Para Perempuan Adat Menolak Penggusuran Atas Nama Swasembada Gula Indonesia

Sudah lebih dari empat bulan berlalu setelah Warti, 42 tahun, dipukuli oleh orang-orang yang datang mengokupasi lahan dan meratakan desa mereka dengan tanah. Dia masih merasakan sakit di dada, lengan dan kakinya setiap kali berdiri, duduk atau bila berjalan dengan cepat.

“Sampai saat ini saya masih terasa sakit, meski sudah tujuh kali berobat ke dukun patah,” katanya saat duduk di halaman rumahnya, di luar reruntuhan Kampung Durian Selemak, desa kecil di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, awal Februari lalu.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to [email protected] to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Related Articles