Apek Cafe di Medan telah beroperasi selama 80 tahun. Sekarang Apek Cafe dijalankan oleh Suyenti, yang mewarisinya dari ayahnya. Suyenti, yang menolak untuk memberi nama belakangnya, adalah orang Cina-Indonesia, dan Apek Cafe tidak banyak berubah sejak ayahnya pertama kali membuka pintunya setelah pindah ke Sumatera Utara dari Cina.

Ruang depan kecil dipenuhi beberapa meja komunal besar yang terbuat dari kayu; Suyenti tidak ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih modern karena mereka menambahkan suasana cafe. “Karena cara meja disusun, setiap orang yang menggunakannya harus berbagi,” katanya.”Pelanggan berbicara dengan orang-orang di meja yang sama dengan mereka dan semua orang ramah. Ini adalah daerah multikultural. ”

Kota Medan di Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu tempat paling multikultural di Indonesia. Sekitar 60% penduduknya beragama Islam sedangkan sekitar 29% beragama Kristen, dengan komunitas Buddha dan Hindu yang lebih kecil, dimana kebanyakan anggotanya terdiri dari orang Cina dan orang Tamil-Indonesia.

Namun, terlepas dari keragaman etnis yang relatif, Medan juga merupakan titik awal dari kerusuhan 1998 yang menargetkan bisnis Cina-Indonesia, kerusuhan yang menyebar di seluruh Indonesia dan menyebabkan seribu orang tewas. 20 tahun kemudian, liputan media tentang kekerasan terhadap orang Tionghoa-Indonesia cenderung melupakan fakta ini, dan bahwa kerusuhan ini awalnya tidak pernah timbul dari isu ras, etnisitas, atau agama. Tetapi pemahaman ini sangat penting pada saat di mana ada kekhawatiran bahwa ketegangan etnis mungkin akan meningkat sekali lagi di Indonesia.

Dimana Semua Berawal

Di Medan, yang reputasinya sebagai sarang aktifisme mahasiswa, terjadi demonstrasi mahasiswa selama berbulan-bulan melawan pemerintah Suharto pada tahun 1998. Sebagian besar demonstrasi ini terkait dengan kenaikan harga-harga di seluruh Indonesia, terutama biaya bensin dan listrik. Pada tanggal 4 Mei 1998, polisi memasuki Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri (IKIP Negeri) untuk membersihkan pemrotes mahasiswa. Impas daripada aksi ini menyebabkan tuduhan bahwa polisi menyerbu dan menyerang siswa, dan lebih dari 50 orang dikatakan ditahan. Keesokan harinya, kantor polisi tempat mereka ditahan dikelilingi dan diserang.

Kekerasan meningkat saat mahasiswa dan warga sipil turun ke jalan-jalan di Medan, menggeledah bangunan, membakarnya dan menghancurkan mobil-mobil. Massa yang marah menyerang bisnis milik orang Cina, dan mencakar “milik pribumi” yang berarti “milik orang asli Indonesia” di dinding-dinding. Tidak jelas berapa banyak korban jiwa di kejadian ini, namun beberapa perkiraan menyebutkan ada enam, dengan ratusan orang terluka. Kekerasan tersebut kemudian menyebar dari Medan ke Jakarta, dan kemudian ke Solo. Perkiraan mengatakan lebih dari seribu orang tewas dalam kerusuhan tersebut, dengan lebih dari 160 kasus pemerkosaan yang dilaporkan. Ribuan orang Cina-Indonesia melarikan diri dari Indonesia.

Suyenti runs Apek Cafe, which was fortunately safe during the anti-Chinese violence in 1998. Aidli Rizki Nasution

Suyenti beruntung; baik kedai kopi maupun lingkungannya tidak diserang. Tokonya ditutup selama beberapa hari, namun dibuka kembali beberapa hari kemudian. “Saya tidak memiliki masalah pada tahun 1998,” katanya. “Semua orang yang saya kenal di lingkungan itu sangat baik pada saya.”

Osma Halim menghadapi pengalaman berbeda. Kini, ia berusia 68 tahun dan sudah pensiun, namun pada tahun 1998 ia merupakan pedagang yang menjual saus botolan grosir ke toko-toko dan restoran lokal. Ia merupakan satu-satunya orang yang ditemui New Naratif untuk wawancara, yang bersedia membicarakan kerusuhan 1998 dan kekerasan secara rinci. Mayoritas dari mereka yang ditanya tidak ingin membahas periode gelap dalam sejarah Medan, dan mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk tidak tinggal di masa lalu.

Beliau mengingat massa gerombolan berandal yang datang ke daerah sekitar Jalan Asia, sebuah distrik yang terkenal memiliki komunitas Cina-Indonesia yang besar. Para berandal dipersenjatai dengan tongkat dan bebatuan. Ketika mendengar tentang serangan yang akan segera terjadi, ia langsung pulang dan mengunci diri dalam rumah. Selama satu bulan, ia bertahan dengan mie instan dan tidak berkeliaran di luar pada siang hari. Dalam minggu-minggu berikutnya, ia hanya meninggalkan rumah saat gelap untuk menjaga lingkungan tersebut dengan penduduk lokal lainnya. Mereka bekerja bergiliran, sehingga selalu ada barisan orang yang menjaga sekeliling Jalan Asia.

Daerah itu diserang beberapa kali antara 5 Mei dan 8 Mei. Halim mengatakan bahwa ia dan warga Cina-Indonesia lainnya mengumpulkan tumpukan batu dan melemparkannya ke kerumunan yang menyerang untuk mempertahankan lingkungan sekitar. Ia memperkirakan bahwa sekitar 1.000 orang mencoba menyerang daerah tersebut dan menyerbu toko-toko dan bisnis.

“Mereka melemparkan batu ke arah kita, selalu membidik kepala kita. Salah satu teman saya kehilangan matanya,” katanya sambil menggelengkan kepalanya. “Kami tidak punya apa pun untuk mempertahankan diri. Pada malam hari, saya melihat semua toko telah dijarah dan dihancurkan. Mereka mengambil semuanya. Tidak ada yang aman. ”

Politik di atas Ras

“Saya selalu berpikir bahwa ini adalah isu politik, bukan masalah ras,” kata Suyenti tentang kekerasan tersebut.

…berandal lokal telah ditugaskan untuk mengubah sebuah isu politik menjadi isu etnis, dan dengan demikian mengalihkan sorotan dari pemerintah

Perbedaan antara politik dan ras ini penting bagi sebuah narasi yang telah kacau selama ini. Protes mahasiswa dan kerusuhan selanjutnya sekarang hampir selalu disebut sebagai “kerusuhan ras” atau “kerusuhan anti-Cina” pada tahun 1998, namun asal-usul kerusuhan ini bukan isu ras, bahkan sentimen anti-Cina bukanlah yang menjadi fokus pemrotes mahasiswa. Protes tersebut tidak menyebutkan kelompok etnis tertentu dan sebenarnya fokus pada rezim Suharto, yang oleh banyak orang dianggap korup. Namun banyak orang menganggap penargetan masyarakat Tionghoa-Indonesia pada tahun 1998 merupakan regresi ke tahun 1965 dimana terjadi pembersihan anti-Komunis di Indonesia yang menyebabkan kira-kira 500.000 sampai satu juta orang tewas, termasuk banyak etnis Tionghoa.

Di karangan ‘Menjelaskan Kerusuhan Anti-Cina di Akhir Abad 20 di Indonesia’, Samsu Rizal Panggabean dan Benjamin Smith menjelaskan bahwa kekerasan anti-Tiongkok merupakan hasil daripada usaha untuk mengalihkan perhatian dari ketidakmampuan pasukan keamanan:

Tidak dapat di hindari bahwa kekerasan akan mengambil sisi etnis dan anti-Cina sampai kejadian penting yang tak terkendali pada 5 Mei. […] Ketidakmampuan baik unit polisi atau tentara untuk mengendalikan kejadian-kejadian tersebut, mengatur panggung untuk penempatan preman mereka, agar menggeser kerangka kerusuhan dari anti-rezim menjadi anti-Cina.

Sederhananya, berandal lokal telah ditugaskan untuk mengubah sebuah isu politik menjadi etnis, dan dengan demikian mengalihkan perhatian dari pemerintah – target demonstrasi yang asli. Ini bukan sebuah ketegangan ras yang mendalam yang meluap ke permukaan. Penargetan orang Tionghoa-Indonesia pada tahun 1998 merupakan langkah politik yang sinis dan sebagian besar dilakukan oleh para preman dan pemuda oportunis. Kekerasan, atau kekurangnya kekerasan, dapat bergantung pada keinginan para preman lokal; orang-orang Cina-Indonesia tetap aman di beberapa lingkungan karena preman setempat menolak mengizinkan seseorang untuk menjarah di daerah mereka atau menyentuh bisnis Cina. Salah satu warga Kampung Madras Cina-Indonesia di pusat kota Medan, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan kepada New Naratif: “Pemimpin mereka tidak mengizinkan para hooligan datang kemari. Dia melindungi kita.”

Andy, seorang Batak-Muslim yang meminta agar nama aslinya tidak disebut, adalah salah satu pemuda yang ikut dalam penjarahan saat itu. Ia berusia 13 tahun pada tahun 1998 dan mengingat beberapa perampokan kecil di lingkungannya.

“Saya pergi dengan teman-teman untuk melihat apa yang terjadi,” katanya. “Banyak jendela toko sudah hancur berantakan. Semua orang berlari ke dalam toko-toko. Jadi saya masuk ke toko sepatu dan mengambil semua sepatu yang bisa saya temukan. ”

Setelah sampai di rumah, ia menyadari bahwa ia telah mengambil semua model pajangan dan hanya memiliki kaki kanan dari setiap pasang sepatu. Ketika ibunya mengetahui apa yang telah dilakukannya, ia memukulinya dan menyuruhnya membawa semua sepatu kembali ke toko.

“Saya masih kecil, tentunya saya tidak mengerti situasi politik atau rasial,” katanya. “Saya hanya menginginkan sepatu gratis.”

Ketegangan Hari Ini

Konteks ini berfungsi sebagai lensa vital untuk melihat reaksi orang Tionghoa-Indonesia di Medan pada saat ketegangan etnis dan agama tercatat meningkat di Indonesia. Hal ini terutama terjadi setelah pemilihan gubernur yang memar di Jakarta pada tahun 2017, dimana ras dan agama dikatakan telah berperan besar untuk Anies Baswedan, seorang kandidat Muslim, yang berhasil meraih kemenangan atas gubernur Jakarta kemudian, Basuki Tjahaja “Ahok “Purnama.

Protes, meski sebagian besar damai, memicu kekhawatiran di seluruh Indonesia bahwa kerusuhan yang menarget orang Cina-Indonesia dapat terjadi lagi

Ahok – seorang Kristen Tionghoa-Indonesia yang mewarisi posisi gubernur setelah teman sepencalonannya, Joko Widodo, terpilih sebagai presiden pada tahun 2014 – dipenjara selama dua tahun di bulan Mei tahun ini dengan tuduhan penghujatan setelah dia dinyatakan bersalah menghina Islam dengan mengutip sebuah syair dari Qu’ran dalam sebuah pidato. Tuduhan tersebut secara luas dianggap sebagai bagian dari permainan kekuasaan politik untuk mencegah pemilihan kembali Ahok sebagai gubernur Jakarta. Menjelang hukumannya, ribuan orang Indonesia, yang diorganisasi oleh kelompok Muslim konservatif, turun ke jalanan untuk memprotes, meminta Ahok untuk dihukum. Protes, meski sebagian besar damai, memicu kekhawatiran di seluruh Indonesia bahwa kerusuhan yang menargetkan orang Cina-Indonesia dapat terjadi lagi. Baswedan, khususnya, dipandang telah dengan sengaja merayu para pemilih Muslim untuk mendapatkan kemenangan, dan dituduh menggunakan ras sebagai alat untuk menyebabkan perpecahan di antara berbagai komunitas etnis di Jakarta.

Osma recalls the violence in Medan in detail. Aidli Rizki Nasution

Halim menolak mengomentari kemungkinan efek riak dari sidang Ahok, karena khawatir bahwa kata-kata dukungannya untuk mantan gubernur tersebut dapat diambil di luar dari konteksnya, namun ia menggelengkan kepalanya tentang pendapat bahwa hal itu dapat menyalakan kembali ketegangan rasial di Medan; ia merasa aman sekarang dan mengatakan tidak khawatir.

“Kami tidak pernah bersatu, tapi kami selalu hidup berdampingan dengan baik,” katanya.

 

Jika Anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Aisyah Llewellyn

Aisyah Llewellyn is a British freelance writer based in Medan, Indonesia, and New Naratif's Consulting Editor for North Sumatra. She is a former diplomat and writes primarily about Indonesian politics, culture, travel and food. Reach her at northsumatra.editor@newnaratif.com.

Dewi Fitzpatrick

Dewi Fitzpatrick stems of Indonesian and English origins and has lived in Singapore for the past seven years. Upon graduating with a Bachelor of Arts in History from the National University of Singapore, Dewi decided to stay on in Singapore to work in arts management. Currently, Dewi is a research analyst in the corporate sector focusing on Indonesia and Malaysia.