluargnya pada pagi hari, lalu menjadi kaya pada malam hari,” kata Lakshmann Neopane, pedagang permata lainnya yang menghabiskan sebagian besar masa mudanya bekerja keras di tambang Mogok, sebelum menjadi seorang pengusaha. Ia memakai sebuah batu safir biru yang besar di jari manis kanannya; yang ia beli di kota yang terletak beberapa ratus kilometer sebelah utara Mandalay, kota kedua Myanmar.

 

Perdagangan Kontroversial

Tidak semua penambang seuntung Maung Gyi dan Neopane. Kebanyakan dari mereka terus bekerja keras dalam kondisi yang parah dan berbahaya, dan menerima bayaran yang rendah sementara militer Burma dan kroni-kroninya menikmati sebagain besar dari keuntungan, dan mencengkram ketat industri ini meski adanya reformasi ekonomi yang dimulai pada tahun 2011.

Myanmar dilaporkan memproduksi lebih dari 80% dari batu delima dunia, namun berkat dekade isolasi dulu di bawah junta dan pembatasan akses bagi orang asing ke wilayah pertambangan Mogok, perdagangan tersebut tetap buram dan terperosok dalam kontroversi. Sebuah keputusan oleh AS untuk mencabut sanksi terhadap batu giok dan batu delima pada akhir tahun 2016 mendapat kritik dari para aktifis hak asasi manusia, namun statistik industry berpendapat bahwa ini merupakan sebuah kesempatan bagi pembeli baru untuk menaikkan standar industri.

Mungkin ada kebenaran di balik seruan untuk mengembalikan sanksi. Bagi pedagang seperti Neopane, kedatangan pembeli asing sejauh ini berdampak minimal. Ia telah berurusan dengan hanya beberapa pembeli Amerika sejak berakhirnya sanksi, namun secara keseluruhan, katanya, bisnis berukuran sedang tidak dipengaruhi oleh larangan AS karena sosok militer dan kroninya, serta pembeli dari Cina dan India, yang terus membeli permata dari Mogok untuk menyimpan kekayaan mereka di luar buku. Namun larangan tersebut membuat lebih sulit bagi elit papan atas untuk menjual permata mereka untuk kedepannya, paparnya.

Jika penilaian ini benar, ini memperkuat panggilan para aktivis untuk melakukan boikot. “Sanksi AS tidak menimpa orang-orang Mogok,” kata Neopane, “tetapi sanksi tersebut menyerang kroni-kroninya.”

Burmese gems traders at Mogok local market trade many kinds of precious stones, especially rubies, sourced from local mines. Mongkolchon Akesin

Pemerintahan baru Myanmar, yang dipimpon oleh Aung San Suu Kyi, telah mengeluarkan pendapat yang kuat tentang keinginannya untuk mereformasi sektor ini. Setelah kejadian tanah longsor di daerah pertambangan batu giok di daerah Hpakant di negara bagian Kachin yang membunuh lebih dari seratus orang pada akhir tahun 2015, pemerintahan Aung San Suu Kyi yang baru terpilih itu berjanji untuk memperketat standar keselamatan. Di tahun berikutnya, para pejabat mengumumkan pembekuan pada semua ijin pertambangan baru sampai adanya reformasi. Mereka juga memulai konsultasi umum tentang pertambangan, dengan pertemuan di Myitkyina, ibukota Kachin, dan Mogok baru-baru ini.

Kelompok masyarakat sipil dan pengawas mengatakan bahwa gerakan-gerakan ini memberi semangat, dan sampai saat ini perdebatan mengenai sanksi yang diangkat telah gagal. Namun tindakan brutal terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine sejak Agustus tahun lalu telah menghidupkan kembali kemarahan pada pihak-pihak yang terlibat dalam industri permata berharga yang membatu menebalkan dompet militer.

 

Keuntungan dan Tanggung Jawab

Jauhari mewah Cartier mengumumkan bulan lalu bahwa mereka akan berhenti membeli batu permata dari Myanmar setelah menjadi target dalam sebuah kampanye yang menuduhnya mendapat untung dari “permata genosida”. Kampanye Internasional untuk Rohingnya, yang berbasis di AS kini mendorong agar jauhari Bulgari – yang menjual kalung dan anting-anting yang dihiasi oleh batu safir, batu delima dan giok dari Myanmar – turut mengikuti jejak Cartier.

Sementara itu, terselip di sebuah toko kecil yang terang benderang, yang terletak di sebelah sebuah restoran perajin di pusat kota Yangon, sebuah start-up perhiasan sedang berusaha untuk membukitkan bahwa ada baiknya ikut-serta di dalam industri permata daripada menghindarinya.

Batu-batu permata yang dijual di Mia Ruby, yang mulai berbisnis satu tahun yang lalu, diperoleh dengan cara yang bertanggung jawab, kata Amber Cernov, pendiri toko tersebut yang berasal dari Australia. Artinya, bisnis mereka bertujuan menghindari melakukan transaksi apapun yang dapat menyebabkan uang transaksi tersebut jatuh ke tangan militer, jelasnya. Batu delima yang berkilauan di lemari kaca di toko ini semuanya bersumber dari tambang keluarga di Mogok, yang, sejauh Cernov bisa menilai, tidak memiliki hubungan dengan para jenderal militer.

“Saya tidak mengatakan perdagangan kami bersikap etis, saya mengatakan kami bertanggung jawab”

Cernov mengatakan bahwa ia telah menjelaskan kepada pemasoknya bahwa usahanya memiliki kebijakan untuk tidak melakukan perdagangan dengan tambang militer manapun, “dan mereka tahu bahwa itu benar-benar standar saya.” Perusahaan keluarga tersebut beroperasi dibawah usaha patungan dengan Kementrian Sumber Daya Alam, yang terbentuk ketika pemerintahan sipil baru menggabungkan Kementrian Pertambangan dan Kementrian Lingkungan setelah mulai berkuasa pada tahun 2015.

Namun mustahil untuk memastikan bahwa militer tidak mendapatkan keuntungan apapun di sepanjang rantai pasokan. “Seperti segala sesuatu dalam perdagangan permata, ini tergantung pada kepercayaan dan komitmen para keluarga tempat di mana kami membeli batu,” kata Cernov. Perilaku pemasuknya sejauh ini tampaknya menjanjikan, tambahnya. “Terkadang…kami tidak bisa mencari permata yang kami butuhkan, karena keluarga pemasok menginformasikan bahwa mereka hanya dapat menemukan ukuran, kualitas atau kuantitas yang sedang kami cari dari sumber yang terkait dengan militer.”

Jewellery made with rubies from Mogok at Mia Ruby. Joshua Carroll

Hanya menghindari perusahaan militer tidak akan cukup untuk mengubah industry ini ke standar yang bisa diterima. “Saya tidak mengatakan perdagangan kami bersikap etis,” tambah Cernov, “Saya mengatakan kami bertanggung jawab, karena kami berusaha mengoperasikan yang terbaik dalam batasan lingkungan saat ini.”

Contohnya, para penambang yang bekerja untuk pemasoknya “dari apa yang dapat saya katakan…. Mereka sebenarnya menerima upah yang cukup baik jika dibandingkan kontribusi mereka, namun apakah pembayaran upah tersebut mematuhi undang-undang ketenagakerjaan masih dipertimbangkan.”

Cernov berpendapat bahwa jika seseorang berada di industri yang mendorong pemasok untuk meningkatkan standar, keadaan akan membaik dengan cepat. Mia Ruby secara teratur membahas dan mengangkat isu “standar kesehatan dan keselamatan tempat kerja” dengan pemasoknya, kata Cernov. “Namun, sebagai usaha kecil yang masih baru, kami tidak memiliki kapasitas untuk menjaga ketertiban untuk diri sendiri.”

Ia menambahkan, “Saya pikir masih banyak masalah di sana mengenai kondisi kerja. Kesehatan dan keselamatan kerja … bukan yang telah diterima dengan baik di Myanmar. Titik. Jadi pastinya ini adalah sebuah masalah.”

Paul Donowitz, pemimpin kampanye untuk Myanmar di pengawas sumber daya alam Global Witness mengatakan: “Perusahaan yang tertarik untuk memperoleh batu delima pada konteks berisiko tinggi seperti Myanmar, harus mengambil langkah untuk memastikan bahwa mereka terlibat pada perdagangan yang bertanggung jawab. Ini berarti menerapkan langkah-langkah untuk menilai potensi adanya risiko terhadap hak asasi manusia dan dampak berbahaya lainnya dalam rantai pasokan batu delima.”

 

Kondisi yang Berbahaya

Maung Gyi sangat menyadari kondisi bahaya yang dihadapi pekerja tambang di Mogok. Ketika berusia awal dua puluhan, adik laki-lakinya terbunuh saat sedang mengoperasikan katrol bertenaga tangan untuk mengangkat sebuah gumpalan batu besar dari sebuah tambang. “Orang-orang bahkan menyalahkannya dan berkata ‘seharusnya ia lebih hati-hati, dia tahu itu sangat berisiko’,” kata Maung Gyi.

“Setiap pekerja harus mempertaruhkan nyawanya,” tambah Neopane. Ia mencomot sebuah bola pakora gorengan dari meja dan memegangnya diantara jari besar dan jari telunjuknya. “Jika batu yang ukurannya hanya sekecil ini jatuh di poros tambang dan memukul Anda, itu bisa membunuh Anda,” katanya.

Terkadang, tambang poros digali terlalu dekat satu sama lain, tambahnya, dan bumi diantaranya bisa ambruk. Di pertambangan yang lebih dalam, di mana tidak ada cukup oksigen, beberapa pekerja telah tercekik. Neopane memperkirakan bahwa 10-20 orang meninggal di Mogok setiap tahunnya karena kecelakaan di pertambangan.

Untuk mencapai perubahan, “Industri batu delima di Myanmar harus membuka diri dan melantik pemeriksaan dan peraturan yang ketat terhadap korupsi dan pelecehan,” kata Donowitz. “Ini penting, untuk meyakinkan perusahaan yang bertanggung jawab, bahwa mereka dapat terlibat dalam perdagangan tanpa menyebabkan kerugian.”

 

Jika Anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Joshua Carroll

Joshua Carroll is a freelance reporter based in Myanmar. His work covers human rights, development and media freedom. He tweets at @jershcarroll

Dewi Fitzpatrick

Dewi Fitzpatrick stems of Indonesian and English origins and has lived in Singapore for the past seven years. Upon graduating with a Bachelor of Arts in History from the National University of Singapore, Dewi decided to stay on in Singapore to work in arts management. Currently, Dewi is a research analyst in the corporate sector focusing on Indonesia and Malaysia.

If you enjoyed this article...

Join the movement and spread the love

If you enjoyed this article and would like to join our movement to create space for research, conversation, and action in Southeast Asia, please subscribe to New Naratif—it’s just US$52/year (US$1/week)!