Ritus Peralihan: Sebuah Kisah Migrasi Queer, Episode 01: Di Ambang Batas, oleh Asmara S. Wigati.

Kisah Migrasi Queer – Di Ambang Batas

Dalam trilogi komik yang sangat personal ini, seniman visual dan etnografer Asmara S. Wigati membawa kita dalam perjalanan migrasinya melintasi pulau di Indonesia untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Episode pertama ini menceritakan perenungannya mengenai keadaan ambang batas yang kita semua lalui, namun juga yang amat akrab bagi orang-orang queer.

Mari Berdiskusi dengan Pembuat Komik ini!

Ikuti diskusi “Merawat Komunitas Queer di Asia Tenggara” dengan pengarang Asmara S. Wigati dan psikolog Shaleen Chrisanne dalam sesi /ba.ca/ New Naratif pada hari Rabu, 28 Juni 2023, pukul 19.00 WIB. Diselenggarakan dalam Bahasa Inggris.

Komik Lainnya dalam Serial ini

Bookmark (0)
ClosePlease login

Related Articles

Media yang Melek Gender: Temuan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei


Pendahuluan

Mengingat wilayah Asia Tenggara menaungi berbagai praktik, wadah, maupun batasan-batasan bermedia, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Berdasarkan metodologi yang telah diterapkan di Seri 4, Terbitan 1, kami melakukan wawancara mendalam dan semi-terstruktur untuk menyelidiki tema penting dalam kebebasan bermedia, yakni pengalaman berbasis gender dan kaum marginal, untuk memahami proses pembuatan berita sebagai spektrum pengalaman kerja nyata yang melibatkan pembaca, jurnalis, editor, dan produser. Jika gender menjadi “bingkai utama yang tak disadari untuk memahami orang lain dalam suatu interaksi” (Fisk & Ridgeway, 2018, h. 158), maka amatlah penting untuk mewadahi pengalaman-pengalaman para pembuat berita dengan gender dan seksualitas yang terpinggirkan.

Siapa yang bisa disebut sebagai pembuat berita?

Mengingat wilayah Asia Tenggara menaungi berbagai praktik, wadah, maupun batasan-batasan bermedia, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Berdasarkan metodologi yang telah diterapkan di Seri 4, Terbitan 1, kami melakukan wawancara mendalam dan semi-terstruktur untuk menyelidiki tema penting dalam kebebasan bermedia, yakni pengalaman berbasis gender dan kaum marginal, untuk memahami proses pembuatan berita sebagai spektrum pengalaman kerja nyata yang melibatkan pembaca, jurnalis, editor, dan produser. Jika gender menjadi “bingkai utama yang tak disadari untuk memahami orang lain dalam suatu interaksi” (Fisk & Ridgeway, 2018, h. 158), maka amatlah penting untuk mewadahi pengalaman-pengalaman para pembuat berita dengan gender dan seksualitas yang terpinggirkan.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to [email protected] to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Bookmark (0)

Close

Please login

Bookmark (0)
ClosePlease login

Bahaya Ketergantungan Filipina Mengeksploitasi Warganya Sendiri

Pemerintah Filipina memulai ekspor buruh sebagai langkah darurat demi mengentaskan kesenjangan sosial, namun mereka kini makin agresif mengekspor warga negaranya sendiri. Migrasi buruh memang menjadi solusi jangka pendek untuk masalah ekonomi bagi para keluarga pekerja migran, serta telah membawa manfaat bagi negara-negara pemberi kerja, elit lokal, dan pemerintah. Namun masalah jangka panjang terus mengintai para pekerja migran, warga Filipina, serta negeri tersebut.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Penjelasan II: “Keputusan Politis yang Diambil adalah Membebaskan Mereka”: Perjuangan 12 Tahun untuk Mengakhiri Penahanan Migran Anak di Malaysia

Penjelasan yang terdiri dari dua artikel ini menyoroti praktik penahanan anak oleh petugas imigrasi di Malaysia. Melanjutkan penjelasan dari artikel pertama, artikel kedua ini menelusuri jalan panjang menuju reformasi penahanan imigrasi. Artikel ini menelisik janji Menteri Dalam Negeri bahwa ia akan membebaskan semua anak dari pusat tahanan, perjuangan historis untuk menghentikan penahanan anak, halangan-halangan yang menghambat perubahan, serta langkah-langkah yang bisa diambil oleh pemerintah, masyarakat sipil, dan pembaca untuk melindungi semua anak apapun status migrasinya.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Kebebasan Media yang Melek Gender: Merombak Pewartaan Berita di Asia Tenggara


Pendahuluan

Temuan kami dari Seri No. 4 bertujuan untuk mengkonsepkan kembali pewartaan berita regional lewat lensa gender. Kami bekerja dengan asumsi bahwa ada pembatasan kebebasan media, yang merupakan indikator penting kebebasan berekspresi (FoE) di Asia Tenggara. Hal ini mengancam pekerjaan pewarta berita, baik pekerja lepas maupun karyawan tetap, yang bekerja di berbagai kantor media seperti surat kabar, televisi, radio, dan media baru. Pendekatan gender artinya memahami pengalaman perempuan dan menangkap spektrum identitas dan pengalaman gender dalam keragaman regional mereka. Sepanjang penelitian kami, kami terus mengajukan pertanyaan kunci yang muncul dari Media Freedom Insights) kami sebelumnya: “Apa arti kebebasan media dan apa bentuknya bagimu?”

Represi terang-terangan atas pekerja media di Asia Tenggara (SEA) masih marak. Sayangnya, pemberitaan mengenai pembunuhan dan penangkapan1 jurnalis masih mengabaikan berbagai tantangan yang dihadapi pekerja media dalam mengungkap kasus-kasus kekerasan yang gamblang. Bagi kami, membahas kebebasan media membutuhkan pendekatan yang holistik. Mengulik kebebasan media artinya berkutat dengan pengalaman-pengalaman hidup, bahkan yang subtil, yang dialami oleh pekerja media: dari dinamika sehari-hari di tempat kerja, hingga ancaman kehilangan pekerjaan, dan segalanya yang turut menyumbang kesulitan hidup dalam bentuk iklim represi dan hambatan ekonomi. Berdasarkan proposal dalam manifesto kebebasan media kami, Making the World We Want, kami terus mempertanyakan tema kunci pengalaman marginal dan berdasarkan gender.

Temuan kami dari Seri No. 4 bertujuan untuk mengkonsepkan kembali pewartaan berita regional lewat lensa gender. Kami bekerja dengan asumsi bahwa ada pembatasan kebebasan media, yang merupakan indikator penting kebebasan berekspresi (FoE) di Asia Tenggara. Hal ini mengancam pekerjaan pewarta berita, baik pekerja lepas maupun karyawan tetap, yang bekerja di berbagai kantor media seperti surat kabar, televisi, radio, dan media baru. Pendekatan gender artinya memahami pengalaman perempuan dan menangkap spektrum identitas dan pengalaman gender dalam keragaman regional mereka. Sepanjang penelitian kami, kami terus mengajukan pertanyaan kunci yang muncul dari Media Freedom Insights) kami sebelumnya: “Apa arti kebebasan media dan apa bentuknya bagimu?”

This post is only available to members.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Responses