Several Bissu danced in Project Budaya Bone event in 2022. Courtesy of Feby Triadi.

Melampaui Nilai Biner: Dua Bissu Membela Tradisi Mereka di Sulawesi

Konsep identitas queer dan non-biner telah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia, termasuk budaya di Sulawesi, di mana terdapat bissu, atau gender kelima dalam tradisi masyarakat Bugis. Bissu memainkan peran penting di masyarakat, walau menghadapi diskriminasi dari berbagai kelompok konservatif. Yuyun dan Eka adalah beberapa bissu yang masih berjuang untuk tradisi ini.

Konsep identitas queer dan non-biner telah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia, termasuk budaya Bugis di Sulawesi. Orang-orang Bugis percaya bahwa ada lima gender, termasuk bissu, yang tidak merujuk pada lelaki atau perempuan, tetapi semua gender.

Untuk menjadi bissu, seseorang harus menjadi seorang calabai terlebih dahulu, yakni laki-laki yang mengambil peran tradisional perempuan. Dulu, ada banyak bissu yang ditetapkan sebagai perempuan saat lahir, tetapi kini tak lagi ada. Syarat menjadi bissu agak berbeda untuk mereka,  yakni mereka harus mencapai umur menopause untuk dianggap “suci”. 

Andi Muhammad Yunus (34), yang juga dikenal sebagai Bissu Yuyun, adalah salah satu bissu yang masih berusaha melanjutkan tradisi. Yuyun sadar ia adalah seorang calabai ketika ia duduk di bangku sekolah dasar.

“Saya dulu kalau jalan itu suka ngondek, jadi banyak anak-anak yang mem-bully saya. Saya memang sedari kecil suka berteman dengan perempuan, misalnya menari,” ujar Yuyun.

Orang-orang Bugis di Sulawesi dulu menganggap bissu sebagai orang suci, namun jumlah mereka yang berpandangan demikian semakin menurun akibat diskriminasi masyarakat, termasuk keluarga sendiri. Ketika keluarga Yuyun yang berlatar belakang Muslim konservatif mengetahui bahwa ia adalah seorang calabai, mereka langsung menunjukkan ekspresi ketidaksenangan.

“Ketika saya bercerita kepada orangtua saya bahwa saya memiliki panggilan untuk menjadi seorang bissu, mereka cukup kecewa. Saya ingat jelas waktu itu ibu saya bertanya, ‘Apakah kamu tidak ingin menikah?’ dan saya menjawab, ‘Tidak,’” ujar Yuyun.

Selain bissu dan calabai, ada makkunrai, yang merujuk pada perempuan cis; oroane, yang merujuk pada lelaki cis; dan calalai, yang merujuk pada perempuan yang mengambil peran tradisional lelaki.

Namun, setelah pembunuhan massal bissu tahun 1965 dan berbagai sentimen negatif yang makin meningkat kepada komunitas LGBTQ di Indonesia, peran tradisional bissu dan rasa aman untuk menjadi diri sendiri di masyarakat mulai luntur.

Komunitas LGBTQ+ Indonesia, termasuk identitas tradisional, seperti bissu, telah menjadi target kekerasan dan diskriminasi di tangan organisasi Islam konservatif, polisi, dan politisi—membuat bissu dan orang-orang seperti mereka tersingkir. 

Menurut survei Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM), terdapat 973 insiden stigma, diskriminasi, dan kekerasan berdasarkan orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender yang terekam selama 2017. Laporan-laporan ini meliputi berbagai wilayah di Indonesia, dengan angka tertinggi, yakni 715, datang dari transgender, 225 dari gay, dan 29 dari lesbian. Situasi ini memburuk seiring dengan posisi Indonesia yang akan memasuki tahun politik di 2024. 

Laporan-laporan individu ini mencerminkan usaha yang lebih besar untuk menyapu komunitas queer dan gender beragam ke tepian. Untuk bissu di Bone, Sulawesi Selatan, perayaan tahunan hari jadi kabupaten itu menandai sebuah titik balik: tidak ada bissu yang dilibatkan dalam acara tersebut.

Berdasarkan laporan sejarah, diangkatnya Raja Manurunge ri Matajang sebagai pemimpin Kerajaan Bone yang baru berdiri di 1330 menandai dimulainya sejarah yang panjang, kaya, dan beragam di wilayah tersebut. Dan di 2022, Bone merayakan Hari Jadi Bone (HJB) yang ke 692. 

Hingga kini, peran bissu dalam perayaan HJB selalu signifikan. Mereka kerap menampilkan berbagai ritual, dari mallekke wae (pengumpulan air), massimang (permintaan izin), dan mattompang arajang (pemandian pusaka) hingga membawa baki atau benda-benda kerajaan selama upacara perayaan tersebut.

Diketahui, gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, telah menolak kehadiran para bissu pada acara tahun lalu.

“Terkait rumornya gubernur yang tidak menginginkan bissu, saya tidak bisa berkomentar soal itu,”  ujar Andi Ansar, kepala Dinas Budaya Bone, menambahkan bahwa komunitas bissu sendirilah yang telah menarik diri dari acara tersebut.

The pictures capture eight bissu in Sulawesi. They are wearing Bugis traditional clothes. Photo courtesy of Asrul Nur Iman
Potret delapan bissu di Sulawesi. Mereka mengenakan busana tradisional Bugis. Foto merupakan koleksi pribadi milik Asrul Nur Iman.

Sakral 

Asrul Nur Iman (33), seorang peneliti bissu dari Universitas Bhayangkara Jakarta, menjelaskan bahwa seiring berjalannya waktu, bissu tidak lagi hidup seperti mereka biasanya, terutama ketika berhadapan dengan pengaruh agama. Hal ini terutama diketahui, contohnya, karena pengaruh Islam yang kuat di Sulawesi Selatan.

“Ada banyak aliran Islam sih [di] Sulawesi Selatan yang tidak mendukung bissu karena mereka menganggap budaya leluhur itu merusak ajaran Islam,” Asrul says. 

Menurut riset Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang meneliti perspektif Muslim terhadap bissu, ada banyak orang yang tidak menyukai keberadaan bissu. Contohnya, tokoh agama di Desa Rumpia, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, berpendapat bahwa bissu tidak mencari rahmat Allah dan maka bisa dianggap musyrik.

Sentimen terhadap bissu semakin tinggi ketika orang-orang melihat mereka sebagai bagian dari gerakan LGBTQ+ di Indonesia. 

“Saya melihatnya ini sebuah kemunduran karena ada beberapa tradisi ritual yang tidak dilanjutkan oleh bissu, karena ada sentimen yang menganggap mereka adalah hanya [bagian] kelompok dari LGBTQ,” kata Asrul. 

“Padahal, yang menjadi eksekutor di kebanyakan ritual itu adalah bissu. Aktor utama dari lingkaran kehidupan masyarakat Bugis adalah bissu.”

Padahal, bissu memainkan peran yang amat penting dalam pengangkatan seorang raja. Menurut Yovita M. Hartarini dalam analisis sosio-kultural bissu dalam etnis Bugis (2012), posisi Datu’ (raja) tidak akan bisa lengkap tanpa kehadiran seorang bissu.

Selain memainkan peran dalam pengangkatan seorang raja, Kahar Eka, juga dikenal sebagai Bissu Eka (40), menjelaskan bahwa bissu juga memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari orang Bugis. Biasanya, bissu menjalankan peran sebagai pemimpin upacara tradisional. Peran-peran ini termasuk mengambil peran dalam mappalili (menanam beras), mappadendang (memanen), indo’botting (mendandani pengantin perempuan dan menuntun mereka berjalan menuju altar), menre bola baru (upacara pindah rumah), songkabala (tolak bala), serta pengambilan sumpah, dan berbagai ritual untuk kehamilan, kelahiran, dan kematian.

The picture of bissu in the traditional clothes doing the Heirloom Cleaning Ceremony, known as Mappalili, before the rice planting season begins. Photo courtesy of Asrul Nur Iman.
Foto para bissu melakukan upacara pemandian pusaka yang dikenal sebagai Mappalili, sebelum musim tanam dimulai. Kredit foto oleh Asrul Nur Iman.

Lebih jauh lagi, Asrul menjelaskan bahwa bissu memiliki orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan/atau karakteristik seks (SOGIESC) yang kompleks di dalam definisi tradisional peran mereka dalam masyarakat. Pasalnya, menjadi bissu berarti lebih dari memainkan peran penting dalam acara-acara budaya.

Eka menjelaskan bahwa tidak semua calabai memutuskan atau memiliki keinginan untuk menjadi bissu

“Tidak semua orang memahami bissu. Mereka kebanyakan memukul rata kami semua sebagai transgender,” ujar Eka ketika berbicara tentang penolakan bissu yang kerap terjadi di Indonesia.

Eka menjelaskan bahwa untuk menjadi bissu, seorang calabai harus melalui beberapa tahapan. Mereka harus menjalani makkanre guru, atau proses pembelajaran untuk menjadi seorang bissu. Setelah mereka menjadi calabai, mereka juga harus mempelajari pangadereng (adat dan tradisi Bugis) untuk menemukan tempat mereka di masyarakat.

Upacara makkanre guru berjalan selama yang dibutuhkan bagi calon bissu untuk menerima penglihatan melalui mimpi yang menandakan bahwa generasi lain bissu akan dimahkotai. Sebelum pemahkotaan, mereka harus melalui panre lise’, atau proses transfer pengetahuan bagi calon bissu tentang tradisi Bugis kuno, kata Eka.

Bissu dianggap suci (makarama’) oleh komunitas Bugis. Contohnya, mereka harus tampil malebbi (anggun dan sederhana), memegang teguh sikap dan etika tertentu, serta bertingkah laku dan berbicara dengan sopan.

Eka menambahkan bahwa dunia bissu terdiri dari berbagai tingkat, maka amatlah penting bagi bissu untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka. Bahkan setelah melalui proses pembelajaran, tidak semua orang bisa lulus menjadi bissu. Beberapa calon bissu bisa terus belajar seumur hidupnya dan belum tentu lulus menjadi bissu, sementara ada beberapa yang hanya belajar sebentar dan langsung lulus.

Dalam dunia bissu sendiri, setiap bissu memiliki tugas masing-masing, seperti puang matoa (kepala bissu), Puang lolo (wakil para bissu), jennang (bissu yang menangani logistik), bissu poncoo (bissu tingkat paling rendah), dan mau jangkka (laki-laki yang sedikit kemayu, tetapi memiliki istri dan tahu banyak tentang bissu). Ada juga bissu Patudang, bissu tingkat tinggi yang mengawasi bissu lain dan memiliki hak untuk menunjukkan kesalahan mereka.

Asrul mencatat bahwa menurut cerita rakyat, bissu turun dari langit. Orang Bugis percaya ada tiga dunia: dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Dunia atas disebut Botting Langi, atau Kerajaan Langi; dunia tengah disebut Ale Kawa atau Bumi; dan dunia bawah disebut Bori’ Liuq.

Orang-orang percaya bahwa bissu adalah pembawa pesan yang diutus roh dari Botting Langi. Namun, kini norma agama dan budaya telah mulai menghapus keberadaan bissu dari budaya Indonesia. 

Kahar Muzakkar, pendiri organisasi Islam di Sulawesi Selatan, memulai sebuah kampanye yang dikenal dengan Operasi Pertobatan di tahun 1950an yang berupaya untuk mengeliminasi komunitas bissu

Selama operasi militer ini berlangsung, instrumen-instrumen yang digunakan dalam upacara tradisional dibakar dan dibuang ke laut. Beberapa bissu pun memilih dibunuh daripada meninggalkan dewa-dewa Bugis mereka.

Selain itu, dalam rangkaian tragedi tersebut bissu juga dianggap sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Dampaknya, terjadi eksekusi besar-besaran bissu pada periode 1965-1966. 

Saat ini, Asrul mencatat hanya sedikit bissu yang tersisa di Sulawesi Selatan, yakni sekitar 40 orang.

“Jumlahnya [terus] berkurang di setiap daerah karena banyak senior yang sudah meninggal,” kata Asrul.

Perjuangan

Yuyun teringat ia dipanggil oleh para dewa di tahun 2008 setelah bermimpi ia ikut tampil bersama para bissu lainnya. Mimpi ini terus-terusan menghantui benaknya dan mengantarnya untuk menjadi bissu pada tahun 2010.

Ketika Yuyun dan Eka menerima panggilan mereka dari para dewa, mereka melewati pengalaman-pengalaman yang mirip. Eka, yang dibesarkan oleh keluarga Islam yang taat, mengatakan bahwa kebanyakan saudara lelakinya menjadi ustaz. Eka juga ditolak oleh ayahnya yang merupakan anggota salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

“Jangankan jadi seorang bissu, orangtua saya tidak setuju dengan saya menjadi seorang calabai, karena mereka tidak bisa menerima anak laki-laki mereka bertumbuh menjadi seseorang yang feminin,” ujar Eka. 

Butuh cukup lama bagi Eka untuk kembali diterima oleh keluarganya.

Three Bissu in Project Budaya Bone event in 2022. Courtesy of Feby Triadi.
Tiga calabai di acara Project Budaya Bone tahun 2022. Foto merupakan koleksi pribadi milik Feby Triadi.

Eka menambahkan bahwa ada banyak orang yang anti-bissu dan percaya bahwa jika mereka berpapasan dengan calabai, mereka akan ketiban sial selama 40 hari 40 malam. Beberapa juga percaya jika mereka melihat seorang calabai atau transpuan, rejeki mereka akan terhambat. 

“Kita sudah ada [di Sulawesi] bahkan sebelum Islam masuk ke Indonesia, dan kami hanyalah seorang manusia yang dianggap suci yang menjaga kerajaan suci” ujar Eka, menyinggung kompleksitas peran tradisional bissu.

Melabeli bissu hanya sebagai bagian dari komunitas LGBTQIA+ berisiko membuatnya menjadi anakronistik, yakni menempelkan label modern pada sesuatu yang telah ada selama bertahun-tahun, sehingga berpotensi menghilangkan dimensi spiritualnya. Banyak pembela hak asasi yang berpendapat bahwa beberapa tradisi harus diletakkan terpisah dari agama karena mereka biasanya telah ada sebelum kemunculan agama Abrahamik.

“Kami telah ada sebelum Islam diperkenalkan ke Indonesia, dan kami adalah manusia suci—penjaga kerajaan suci,” ujar Eka, menyinggung rumitnya peran tradisional bissu.

Asrul menekankan bahwa sungguh tragis jika komunitas bissu punah, terutama jika orang-orang yang mempraktikannya terancam ditindas.

“Ada banyak kekurangan dari regenerasi bissu dan juga kurangnya pengertian dari masyarakat mengenai pentingnya memiliki kelompok masyarakat adat, seperti bissu,”  ujar Asrul.

“Kita harus belajar banyak mengenai tradisi bissu ini, memperkenalkan budaya bissu ke masyarakat yang lebih luas, dan memberikan wawasan kepada teman-teman calabai bahwa mereka memiliki peran penting untuk melestarikan budaya bissu,” pungkas Yuyun.

“Saya bangga menjadi seorang bissu karena saya melestarikan budaya

Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

Bookmark (0)
ClosePlease login

Related Articles

Media yang Melek Gender: Temuan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei


Pendahuluan

Mengingat wilayah Asia Tenggara menaungi berbagai praktik, wadah, maupun batasan-batasan bermedia, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Berdasarkan metodologi yang telah diterapkan di Seri 4, Terbitan 1, kami melakukan wawancara mendalam dan semi-terstruktur untuk menyelidiki tema penting dalam kebebasan bermedia, yakni pengalaman berbasis gender dan kaum marginal, untuk memahami proses pembuatan berita sebagai spektrum pengalaman kerja nyata yang melibatkan pembaca, jurnalis, editor, dan produser. Jika gender menjadi “bingkai utama yang tak disadari untuk memahami orang lain dalam suatu interaksi” (Fisk & Ridgeway, 2018, h. 158), maka amatlah penting untuk mewadahi pengalaman-pengalaman para pembuat berita dengan gender dan seksualitas yang terpinggirkan.

Siapa yang bisa disebut sebagai pembuat berita?

Mengingat wilayah Asia Tenggara menaungi berbagai praktik, wadah, maupun batasan-batasan bermedia, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Berdasarkan metodologi yang telah diterapkan di Seri 4, Terbitan 1, kami melakukan wawancara mendalam dan semi-terstruktur untuk menyelidiki tema penting dalam kebebasan bermedia, yakni pengalaman berbasis gender dan kaum marginal, untuk memahami proses pembuatan berita sebagai spektrum pengalaman kerja nyata yang melibatkan pembaca, jurnalis, editor, dan produser. Jika gender menjadi “bingkai utama yang tak disadari untuk memahami orang lain dalam suatu interaksi” (Fisk & Ridgeway, 2018, h. 158), maka amatlah penting untuk mewadahi pengalaman-pengalaman para pembuat berita dengan gender dan seksualitas yang terpinggirkan.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to [email protected] to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Bookmark (0)

Close

Please login

Bookmark (0)
ClosePlease login

Melawan Arus: Pergulatan Sehari-hari Aktivis Keadilan Gender

Artikel ini adalah artikel penjelasan kedua dari seri tiga bagian New Naratif yang mengeksplorasi demokrasi Asia Tenggara melalui kacamata aktivis feminis, keadilan gender, dan hak asasi manusia regional. Laporan yang memperkenalkan “SOGIESC-informed Democratic Participation Research” ini dapat ditemukan di sini, sedangkan artikel penjelasan pertama tersedia di sini.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Penjelasan I: “Jangan Pulang, Ada Tentara”: Anak-anak di Pusat Tahanan Imigrasi Malaysia

Anak-anak tanpa dokumen yang melintasi batas wilayah Malaysia dianggap melanggar hukum imigrasi. Mereka harus berhadapan dengan berbagai risiko, termasuk penangkapan, penahanan tanpa jangka waktu, dan deportasi yang mengancam nyawa. Siapakah anak-anak dalam tahanan ini? Mengapa mereka ditahan? Untuk berapa lama? Apa akibat buruk penahanan ini? Berapa ongkos yang harus dibayar warga lewat pajak untuk membiayai penahanan ini?

Ini adalah artikel pertama dari rangkaian dua  artikel New Naratif tentang penahanan anak-anak imigran di Malaysia.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Faktor-faktor Struktural dan Sistemik Penghambat Demokrasi di Asia Tenggara: Sebuah Perspektif Feminis

Kami mempelajari faktor-faktor struktural dan sistemik yang menghambat praktek aksi demokrasi inklusif yang berdasarkan feminisme dan keadilan gender di Asia Tenggara. Dalam proses ini kami menemukan tiga masalah mengakar yang umum ditemukan di berbagai negara di region ini. Ketiganya termasuk penegakan hukum yang tidak efektif, pembatasan kebebasan berekspresi, serta fundamentalisme agama. Kami hanya berfokus ke tiga faktor kunci tersebut, supaya kami benar-benar memahami bagaimana ketiganya menghalangi aktivisme. Bersama-sama, ketiganya menjadi gerbang bagi kami menjelajahi tantangan-tantangan lain yang menghalangi perkembangan demokrasi regional. 

Bookmark (0)
ClosePlease login

Responses