KTP

Kisah dari Annisa Dinda Mawarni begitu menyentuh dengan kesederhanaannya yang indah. Terkadang, yang kita inginkan hanyalah agar aparat negara tidak mencampuri urusan pribadi kita, terutama dalam urusan agama—seperti apakah kita mau mengenakan hijab atau tidak. Andai saja berdamai dengan negara terkait dengan keputusan hidup kita bisa semudah ini.

Mesin motor henti berbunyi tepat di depan gedung Dukcapil yang berdiri angkuh. Ia punya mata dan memandang Dina dengan tajam. Jantungnya tetap berdegup, kocar-kacir. Keringatnya jatuh mengicir, sekali pun semalam ia telah menghafalkan semua jawaban, baik soal-soal pendataan atau perkara kehidupan.

“Pagi, kak!” ujar petugas ramah sambil menyodorkan kertas bertuliskan angka lima.

Kantor Dukcapil belum terlalu ramai, hanya ada tiga orang yang menjinjing setumpuk kertas hitam-putih dan sepasang calon manten yang tampak pusing mengurus berkas nikah.  

“Antrian nomor lima silakan masuk ke ruangan” 

Dina beranjak, mengatur napas yang tersengal. Di dalam ruangan ia melihat tiga orang petugas, satu di antaranya menggunakan peci hitam. Tenggorokannya tiba tiba tercekat.

“Silakan duduk di sini ya, Kak.”

“Oh, iya Pak. Terima kasih.”

“Saya Deden. Ini dengan kak siapa?”

“Dina, Pak Deden.” Dina mencoba menarik satu sudut di bibirnya.

“Jadi ada perlu apa nih Kak Dina, pagi-pagi sudah bertamu kesini?”

Senyum bertandang di  wajah Pak Deden. Pecinya berdiri megah di kepala. Hitam dan bersih. Sempat Dina berpikir untuk kabur saja, tapi badan sudah kepalang duduk dan ada sepasang mata memperhatikan setiap gerak-geriknya. 

“Anu, Pak…” Dina tergelak sedikit, melangkah mundur mencari nyalinya yang menciut. “Saya mau memperbarui KTP. Ganti foto gitu, Pak”.

“Oooh… boleh. Coba sini saya lihat berkasnya. Bawa kartu keluarga dan KTP, kan?”

Dina merogoh tasnya, mengeluarkan kertas panjang warna biru yang dilapis plastik serta kartu yang lebih kecil ukurannya bersambang garuda keperakan.

Pak Deden menyambut dokumen yang Dina berikan. Ia memerhatikan dan membandingkan antara KTP dan Kartu Keluarga miliknya. Dengan sigap, dia menggeser-geser tetikusnya dan menatap layar komputernya dengan cermat. Klik. Klik. Klik.

Dina menunggu penuh harap, mudah-mudahan cepat selesai tanpa ada ceramah-ceramah berbau agama.

“Ini lengkap ya berkas dan datanya, tinggal foto ulang,” Pak Deden memecah hening. “Kak Dina kuliah apa kerja?”

“Kuliah, Pak,” jawab Dina penuh kesiagaan.

“Oalah, pantesan. Kak Dina ini rambutnya pendek mirip polwan, tapi kok warna hijau. Kayaknya  zaman sekarang lagi trend ya, Kak. Anak saya juga, sampai saya bingung. Dulu orang-orang, uban diwarnai hitam, eh sekarang, rambut hitam malah diwarnai abu-abu,” balas Pak Deden tertawa. Ruangan bergema, tetapi rekan kerjanya tak menanggapi seakan sudah biasa. 

Lampu flash berkedip tiga kali; Dina sempat berkunang-kunang karenanya.

Pak Deden menunjukkan hasil foto di layar komputernya. Dina memilih satu di antara tiga, satu foto di mana bibirnya bisa melengkung tanpa terlihat dipaksakan.

“Kak Dina, nanti KTP barunya bisa diambil lima hari lagi. Ini saya buatkan surat tanda  memperbarui KTP.” 

“Udah, Pak Deden? Segitu aja?” Dina mengerjap tak percaya.

“Lah iya, mau ngapain lagi? Mau bantuin saya kerja? Mangga atuh!” Pak Deden tertawa. Dina ikut menyahut tawanya setengah kebingungan.  

Hanya dalam waktu dua puluh menit, Dina menyelesaikan perkaranya dan melangkah keluar dari kantor Dukcapil. Selesai sudah debar-debar yang ia kira tak berkesudahan. Ia duduk di atas motornya sambil berkaca di spion. Dina menyisiri rambutnya yang kini menjuntai bebas, baik di foto KTP, maupun aslinya.

Tidak hanya Tuhan, eyang dan bunda pun kini berdamai dengan pilihan Dina. Untuk pertama kalinya, Dina merasa bisa berdamai dengan negara dan tetek bengek administrasinya. Hari ini, Dina menjadi dirinya yang utuh. Dina yang menang dengan keputusannya. Dina yang percaya diri karena foto di KTP barunya.


Baca kisah lainnya dalam musim ini:

Bookmark (0)
ClosePlease login

Related Articles

Responses