Khairul Ghazali menjelaskan bagaimana ia di deradikalisasi: hal itu terjadi saat ia ditangkap karena perannya dalam perampokan bank tahun 2010 di Medan, Sumatra Utara, dan sebuah serangan teroris ke kantor polisi. Ia tidak terlibat langsung dalam kedua insiden tersebut, tetapi merupakan salah satu dalang di balik komplotan itu (termasuk memberi tempat tumpangan kepada orang-orang yang melakukan serangan tersebut). Ia dijatuhi hukuman enam tahun penjara.

“Saya diinterogasi setiap hari selama berjam-jam,” katanya. “Ketika saya diminta untuk menjelaskan secara rinci apa yang telah saya lakukan dan alasan di balik semuanya, saya mulai menyadari betapa cacat pemikiran radikal saya.”

Ghazali sekarang mengelola Pondok Pesantren Al-Hidayah di Deli Serdang di pinggiran kota Medan. Ini adalah lembaga kecil dengan hanya 20 murid, namun yang membuatnya berbeda dari ribuan sekolah lain di nusantara adalah semua muridnya adalah anak-anak dari teroris yang sedang menjalani hukuman penjara. Ghazali membuka sekolah ini sehabis dibebaskan dari penjara, setelah ia melihat dampak penahanannya terhadap keluarganya sendiri, dan keluarga narapidana lain yang dihukum karena tuduhan teror.

The school grounds include classrooms as well as a mosque built by the National Counter-terrorism Agency (BNPT) to support the deradicalisation programme. Aidli Rizki Nasution

“Para narapidana selalu berbicara dengan saya tentang keluarga mereka,” katanya. “Sebagian besar anak mereka putus sekolah karena stigma memiliki orang tua yang merupakan teroris. Mereka tidak lagi diterima sebagai bagian dari masyarakat setempat.”

Stigma ini sendiri sangat merusak, namun Ghazali menjelaskan bahwa hal itu lebih mendalam dari sekedar diganggu di sekolah: “Anak-anak biasanya putus sekolah sejak usia dini. Mereka kemudian kekurangan pendidikan, khususnya pendidikan agama. Ini berarti bahwa mereka tidak memiliki panutan yang baik dan tidak memiliki kemampuan intelektual atau konteks historis untuk memahami bahwa terorisme itu salah.”

Ini membuat anak-anak muda yang mudah dipengaruhi ini lebih rentan mengikuti jejak satu-satunya panutan yang mereka miliki – yaitu orang tua atau saudara kerabat lainnya yang telah di radikalisasi. Dengan demikian mulailah sebuah siklus terorisme generasi.

Terorisme generasi di Indonesia

Terorisme generasional bukanlah fenomena baru di Indonesia. Banyak teroris yang paling terkenal dalam sejarah Indonesia berasal dari “keluarga teroris”. Ghazali sendiri adalah sebuah contoh: ayahnya, kakek dan kerabat lainnya adalah anggota Negara Islam Indonesia (NII), sebuah kelompok yang didedikasikan untuk mentransformasi Indonesia – yang mengakui pluralisme agama – ke sebuah negara Islam. Cabang NII termasuk kelompok ekstremis militan Jemaah Islamiyah.

“Menjadi teroris adalah seperti warisan saya,” kata Ghazali.

Ia juga menyebut contoh terkenal lainnya, seperti Iman Samudra, yang menerima hukuman mati karena pengeboman Bali tahun 2002; anaknya kemudian bergabung dengan Negara Islam (ISIS) di Suriah, dimana dia terbunuh. Yang lainnya adalah Abu Jibril, seorang pengkhotbah keras Indonesia yang terlibat dalam pemboman tahun 2009 di Hotel JW Marriot di Jakarta; anaknya, Muhammad Ridwan Adburrahman, juga meninggal di Suriah memperjuangkan ISIS pada tahun 2015.

Ghazali menyadari pentingnya memutus siklus terorisme generasi ini saat ditahan di sel isolasi penjara. Setelah dipindahkan dari lingkungan di mana setiap orang memegang pandangan ekstremis yang sangat mengakar dan mendalam, ia dapat melihat radikalisasinya secara obyektif dan mulai mempertanyakan pilihannya.

“Gagasan tentang serangan ‘serigala sendirian’ atau bahwa seseorang terbangun suatu hari dan tiba-tiba ingin menjadi teroris atau bergabung dengan sebuah organisasi teroris sebagian besar merupakan mitos di Indonesia”

Bagi anak-anak teroris, refleksi mendalam biasanya bukan sebuah pilihan. Jika mereka putus sekolah, mereka cenderung tinggal di rumah bersama anggota keluarga yang akan terus mengekspos mereka pada proses pemikiran dan ideologi yang sama. Terisolasi dari dan kecewa dengan masyarakat setempat yang mereka rasa telah menolaknya, tidak ada yang dapat ditiru oleh anak-anak ini selain warisan radikal keluarga mereka, yang seringkali menjangkau generasi ke generasi. Tanpa intervensi, sangat sulit untuk merenggut mereka keluar dari siklus ini.

Ghazali menjelaskan: “Gagasan tentang serangan ‘serigala sendirian’ atau bahwa seseorang terbangun suatu hari dan tiba-tiba ingin menjadi teroris atau bergabung dengan sebuah organisasi teroris sebagian besar merupakan mitos di Indonesia. Itu memang terjadi, tapi orang-orang yang melakukan serangan teroris jauh lebih mungkin adalah orang-orang yang memiliki anggota keluarga yang menjadi korban teror atau yang berasal dari daerah yang terkenal memiliki jumlah penduduk yang percaya pada ideologi radikal. ”

Banyak anak muda juga tidak memiliki cukup motivasi untuk berpaling dari terorisme, kata Ghazali. Banyak anak di sekolah Ghazali menjadi saksi saat orang tua mereka ditangkap. Mereka melihat orang tua mereka, dalam beberapa kasus, ditembak oleh petugas polisi Indonesia dan diseret pergi dengan borgol. Banyak yang bersumpah mereka akan membalas perlakuan polisi kepda orang tua mereka, dan dalam beberapa tahun terakhir, polisi telah semakin menjadi target teroris. Ini, ditambah dengan masalah sosial seperti tingkat pendidikan rendah, kemiskinan yang membuat anak terisolasi di daerah pedesaan, dan kegagalan untuk berintegrasi ke masyarakat luas dan signifikansi Al-Hidayah menjadi semakin jelas.

“Kami tidak bisa menyembuhkan masalah sosial,” kata Ghazali. “Mereka akan selalu berada di sini dan akan selalu menjadi faktor dalam perekrutan teroris. Tapi kita bisa mengatasi masalah lain dan memulai dengan pendekatan akar rumput saat anak-anak masih muda.”

Program deradikalisasi Al-Hidayah

Studi tentang deradikalisasi adalah seseuatu yang cukup baru. Baru ada kira-kira 40 sekolah deradikalisasi di seluruh dunia, dan Al-Hidayah adalah satu dari sedikit yang hanya berfokus pada anak-anak para teroris. Studi sekarang sedang dilakukan, seperti penelitian oleh psikolog sosial dan direktur bersama dari Konsorsium Nasional untuk Studi Terorisme dan Tanggapan terhadap Terorisme (START), Arie Kruglanski. Menurut penelitian Kruglanski terhadap program deradikalisasi di negara-negara seperti Mesir, Irak, Arab Saudi dan Indonesia, sebagian besar memiliki serangkaian inisiatif yang sama. Ini biasanya mencakup inisiatif intelektual, emosional dan sosial untuk menyediakan program dukungan penuh.

There are 20 students at the school, all of whom are the children of convicted terrorists. Aidli Rizki Nasution

Di Al-Hidayah, komponen intelektual dari pelatihan ini hadir dalam bentuk kelas yang mengajarkan kepada siswa-siswanya arti sebenarnya dari Al-Quran, yang sebelumnya sering disalahartikan oleh orang tua mereka.

“Kami mengajarkan kepada siswa bagaimana Nabi Muhammad melindungi agama-agama lain di Madinah dan mengajarkan pengikutnya untuk tidak mengancam orang lain,” kata Ghazali.

Komponen emosional timbul dengan pemberian kehidupan rumah yang stabil kepada para siswa – mereka semua tinggal di pesantren – dan juga memberikan dukungan emosional sementara orang tua mereka masih dipenjara. Para siswa memanggil Ghazali “Ayah” – dan bukan “Bapak” yang lebih formal – dan ia mengatakan bahwa ia menganggap mereka semua seperti anak-anaknya sendiri.

Pada komponen sosial, Ghazali membantu anak-anak tersebut bergabung kembali ke masyarakat setempat dengan, dalam beberapa kasus, mengirim mereka ke sekolah-sekolah lokal sebagai tambahan untuk kelas mereka di Al-Hidayah jika dia merasa mereka membutuhkan lebih banyak dukungan seperti belajar menulis dasar dan berhitung. Para siswa juga menanam jagung dan kacang yang kemudian mereka jual di pasar lokal, dan mengumpulkan ikan di kolam besar di properti sekolah, yang oleh Ghazali digambarkan sebagai bagian “Kemampuan Hidup” untuk pendidikan anak-anak. Mereka juga berinteraksi dengan anggota masyarakat setempat, seperti guru yang datang dari sekolah tetangga.

Tetapi bahkan mereka yang penuh harapan tentang efektivitas program deradikalisasi harus mengukur optimisme mereka. Seperti John G.Horgan, direktur Pusat Terorisme dan Studi Keamanan di University of Massachusetts, mengatakan dalam sebuah op-ed di Los Angeles Times:

Ini bukan solusi kokoh, dan tidak dapat memastikan kesuksesan 100%, namun tidak diragukan lagi bahwa program deradikalisasi dapat sangat efektif dalam melawan terorisme. Meskipun mereka menjadi lebih umum di seluruh dunia, program semacam itu tetap merupakan eksperimen yang sedang berlangsung. Nyatanya, beberapa beroperasi secara rahasia, menunggu untuk melihat apakah mereka berhasil sebelum dunia luar mengetahui keberadaan mereka.

Horgan juga meminta kreativitas dalam mencari solusi untuk memerangi ekstremisme. Al-Hidayah telah bangkit menghadapi tantangan tersebut, melakukan hal-hal yang sedikit berbeda dari program lain dengan berfokus pada generasi berikutnya.

Tapi masalah dengan program semacam itu adalah bahwa mereka terlalu baru bagi siapa pun untuk sampai pada kesimpulan tentang kesuksesan atau kegagalan. Murid termuda Al-Hidayah baru berusia 11 tahun, dan tidak ada yang tahu pasti jalan mana yang akan dia jalani saat dia dewasa.

“Kami tidak akan pernah bisa menghentikan terorisme di Indonesia secara total. Tetapi, kami bisa mencoba memotong akar-akarnya dengan sekolah seperti ini”

Siswa berusia 11 tahun ini tidak mau menyebutkan namanya karena takut stigma lebih lanjut, karena dia adalah salah satu anak yang juga bersekolah di sekolah masyarakat setempat, namun saat ini dia sedang berkembang dengan baik di sekolah. Ketika sampai di Al-Hidayah setahun yang lalu, dia bahkan tidak bisa menulis huruf alfabet. Ayahnya dipenjara di Nusa Kembangan, sebuah pulau yang dikenal dengan sebagai Alcatraz versi Indonesia. Menurut Ghazali, anak laki-laki itu hampir tidak berbicara saat sampai di sekolah dan curiga dengan orang asing, tapi sekarang dia dengan riang meminta kami untuk bergabung dengannya untuk makan siang. Ia mengatakan, seperti banyak murid lainnya, bahwa ia ingin menjadi seorang perwira polisi, yang oleh Ghazali dilihat sebagai tanda perubahan sikap terhadap pemerintah setempat.

Pada tahap awal ini, Al-Hidayah tampaknya memiliki banyak hal positif. Dan ketika ditanya apakah program deradikalisasi seperti ini adalah jawaban atas masalah terorisme di Indonesia, Ghazali sekaligus realistis dan penuh harapan.

“Kami tidak akan pernah bisa menghentikan terorisme di Indonesia secara total. Tetapi, kami bisa mencoba memotong akar-akarnya dengan sekolah seperti ini.”

 

Jika Anda menikmati artikel ini dan ingin bergabung dengan gerakan kami untuk menciptakan ruang untuk penelitian, percakapan dan tindakan di Asia Tenggara, silahkan bergabung menjadi anggota New Naratif untuk hanya US $52 / tahun (US $1/minggu)!

Aisyah Llewellyn

Aisyah Llewellyn is a British freelance writer based in Medan, Indonesia, and New Naratif's Consulting Editor for North Sumatra. She is a former diplomat and writes primarily about Indonesian politics, culture, travel and food. Reach her at northsumatra.editor@newnaratif.com.

Dewi Fitzpatrick

Dewi Fitzpatrick stems of Indonesian and English origins and has lived in Singapore for the past seven years. Upon graduating with a Bachelor of Arts in History from the National University of Singapore, Dewi decided to stay on in Singapore to work in arts management. Currently, Dewi is a research analyst in the corporate sector focusing on Indonesia and Malaysia.