Perjuangan Melestarikan Bahasa Hokkien Penang

Author: Koh Aun Qi, Dewi Fitzpatrick
Published:

Nenek saya dulu tinggal di sebuah desa di pulau Penang, terletak di pesisiran peninsula Malaysia Barat. Setiap kali saya mengujunginya, beliau selalu duduk di dapur sambil minum kopi hitam lokal yang kental.

Saya selalu menyapa beliau dengan bahasa Hokkien Penang, sebuah dialek lokal. “Ahma, lu ho bo? (Ahma, apa kabar?)” dan beliau akan menjawab, dengan suara tipis dan goyahnya, “Ho, ho. (Baik, Baik.)” Kami akan terus mengobrol dengan campuran bahasa Mandarin dan Hokkien, karena saya tidak cukup fasih untuk bercakap-cakap hanya dengan bahasa Hokkien.

Namun, ada beberapa kata-kata Hokkien yang tidak bisa di terjemahkan oleh Nenekku. Karena itu, kita sering terjebak dan berhenti berbincang sampai salah satu dari kita mengganti topik yang baru. Terkadang—dan ini sangat memalukan untuk diakui – tetapi saya sering berpura-pura mengerti apa yang dia bicarakan, walaupun sebenarnya saya tidak mengerti.

Beliau telah meninggal tiga tahun yang lalu. Namun, rasa frustrasi beliau dengan ketidakmampuannya untuk berbicara kepada saya dengan puas – bersamaan dengan rasa malu dan kesesalan saya—mengundang pertanyaan, apakah generasi saya yang lain mempunyai kesulitan untuk berbicara bahasa Hokkien Penang juga? Bila iya, mengapa demikian?

Asal-usul Hokkien Penang

Pulau Penang dan “Seberang Perai” di semenanjung, merupakan salah satu bagian dari 13 negara di Malaysia. Secara historis, Penang memiliki populasi Tionghoa yang dominan, masyarakat asing di sebuah negara yang mempunyai mayoritas penduduk Melayu.

Menurut laporan Sensus Penduduk dan Perumahan Malaysia tahun 2010 yang lalu, ras Tionghoa merupakan 43% populasi di Penang. Orang Tionghoa setempat, termasuk saya, kebanyakan adalah keturunan pendatang Hokkien dari provinsi Fujian di Cina Selatan. Masyarakat Hokkien disana adalah yang paling awal dan kemudian terbesar yang telah didirikan pada saat Inggris penjajahan di Penang pada tahun 1786.

Pada saat Malaysia mendapatkan kemerdekaanya pada tahun 1957, sensus penduduk tahun itu mencatat bahwa ada 113.945 orang Hokkien yang tinggal di pulau Penang, mewakili sub-kelompok yang terbesar (38%) dalam penduduk Tionghoa setempat, diikuti dengan Kantonis (16.5%) dan Tiochiu (9.8%). Dengan ukuran populasi dan dominasi ekonomi terbesar, bahasa Hokkien menjadi lingua franca di antara berbagai komunitas imigran Tionghoa di Penang.

A woman cycling through the morning street market on Kuala Kangsar Road, Penang. Penang Hokkien is still widely used among the older generation in public places such as markets and food stalls. Koh Aun Qi

Hari ini, bahasa hokkien dapat didengar di keramaian pasar, food court, dan kopitiam (kafe). Bagi nenek saya, berbicara dengan bahasa Hokkien Penang adalah bagian dari warisan kultur keluarga peranakannya bersama dengan sarung, sepatu manik dan gaya masakan nyonya yang sedap.

Bahasa Hokkien Penang itu serupa namun juga berbeda, dengan berbagai variasi bahasa Hokkien lainnya di Malaysia. Sebagai komunitas yang lebih tua, bahasa Hokkien Penang lebih dekat dengan bahasa dialek Tang Min dibanding dengan bahasa dialek standar amoy, yaitu salah satu tipe bahasa Hokkien yang digunakan oleh komunitas imigran Tionghoa yang baru.

Bahasa Hokkien Penang menjadi unik karena bahasa ini mengasimilasi bahasa Melayu, dengan menggunakan kata-kata seperti lah, pun, dan nya. Ditambah dengan penggunaan kata-kata serapan dari Bahasa Melayu seperti kata benda (senduk, balai) dan kata kerja (tarik). Penggunaan kata-kata dari bahasa Melayu di Bahasa Hokkien Penang bisa ditelusuri kembali ke kultur Tionghoa Peranakan di Penang yang dikenal sebagai Baba-Nyonya, yang merupakan keturuan dari perkawinan silang antara imigran Tionghoa dengan penduduk setempat.

Saya adalah generasi kelima Tionghoa Peranakan dari sisi keluarga Ibu saya.

Komunitas Tionghoa Peranakan awal di Penang menggunakan bahasa Baba Malay, yaitu versi bahasa malayu mereka. Namun, bahasa Hokkien Penang nantinya menggantikan bahasa Baba Malay dan menjadi bahasa dominan di masyarakat.

Alasan mengapa hal ini dapat terjadi masih tidak diketahui, namun Teoh Boon Seong dan Lim Beng Soon dari Universitas National Singapura (NUS) mengsuggestikan dalam studi tahun 1999 yang diterbitkan oleh Jurnal Malaysia Branc of the Royal Asiatic Society, bahwa kamus bahasa Hokkien secara bertahap telah diserap ke dalam bahasa Baba Malay, seiringan dengan kultur Tionghoa Peranakan untuk berasimilasi menjadi kultur Tionghoa secara keseluruhan.

Bahasa Hokkien Penang terancam

Saat ini belum ada data resmi mengenai jumlah pengguna aktif Bahasa Hokkien di pulau Penang ataupun negara Malaysia.

Ong Wooi Leng, kepala program ilmu sosial dan statistik di think tank menjelaskan bahwa data dari tiga sensus nasional yang lalu (1991, 2000, 2010) mencantumkan bahasa Hokkien sebagai bahasa dialek Tionghoa yang paling banyak digunakan di Penang dan Malaysia.

Namun, apakah keturunan Tionghoa sekarang dapat berbicara dengan bahasa asli dialek mereka adalah hal yang terpisah kata Ong, ditambah dengan data bahasa yang belum diterbitkan dalam tiga sensus nasional terakhir.

The Penang Institute menerbitkan sebuah artikel di bulan Mei tahun ini yang berjudul “Penang Hokkien on Life Support (Dukungan Hidup Hokkien Penang),” di mana ia mencatat pengamatan para ilmuwan dan penggemar bahasa, bahwa kaum muda Penang kebanyakan menggunakan bahasa Mandarin dan Inggris, dibanding bahasa dialek mereka sendiri.

Demikian pula, laporan beberapa media mengenai masalah tersebut akhir-akhir ini, “Has Mandarin Replaced Hokkien in Penang? (Apakah bahasa Mandarin sudah menggantikan bahasa Hokkien di Penang?)” di Malay Mail Online pada tanggal 19 Agustus 2017.

Sebuah studi di tahun 2006 oleh Xu Li Shan, seorang warga negara Malaysia, dari Universitas Zhejiang untuk tesis studi tingkat Masternya dalam literatur dan bahasa Cina menemukan bahwa, kurang dari 800 murid asal Penang di Tionghoa menggunakan bahasa Hokkien Penang sebagai bahasa pertama, meskipun 72% dari mereka menggunakannya dengan Nenek dan Kakekknya.

Melestarikan Hokkien

Pertanyaan seputar bahasa Hokkien Penang sejajar dengan diskusi yang besar mengenai beberapa bahasa dialek Tionghoa yang lain di Malaysia.

Baru-baru ini, pada tahun 2013 stasiun radio Ai FM di Malaysia membatalkan siaran berita terakhir yang menggunakan bahasa dialek Tionghoa. Ini mengakibatkan kontroversi oleh koran The Straits Times di Singapura yang menjelaskan hal ini sebagai “Peringatan kematian dialek yang pelan namun pasti.” Program tersebut tetap meneruskan siarannya sebagai taggapan atas tekanan publik, namun perdebatan mengenai eksistensi dialek tetap berlanjut.

Sekarang ini ada gerakan untuk melestarikan bahasa Hokkien Penang, sebagian besar dengan meningkatkan penggunaan cara percakapan, menulis dan membaca. Sim Tze Wei, presiden Asosiasi Bahasa Hokkien Penang (HLAP), percaya bahwa penggunaan bahasa Hokkien Penang sedang menurun. “Buktinya dapat diamati dari perilaku linguistik kebanyakan anak-anak di Penang,” katanya.

Sim menyatakan bahwa 50 tahun yang lalu mayoritas anak di bawah usia 10 tahun menggunakan bahasa Hokkien untuk bergaul dengan teman-temannya, namun “pada tahun 2017, hal ini jarang dilihat di antara para anak-anak”.

HLAP, yang didirikan pada tahun 2014 ini, meluncurkan “Speak Hokkien Campaign (Kampanye Berbicara dengan bahasa Hokkien)” tahun lalu. Dengan tujuan mendukung penggunaan bahasa Hokkien dan seperti yang telah dijelaskan oleh Sim, mendorong orang untuk “mengubah perilaku mereka agar bahasanya tetap hidup.”

Kampanye ini aktif di Facebook dengan hampir 20.000 pengikut, dan menerbitkan poster dan video edukasi mengenai bahasa Hokkien Penang. Mereka juga mempunyai website yang mengajar publik untuk membaca dan menulis dalam bahasa Hokkien Penang, yang menurut Sim telah menerima 200-400 pengunjung setiap minggunya.

Publikasi kamus bahasa Hokkien Penang juga menandai sebuah langkah maju dalam meresmikan dan memperluaskan penggunaan bahasa Hokkien. Sekarang ada dua kamus Hokkien Penang-Inggris yang telah dirilis dalam empat tahun terakhir. Sementara HLAP sedang mengerjakan versi yang menargetkan kepada pengguna bahasa Mandarin.

Asosiasi ini juga sedang mengembangkan input bahasa Hokkien untuk smartphone. Khoo Salma, salah satu pendiri Areca Books di Penang, mengatakan bahwa perusahaan penerbitan tersebut telah menjual hampir 2.000 kopi kamus Luc de Gijzel Hokkien Penang-Inggris tahun 2013. Sementara versi baru Tan Siew Imm terjual 300 kopi.

“Walaupun jumlahnya tidak banyak, kita senang buku-buku ini ada di pasaran,” katanya. Ditambah dengan perusahaannya yang sedang merencanakan untuk menerbitkan kamus mengenai akademik New Zealand Catherine Churchman tahun depan.

Namun, di luar tujuan pendidikan, contoh penggunaan bahasa Hokkien Penang di “berbagai domain dan media baru”—yaitu adalah kriteria vitalitas bahasa yang ditetapkan oleh Badan Edukasi, Ilimiah, dan Kultural, Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) – terasa lebih sulit ditemukan.

Film Hokkien Penang pertama yang berjudul “You Mean the World to Me (Kamu segalanya untukku)”, yang ditayangkan untuk mendapat sambutan luas tahun ini merupakan contoh penting penggunaan dialek dalam bentuk artistik.

Selain itu, anggota HLAP juga menggunakan bahasa Hokkien dengan beberapa cara yang inovatif. Salah satu contohnya adalah podcast mingguan oleh anggota HLAP, John Ong, yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade. Podcast ini, dilakukan dengan menggunakan bahasa Hokkien Penang sepenuhnya, diikuti dengan format obrolan dan mengundang tamu untuk mendiskusikan topik mulai dari cerita hantu hingga Drag Queen dan durian.

Ditambah dengan, HLAP menerbitkan buku puisi unik oleh sekretarisnya Ooi Kee How tahun lalu yang bekerja sama dengan penulis asal Penang, Yasmin Bathamanathan, yang menampilkan puisi yang diterjemahkan dari Bahasa Hokkien ke Bahasa Inggris dan sebaliknya.

Unless efforts to preserve the dialect continue and intensify, entire generations of Chinese Hokkiens could soon lose touch of a dialect that is unique to the Penang Hokkiens. Koh Aun Qi

Akar Masalah

Ada sejumlah faktor yang bertanggung jawab atas penurunan penggunaan bahasa Hokkien Penang di kalangan kaum muda.

Salah satu unsur tersebut adalah kebijakan informal yang melarang siswa berbicara dalam bahasa dialek di sekolah Cina Malaysia.

Di sekolah saya, satu-satunya bahasa Tionghoa yang diizinkan untuk digunakan adalah bahasa Mandarin. Kedisiplinan ini mengurangkan penggunaan bahasa dialek seperti bahasa Hokkien, Kanton, Hakka, atau Fang Yan (dialek) lainnya.

Seniman asal Penang, Chew Win Chen, dikenal dengan nama Okui Lala, mengingat ketatnya larangan bahasa dialek Fang Yan di sekolahnya. Ketua kelasnya menangkapnya menggunakan bahasa Hokkien ke temannya dan menghukum dia dengan disiplin.

“Di SMA, aku termasuk seorang pemberontak. Dulu berbicara dengan bahasa Hokkien itu termasuk keren, karena itu aku suka menggunakan frase Hokkien saat berbicara dengan teman-teman,” kata Chew.

Kurangnya dukungan instusional untuk dialek dan dominasi bahasa Mandarin, dapat ditelusuri kembali dari evolusi identitas Tionghoa Malaysia pada abad ke-20.

Sekolah-sekolah Tionghoa di Kolonial Malaya pada awalnya berorientasi dengan bang (bang merupakan dialek dan wujud geografis). Pembagian di sekolah mencerminkan persaingan dan konflik Antar Kelompok Bang yang lebih besar di masyarakat Tionghoa Melayu.

Peringatan nasionalisme di Cina setelah pembentukan negara republik Cina pada tahun 1912, dan gerakan 4 May pada tahun 1919, telah menginspirasikan pemimpin masyarakan Tionghoa di Malaya Inggris untuk mengadopsikan pendidikan yang lebih terpadu, termasuk standarisasi penggunaan bahasa Mandarin di kelas.

Larangan penggunaan bahasa dialek di sekolah-sekolah Tionghoa Malaysia telah diperkenalkan secara bertahap, walaupun tidak ada yang tahu persis awal mulanya.

Prihatin dengan turunnya penggunaan dialek, sebuah sekolah mendorong murid-muridnya untuk menggunakan bahasa Hokkien Penang.

“Kami mengizinkan siswa-siswi kami untuk menggunakan dialek dalam acara sekolah dan kompetisi seperti drama dan bernyanyi,” kata kepala sekolah SMA Privat Ng Jooi Seah, Chung Ling.

Inisiatif ini, yang dipelopori bersamaan dengan HLAP, dimulai dari tahun lalu karena Ng prihatin dengan kondisi peninggalan “bahasa tradisional” di kalangan kaum muda. Dia menekankan bahwa sekolah tersebut tidak hanya fokus untuk mendorong penggunaan bahasa Hokkien Penang, namun juga dialek lainnya.

Mantan kepala sekolah SMA saya, Yeoh Loy Cheow tidak setuju dengan klaim yang menyalahkan sekolah atas kemunduran penggunaan bahasa Hokkien Penang.

Sekolah harus terus mengajar terutama dalam bahasa Mandarin, sementara “itu adalah tanggung jawab orang tua untuk mempraktikkan penggunaan dialek dalam berbicara di rumah”, kata Yeoh.

Dalam sebuah survei terhadap 100 orang ibu dari keluarga urban Tionghoa di Penang, tercatat bahwa para ibu menggunakan bahasa Mandarin dan Inggris secara strategis dalam mengasuh anak mereka.

Selain itu, para ibu secara signifikan lebih jarang menggunakan dialek dalam berkomunikasi dengan anak-anak mereka, dengan 21% dari mereka berbicara dalam bahasa Hokkien dan 73% berbicara dalam bahasa Inggris.

Sesuai dengan apa yang Wang Xiaomei, seorang sosiolinguistik dari Universitas Xiamen Malaysia, temukan dalam studinya sendiri tentang kelompok dialek Tionghoa lainnya, bahasa dialek Hakka, di Penang.

Dia menyebutnya “Family language policy (kebijakan bahasa dalam keluarga),” penggunaan bahasa Mandarin dipandang sebagai bahasa yang paling penting bagi orang Malaysia Tionghoa untuk menjaga identitas mereka, dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional untuk karir masa depan anak-anak mereka.

“Semua dialek tidak memiliki tanda prestise untuk bersaing dengan bahasa ‘besar’ seperti bahasa Mandarin dan Inggris,” kata Wang.

Sedangkan untuk diriku sendiri, saya dibesarkan terutama dengan berbicara bahasa Inggris di rumah, bahasa Mandarin di sekolah, dan menggunakan bahasa Hokkien Penang saat berbicara dengan nenek, kakek dan orang yang lebih tua.

Pilihan untuk mengirim saya ke sekolah Tionghoa sangat dipengaruhi oleh ibu saya, yang ingin sekali saya belajar bahasa Mandarin. Dulu dia belajar di sekolah yang menggunakan bahasa Inggris saat muda dan sering mengatakan kepada saya bahwa dia berharap bisa belajar bahasa Mandarin, karena “bahasa itu sangat berguna,” kata ibu saya.

Saya baru-baru ini menyelidiki apa yang dia maksud dengan “berguna.”

“Yah, saya seorang Tionghoa, dan saya bangga,” jawabnya. “Jika saya dulu belajar bahasa Mandarin, saya bisa pergi ke Cina dan menggunakannya.”

Keterikatan Paradoks

Seniman Chew baru-baru ini membuka pameran instalasi video di Galeri Seni Nasional di Kuala Lumpur, berjudul “My Language Proficiency (Kemampuan Bahasa Saya)”, di mana dia melakukan panel diskusi dengan dirinya sendiri dalam empat bahasa – bahasa Melayu, Mandarin, Inggris, dan Hokkien Penang.

Pada awal videonya, dia bertanya: apakah dia harus berbicara dengan Hokkien Penang, bahasa yang paling dirasa nyaman olehnya. Saya bertanya padanya apa yang dia maksud dengan “nyaman”.

“Itu berarti bahasa yang paling dekat dengan rumah; Itu membuat saya merasa mendasar,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dari keempat bahasa tersebut, rupanya dia paling tidak fasih dengan bahasa Hokkien Penang.

“Dalam video itu, saya ‘campur’ banyak kata-kata dari bahasa lain saat saya berbicara dalam bahasa Hokkien,” catatnya.

Ini adalah paradoks yang aneh. Generasi saya tidak bisa berbahasa Hokkien Penang dengan baik, namun bahasa inilah yang paling mungkin kami kaitkan dengan keluarga kami, dan rasa “mendasar.” Keterikatan emosional kepada bahasa Hokkien Penang inilah yang membuat kita yang tidak tau apa-apa merasa pahit.

“Seperti peribahasa Melayu—tak kenal, maka tak cinta” Jika tidak diajarkan, maka mudah hilang,” kata Chew.

 

Jika Anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Koh Aun Qi

Koh Aun Qi is a sub-editor at Malaysia's first independent online news portal Malaysiakini. She is interested in post-colonialism and the politics of ethnic identity in Malaysia. In her spare time, she enjoys making desserts and believes pandan should be substituted for vanilla wherever possible. You can find her tweeting about current affairs and cake in equal measure at @AunQiKoh.

Dewi Fitzpatrick

Dewi Fitzpatrick stems of Indonesian and English origins and has lived in Singapore for the past seven years. Upon graduating with a Bachelor of Arts in History from the National University of Singapore, Dewi decided to stay on in Singapore to work in arts management. Currently, Dewi is a research analyst in the corporate sector focusing on Indonesia and Malaysia.

If you enjoyed this article...

Join the movement and spread the love

If you enjoyed this article and would like to join our movement to create space for research, conversation, and action in Southeast Asia, please subscribe to New Naratif—it’s just US$52/year (US$1/week)!