Telinga Panjang, Tato, dan Lenyapnya Tradisi

Author: Ganesha Yudhistira
Published:

Orang-orang suku Dayak Wahea tengah sibuk mempersiapkan upacara adat Nemlen ketika saya tiba di desa Bea Nehas, kabupaten Wahau, Kalimantan Timur. Nemlen dilakukan untuk mempersiapkan seorang anak laki-laki yang akan memasuki masa dewasa; upacara ini dimulai dengan melakukan puasa selama tiga hari dan diikuti oleh seluruh penduduk Dayak Wahea. Mengingat besarnya biaya dan persiapan yang dibutuhkan, Nemlen biasanya hanya diselenggarakan lima tahun sekali dan dianggap sebagai upacara yang sangat penting.

Desa Bea Nehas dengan Nemlen-nya merupakan lokasi dimana saya mulai mendokumentasikan perempuan dan laki-laki suku Dayak yang masih memiliki tato serta daun telinga yang memanjang. Proyek ini dilaksanakan sepanjang bulan Juli dan Agustus 2018 di Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara. Saya harus menempuh empat jam perjalanan darat dari kota Tanjung Redeb di Kalimantan Timur untuk mencapai Bea Nehas; penduduk desa tersebut umumnya menerima pengunjung setiap dua atau tiga bulan sekali.

Di sana, saya bertemu dengan empat orang nenek yang masih memiliki daun telinga yang panjang. Meski telah berusia 80 hingga lebih dari 90 tahun, mereka masih cukup tangguh untuk mencuci baju dengan tangan sendiri dan menyelesaikan kegiatan rumah tangga. Mereka menerima saya dengan sangat ramah—menawarkan saya untuk untuk nginang (mengunyah daun sirih) dan bermalam di rumah mereka.

Dayak - New Naratif
Huwanteg Ganesha Yudhistira

Setelah Bea Nehas, tujuan saya berikutnya adalah Nehas Liah Bing, sebuah desa yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Huwanteg, seorang nenek berusia 73 tahun yang tinggal di sana, masih aktif menanam padi, karet dan pohon lainnya. Selama bertahun-tahun, ia telah menyaksikan banyak perubahan besar terjadi: perkebunan kelapa sawit yang mengelilingi desa tersebut membuat hari-harinya terasa sempit—seolah-olah Nehas Liah Bing berada dalam sebuah kotak. Karena perkebunan kelapa sawit pula, kini Huwanteg harus berjalan selama 30 menit untuk mencapai sawahnya.

Namun Huwanteg memiliki cara sendiri untuk melawan hamparan perkebunan sawit yang telah mengikis hutan-hutan mereka. Ia kini menanam ulin, sebuah jenis pohon yang langka: “Saya tidak suka pohon Sawit. Saya lebih suka menanam pohon ulin karena dapat dimanfaatkan oleh anak dan cucu saya nanti,” ungkap Huawanteg. Kayu dari pohon-pohon ulin yang ia tanam dapat dimanfaatkan menjadi bahan rumah oleh generasi mendatang.

Kendati lingkungan sekelilingnya terus berubah, Huwanteg tampak mendiami waktunya sendiri yang berbeda. Lubang daun telinganya terus memanjang, dihiasi anting-anting khas Dayak yang disebut swol.

Simbol keindahan dan keagungan

Suku Dayak bukanlah entitas yang homogen: terdapat setidaknya 470 anak suku Dayak yang tersebar di seluruh pulau Borneo. Untuk beberapa orang Dayak, memanjangkan daun telinga dan mentato tubuh mereka merupakan tradisi yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam. Kedua praktik ini dianggap melambangkan keindahan bagi laki-laki maupun perempuan, dan dipercayai pula sebagai cara untuk membedakan antara manusia dan binatang seperti Orang Utan dan kera. Bagi suku Dayak Kenyah, orang yang memiliki lebih dari tiga kelompok tato di kaki atau di tangan dianggap sebagai paren, atau bagian dari bangsawan.

Proses pemanjangan telinga laki-laki dan perempuan mengharuskan mereka untuk ditindik sesaat setelah dilahirkan, dan lubang-lubang baru akan dibuat lagi saat mereka telah mencapai usia 10 tahun. Pekulud, seorang nenek yang saya temui di desa Metun Sanjau di Kalimantan Utara, mengatakan kalau telinganya dilubangi menggunakan duri yang dibungkus dengan kain ketika ia masih bayi. Kain tersebut dibiarkan di lubang telinga, dan hanya dilepas—secara perlahan dan sangat berhati-hati—ketika pergi mandi. Saat Pekulud sudah mulai dapat merangkak, anting-anting mulai dipasang di daun telinganya yang akan terus memanjang seiring dengan bertambahnya usia. Semakin panjang daun telinga seorang perempuan, maka ia akan dianggap semakin cantik; semakin banyak anting yang terpasang di telinga seseorang, semakin tinggi pula status sosialnya dalam masyarakat.

Untuk beberapa orang Dayak, memanjangkan daun telinga dan mentato tubuh mereka merupakan tradisi yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam

Sembari tertawa, Pekulud mengatakan bahwa tangannya sering tersangkut di daun telinga, atau daun telinganya sering tersangkut ranting-ranting ketika pergi ke ladang. Tak seperti perempuan, panjang daun telinga laki-laki tidak akan melebihi bahu mereka. Para laki-laki juga tidak mengenakan perhiasan logam di telinga mereka, melainkan gigi-gigi hewan seperti taring macan.

Di sisi lain, tato hanya dirajahkan ke tubuh laki-laki dan perempuan suku Dayak ketika memasuki usia dewasa. Bagi perempuan, tato merupakan persyaratan wajib untuk dapat menikah. Para wanita dari suku Dayak Wahea biasanya membuat tato di pergelangan kaki, dengan tato bermotif sembilan lingkaran menghiasi tiap kaki dan tangan mereka. Pola-pola tato dirajahkan dengan jarum, duri salak, ataupun duri pohon jeruk. Jelaga hitam digunakan sebagai tinta alami.

Laki-laki Dayak Wahea tidak mentato diri. Sebagai gantinya, mereka menunjukkan telah memasuki usia dewasa dengan mengadakan upacara adat Nemlen. Sebaliknya, laki-laki Dayak Kenyah dan Dayak Kayan mentato kedua sisi leher dan bahu mereka dengan motif bunga terong; sebagai tambahan, laki-laki suku Dayak Kayan juga memiliki tato dengan motif ukiran khas Dayak Kayan di lengan mereka. Bagi sebagian suku Dayak, tato juga menunjukkan pola migrasi mereka: sebagai contoh, tato di leher atau tepat di bawah dagu biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang yang pernah bermigrasi ke wilayah suku Dayak Iban.

Tradisi yang terkikis waktu

Selama satu bulan perjalanan dari Samarinda di Kalimantan Timur menuju Bulungan di Kalimantan Utara, saya singgah di 19 desa yang berbeda. Dalam satu bulan tersebut, saya memotret sebanyak 30 pria dan wanita yang bertelinga panjang, dan semuanya berusia lebih dari 70 tahun. Mereka adalah generasi terakhir orang-orang Dayak yang mentato diri dan memiliki telinga panjang.

Mengambil gambar orang-orang tua tersebut ternyata tidak mudah karena mereka kerap hanya bisa berbicara menggunakan bahasa Dayak asli. Dalam proses memperoleh izin untuk memfoto mereka, kami harus berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Saya kemudian mencetak foto-foto tersebut dan kembali menemui mereka esok harinya. Melihat foto mereka bersama-sama membantu mencairkan suasana; saya mengingat seorang tetua suku tersenyum melihat wajahnya sendiri dalam foto yang kami tunjukkan. Barulah setelah itu saya meminta bantuan keluarga mereka untuk menerjemahkan percakapan kami.

Seperti Huwanteg, desa tempat Pekulud tinggal juga dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Pekulud merupakan seorang keturunan paren, orang yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah. Ia masih memiliki banyak tato, namun sudah tidak lagi memiliki daun telinga yang panjang.

Pada tahun 1980an, Pekulud pindah ke desa tempat ia menetap sekarang. Tak lama kemudian, pemerintah memerintahkan ia dan teman-teman sebayanya untuk memotong daun telinga mereka yang panjang. Di mata pemerintah, telinga panjang dari suku Dayak Kenyah merupakan warisan primitif yang harus ditinggalkan untuk menyongsong zaman modern. Maka dengan berat hati Pekulud pergi ke klinik setempat untuk memotong daun telinganya. Sejak saat itu, ia terus menyesali telah melakukan hal tersebut—bukan hanya karena ia merasa kehilangan bagian penting budayanya, tetapi ia juga menemukan bahwa kini memiliki daun telinga yang panjang menjadi daya tarik tersendiri: “Aku menyesal memotong telingaku karena itu merupakan hal yang paling menarik perhatian para wisatawan, dan sekarang hanya ada beberapa tetua yang memilikinya,” ungkapnya.

Seperti halnya laki-laki dan perempuan Dayak lain yang bertelinga panjang dan memiliki tato, generasi Pekulud adalah generasi terakhir yang melakukan praktik tradisional tersebut; keempat anaknya dan kesembilan cucunya tidak lagi melakukannya. Baik Pekulud dan tetua lainnya yang saya temui mengaku mereka khawatir anak-anak mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan memiliki pekerjaan yang baik jika masih bertato.

Tradisi lama, stigma modern

Sejumlah lembaga pemerintah di Indonesia menetapkan bahwa calon pegawai negeri sipil tidak diperkenankan untuk memiliki tato. Peraturan terkait penerimaan pegawai negeri sipil di Kantor Kejaksaan Republik Indonesia, contohnya, menyatakan dengan sangat tegas bahwa para pelamar laki-laki tidak boleh bertato atau bertindik. Hal ini jelas membatasi ruang gerak suku Dayak asli yang memiliki tradisi mentato tubuh.

Namun Lampiran Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa karyawan tidak boleh memiliki tato dan tindikan di bagian tubuh selain telinga—kecuali tato atau tindikan yang berkaitan dengan ajaran agama atau adat setempat. Secara teknis, aturan ini tentu mencakup adat suku Dayak. Namun kurangnya pernyataan tertulis dari pemerintah setempat mempersulit warga Dayak asli untuk mempersoalkan kasus mereka. Beberapa sekolah juga menolak siswa yang memiliki tato, yang jelas menghilangkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan.

Dayak - New Naratif
Pekulud telah dipaksa untuk memotong daun telinganya dan menyesali hal tersebut hingga saat ini. Ganesha Yudhistira

Tato umumnya masih dianggap tabu di Indonesia, dan hal ini bisa jadi merupakan penyebab mengapa para orang tua suku Dayak meninggalkan beberapa tradisi budaya yang berpotensi mengancam penghidupan anak-anak mereka. Beberapa nenek yang saya temui juga mengaku bahwa mereka hanya mentato tubuh setelah lulus sekolah.

Di sisi lain, orang–orang Dayak yang lebih muda—terutama yang lahir setelah akhir dekade 1970—tampaknya tidak berminat untuk mengembalikan tradisi yang mulai hilang tersebut. Beberapa dari mereka yang saya ajak bicara mengaku tidak tertarik memiliki daun telinga panjang dan tato yang banyak; sejumlah besar anggota generasi ini bahkan sudah memeluk agama Kristen, meninggalkan kepercayaan leluhur mereka.

Tak lama lagi, tradisi-tradisi ini mungkin hanya dapat dilihat melalui foto dan kisah-kisah para tetua desa yang tersisa. Hal ini menjadikan dokumentasi budaya dan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi yang akan datang. Apabila tidak dilakukan, tradisi orang-orang Dayak akan lenyap selamanya dari ingatan manusia.

 

*Penulis adalah seorang fotografer dan bekerja sebagai seorang relawan di beberapa organisasi non-profit di bidang lingkungan. Ganesha lahir dan besar di Samarinda, Kalimantan Timur.

 

Ganesha Yudhistira

Born in 1991, Ganesha is a freelance photographer and environmental activist from Samarinda in East Kalimantan.

Now that you're here, we have a favour to ask...

Join our movement for a better Southeast Asia

New Naratif is a movement for democracy, freedom of information, and freedom of speech in Southeast Asia (see our manifesto). Our articles report on issues that are often overlooked or suppressed by the mainstream media in Southeast Asia. We are rely on our members for their support. Every cent of your membership fee goes to supporting our research, journalism, and community organisation activities. Your support enables us to be editorially independent and to conduct hard hitting independent research and journalism. It allows us to give a voice to the powerless and to hold the powerful accountable. Our members are active participants in our movement, helping us to create content and informing us about important issues, which shapes our coverage and content. Join our movement and let us, together, build a better Southeast Asia. Please subscribe to New Naratif—it’s just US$52/year (US$1/week) or US$5/month—and it only takes a minute. If you’d like to learn more, and read more articles, please start here! Thank you!