Walau 10 tahun telah berlalu, Siew Kum Hong masih ingat betul dengan langkah jalannya dari tempat duduk beliau kepada Panitera Parlemen: “Saya begitu khawatir, saya takut tersandung dan jatuh! Saya lega bisa menyelesaikannya tanpa mengacaukan semuanya.”

Sidang parlemen seringnya merupakan acara yang penting tetapi sangat membosankan, namun petisi yang berada di tangan Siew merupakan permohonan yang signifikan, dan belum pernah diajukan sebelumnya: ini adalah pertama kalinya di Singapura dimana sebuat permohonan diajukan dengan dukungan rakyat.

Setiap orang laki-laki yang, secara umum atau pribadi, melakukan, atau bersekongkol dalam melakukan, atau memperoleh atau berusaha memperoleh komisi dari tindakan ketidaksenonohan kasar dengan seorang laki-laki lainnya, akan dihukum penjara hingga 2 tahun.
– Bab 377A, KUHP Singapura

Petisi tersebut meminta pencabutan Bab 377A daripada KUHP Singapura. Hukum tersebut mengkriminalkan seks antar pria, bahkan jika perbuatan tersebut konsensual dan terjadi secara pribadi. Adanya hukum ini menimbulkan efek samping; dengan secara efektif mengkriminalkan pria gay, 377A mempengaruhi posisi dan kebijakan pemerintah, contohnya representasi daripada komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender dan queer (LGBTQ) dalam media, dan penyertaan isu-isu LGBTQ dalam pendidikan seks di sekolah.

“Diskriminasi Terang-Terangan”

Setelah mininjau secara komprehensif KUHP, Departemen Dalam Negeri mengajukan amandemen pada bulan September 2007. Di antara daftar panjang perubahan yang disarankan adalah dekriminalisasi seks oral dan anal antara pasangan heteroseksual, sebagaimana tercakup dalam Bagian 377A. Namun tetapi, Bagian 377A tidak tersentuh.

George Hwang merasa ketidaksesuaian itu sangat menonjol. “Ini adalah diskriminasi terbuka. Dan saya pikir itu sangat bertentangan dengan fondasi pembentukan Singapura,” ujar beliau kepada New Naratif, mengacu pada janji-janji kesetaraan yang tercantum dalam deklarasi ikrar nasional, yang berkomitmen untuk membangun “masyarakat demokratis, berdasarkan keadilan dan kesetaraan”.

Hwang, dengan dukungan Stuart Koe – pendiri situs LGBTQ terkemuka Fridae – mendatangi Anggota Parlemen yang Dinominasikan saat itu, Siew Kum Hong, dengan gagasan untuk mengajukan petisi ke parlemen.

Independen dari usaha Hwang dan Koe, kelompok aktifis LGBTQ lainnya menemukan jalan mereka menuju apa yang akan menjadi kampanye Mencabut 377A. Menurut juru kampanye Alan Seah, ada dorongan tidak langsung dari sumber yang tak terduga: “Kami sedikit terinspirasi oleh Sir Ian McKellen [yang sedang tur dengan Royal Shakespeare Company] … dalam sebuah wawancara di Channel News Asia, beliau ditanya ‘Apa yang ingin Anda lakukan di Singapura?’ dan beliau berkata ‘Saya berharap bisa pergi ke bar gay!’ Mereka semua tidak tahu harus berbuat apa, itu merupakan pagelaran pagi dan [siaran] live! Saya tidak akan mengatakan bahwa dia adalah inspirasinya, tapi perbuatan dia pastinya mendorong kita untuk sedikit lebih nakal.”

Seah dan beberapa teman mendirikan situs Repeal377A.com Kampanye tersebut terbentuk di seputar petisi parlemen dan sebuah surat terbuka kepana Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Selebriti lokal muncul dalam sebuah video, diiringi lagu berirama pop, dengan seruan mereka untuk mencabut 377A.

Seah mengingat berkeliling ke bar gay untuk mengumpulkan tanda tangan. “Selalu sulit untuk membuat orang teraktivasi saat berada di klub!” Katanya sambil tertawa. “Tapi saya ingat responnya pada umunya cukup bagus.”

Beberapa perusahaan lokal memasang kotak-kotak tempat orang bisa menyetor tanda tangan mereka; beberapa individu yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kampanye Mencabut 377A pun mengumpulkan tanda tangan dari teman sebayanya. Hwang telah menetapkan target 200 tanda tangan, namun responnya melebihi harapannya sepuluh kali lipat. Pada tanggal 22 Oktober, Siew mengajukan petisi dengan 2.341 tanda tangan ke Parlemen. Surat terbuka tersebut, yang diserahkan ke Kantor Perdana Menetri, memiliki 8.120 tanda tangan.

Otto Fong

Sedotan dan Hidung

Di Parlemen, pidato Siew mengutip komentar yang ditinggalkan oleh penandatangan surat terbuka, termasuk satu dari seorang ibu:

Anak putra saya mengaku gay di saat dia berumur 22 tahun. Dan saya kesal dan menyalahkan diri saya sendiri karena anak saya gay. Saya terus menerus menyalahkan diri sendiri. Tapi dia anak saya… Saya mencintainya apa adanya. Karena itu saya merasa mual saat orang-orang berpikir hanya karena dia gay, keluarga kami bukan seperti apa adanya. Kami adalah sebuah keluarga… Dia tidak tahu saya mendukung pencabutan 377A ini. Anak saya bukan kriminal. Jika saya, ibu yang melahirkannya bisa menerimanya, siapakah orang-orang ini yang begitu cepat menghakiminya dan mengutuknya?

Beberapa anggota Parlemen, termasuk anggota Partai Aksi Rakyat yang berkuasa (PAP), berpidato mendukung pencabutan. Tetapi yang lain berpendapat kuat untuk retensi 377A. Anggota Parlemen yang Dinominasikan Thio Li Ann memberikan pidato debat yang paling berkesan – yang masih direferensikan oleh para aktifis saat ini – menuduh “aktifis homoseksual” mencoba untuk “membajak inisiatif hak asasi manusia untuk melayani agenda politik mereka”. Ia menyamakan seks anal dengan “menyorongkan sedotan ke dalam hidung Anda untuk minum”, dan menyetujui upaya untuk membantu orang gay menyingkirkan ketertarikan sesama jenis kelamin mereka, dan “memenuhi potensi heteroseksual mereka”.

“Itu bener-benar membuat rahang terjatuh,” kata Seah, “Dan fakta bahwa [anggota parlemen lainnya] memberi tepukan tangan kepadanya, itu bener-benar menggangu.”

“Seluruh saga bagian 377A pada tahun 2007 itu memberi saya kesadaran kasar bahwa ada segmen populasi di Singapura yang tidak hanya konservatif, tetapi terlalu fanatik karena mereka mengadvokasi pemenjaraan bagi perlakuan seks konsensual antara dua orang pria dewasa dalam privasi rumah mereka sendiri,” kata Hwang.

“Keluar dari Lemari”

Semua argumen, liputan media dan video selebriti tidak cukup untuk menggeser undang-undang. Ada perlawanan; sebuah petisi kontra yang mendesak agar 377A di taati, berhasil mengumpulkan lebih dari 15.000 tanda tangan. Pemerintah enggan untuk bergerak, dan Parlemen memilih untuk mempertahankan undang-undang tersebut.

“Jika kami mencoba untuk memaksakan masalah ini, dan menyelesaikan masalah secara definitif, dengan satu atau cara lain, kami tidak akan pernah mencapai kesepakatan di masyarakat Singapura,” ucap Perdana Menteri Lee Hsien Loong.

Namun, para aktifis dan sekutunya tidak memandang upaya Mencabut 377A sebagai sebuah kegagalan. “Mungkin sulit untuk membayangkan hari ini, tapi saat itu, ada lebih banyak orang yang menghardik orang-orang LGBTQ di depan umum daripada ada orang yang membela kebebasan mereka untuk menjadi diri mereka di depan publik,” kata Siew. “Perdebatan sekitar 377A di tahun 2007 baik di dalam maupun di luar Parlemen berlangsung sangat terbuka, dan banyak orang, khususnya pendukung mencabut 377A yang sendirinya bukan gay, berdiri di depan umum untuk menentang diskriminasi anti-LGBT untuk pertama kalinya.”

“Walaupun kami tidak berhasil, untuk pertama kalinya, kami bersatu dan terorganisir,” kata Indulekshmi Rajeswari, pemimpin proyek sebuah buku panduan hukum untuk keluarga LGBT di Singapura. “Perserikatan dan hubungan ditempa dalam upaya yang masih berdampak pada aktifisme LGBTQ saat ini.”

“Ini membawa masyarakat kita ‘keluar dari lemari’ di tingkat nasional,” kata Seah, “Dan menurut saya – tanpa merugikan usaha kami sebelumnya – ini membangkitkan komuitas kami. Saya tidak yakin apakah tanpa usaha Mencabut 377A Pink Dot akan terjadi seperti yang terjadi kemudian.”

Pink Dot dan Seterusnya

Sepuluh tahun setelah Mencabut 377A, Taman Hong Lim – sebuah ruang hijau sederhana di sebelah Distrik Bisnis Pusat Singapura – dipenuhi pada tanggal 1 Juli 2017, sebuah lautan merah muda yang mengambang di udara tropis.

Dalam edisi kesembilan, Pink Dot* dipenuhi penari, penyanyi, bilik komunitas, duta selebriti dan lebih dari 100 sponsor perusahaan Singapura. Penyelenggaranya, termasuk Seah, telah dengan hati-hati mempresentasikan acara ini sebagai festival keluarga yang ramah, untuk lebih mencapai warga Singapura yang cenderung fobi pada protes.

Pink Dot telah tumbuh jauh dari permulaannya di awal tahun 2009. “Mereka tidak mengizinkan kita menggunakan panggung,” kenang Hwang, “[Aktris dan penyanyi] Pam Oei membawa sebuah bangku, berdiri di atas bangku dan menggunakan pengeras suara. Itulah Pink Dot yang pertama.”

Otto Fong

Pertumbuhan acara tahunan yang menakjubkan ini mungkin memberi kesan bahwa banyak kemajuan telah dicapai untuk hak LGBTQ di Singapura, namun kenyataanya tidak sesederhana itu. “Ada banyak tawaran [dari pemerintah], pengakuan bahwa kami berharga dan tidak patuh dibenci,” kata Seah. “Tetapi secara institusional, 377A benar-benar memotong tangan dan kaki kami, dan membuatnya sangat sulit.”

Tantangan konstitusional yang dilakukan terhadap 377A dibubarkan oleh Pengadilan Tinggi tahun 2014. Pink Dot pun tidak dibiarkan sendiri; aturan baru yang diperkenalkan tahun ini melarang perusahaan asing seperti Google atau Barclays – perusahaan yang sebelumnya telah menjadi sponsor – mendukung acara tersebut. Bahkan penyelenggara diharuskan membuat sebuah barikade di sekitar taman sehingga hanya warga negara dan penduduk tetap Singapura diizinkan masuk.

Meskipun isu LGBTQ telah mendapatkan visibilitas, tekanan pushback telah berkembang juga. Kelompok-kelompok seperti “Kami menentang Pink Dot di Singapura” dan “Orang-orang Singapura yang Membela Perkawinan dan Keluarga” telah muncul online, memantau dan menyoroti gerakan yang dianggap mengarah pada kesetaraan atau konten “pro-LGBT”, dari ciuman pendek diantara dua laki-laki dalam tur musikal Le Misérables, atau adanya buku anak-anak yang menampilkan tipe keluarga berbeda – termasuk gay – seperti yang ditunjukkan oleh pasangan pinguin laki-laki dalam “And Tango Makes Three” yang berada di Perpustakaan Nasional. Pemerintah telah dituduh melakukan pandering terhadap kelompok-kelompok ini: setelah keluhan, pihak berwenang menuntut ciuman itu dikeluarkan dari musikal, sementara buku anak-anak itu hanya diselamatkan dan tidak menjadi bubur kertas setelah kegamparan publik, termasuk aksi “read-in” dimana orang tua memutuskan untuk tetap membacakan buku tersebut kepada anak-anak mereka dia luar gedung perpustakaan.

“Dan kami tidak bebas melakukan apapun yang kami inginkan; ini hanya masalah waktu, sebelum mereka menggunakan undang-undang yang menentang kita”

“Saat seseorang diberi isyarat tertentu untuk berbicara seperti itu…dan mengalir dengan sangat bebas, maka memang seperti itu hasilnya,” kata Seah, “Jadi pasti, dengan pemerintah menolak pencabutan 377A dulu itu, dengan tantangan konstitusional yang tidak berhasil, dan dengan pembatasan pada Pink Dot, saya pikir semua hal tersebut telah menimbulkan munculnya ucapan seperti itu. Ucapan kebencian, mari kita menyebutnya apa adanya.”

Seperti semua gerakan, ada berbagai perspektif mengenai strategi dan advokasi, namun gerakan LGBTQ tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. “Saya sangat menghargai apa yang terjadi tahun ini dengan Pink Dot, karena itu menampar [anak muda Singapura] agar terbangun dan akhirnya mengerti bahwa Pink Dot bukan sekedar datang dan piknik,” kata Eileena Lee, pendiri pusat komunitas LGBTQ Pelangi Pride Centre. “Kami benar-benar perlu protes! Dan kami tidak bebas melakukan apapun yang kami inginkan; ini hanya masalah waktu, sebelum mereka menggunakan undang-undang yang menentang kita.”

Generasi baru aktifis LGBTQ akan mengambil tongkat dari para veteran. Pengamat mengatakan bahwa mereka lebih sadar akan perlunya keragaman, sebuah kabar baik bagi mereka yang merasa bahwa gerakan LGBTQ Singapura secara historis terlalu condong pada pria gay Chinese. “Ada hal-hal yang berubah di generasi muda aktifis dan pelajar yang jauh lebih terbuka terhadap keragaman, yang tahu betul arti ketidakamanan diri, dan yang menuntut lebih banyak lagi dalam hal inklusi jenis kelamin dan keragaman seksual,” kata Indulekshmi.

Masih belum ada indikasi bahwa 377A akan menggesear dari hukum Singapura: perdana menteri terus memperjuangkan status quo hingga masyarakat yang berubah. Isu ini terus menjadi inti perjuangan untuk kesetaraan LGBTQ di Singapura, menantang para aktifis untuk terus mencari cara-cara kreatif dan berani untuk memperjuangkan kebebasan mereka untuk mencintai.

* Catatan: Penulis artikel ini adalah pembicara pada segmen Suara-Suara Pink Dot 2017.

 

Jika Anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Kirsten Han

Kirsten Han is Editor-in-Chief of New Naratif, and a Singaporean journalist whose work often revolves around the themes of social justice, human rights, politics and democracy. Her bylines have appeared in publications like The Guardian, Foreign Policy, Asia Times and Waging Nonviolence. As an activist, Kirsten has advocated for an end to the death penalty in Singapore, and is a founding member of abolitionist group We Believe in Second Chances. Reach her at kirsten.han@newnaratif.com.

Otto Fong

Otto is the creator of the bestselling comic series 'Sir Fong's Adventures in Science'. He was an RI teacher who came out publicly in 2007. He has given talks in Google Singapore and hundreds of local schools, was a CQT/NUS Outreach Fellow, and also was a keynote speaker for Pink Dot 2011. His latest Sir Fong book is about synthetic biology.

Dewi Fitzpatrick

Dewi Fitzpatrick stems of Indonesian and English origins and has lived in Singapore for the past seven years. Upon graduating with a Bachelor of Arts in History from the National University of Singapore, Dewi decided to stay on in Singapore to work in arts management. Currently, Dewi is a research analyst in the corporate sector focusing on Indonesia and Malaysia.