An image of various Vietnamese mother goddesses and a medium in red.

Pemujaan Dewi Ibu: Ruang Aman bagi Jiwa-jiwa Queer Vietnam

Đạo Mẫu, upacara pemujaan dewi-dewi ibu membantu menstabilkan norma gender dan stigma terhadap komunitas queer di Vietnam. Tradisi ini dianggap menjadi ruang aman bagi orang-orang queer Vietnam, tempat mereka bisa mengekspresikan diri mereka yang sebenar-benarnya, karena iman melampaui stigma sosial terhadap orang queer.

Riasan meriah, kostum warna-warni, lilin-lilin gemerlap, tarian gembira, senyum riang. Itulah yang bisa kita bayangkan tentang “lên đồng” (mediasi roh), salah satu ritual terpenting dalam kepercayaan tradisional Vietnam, Đạo Mẫu (Pemujaan Dewi-dewi Ibu). Kepercayaan ini telah membantu menstabilkan norma gender dan stigma terhadap komunitas queer di Vietnam, karena upacara ini melibatkan dukun laki-laki yang berdandan dan meniru ciri-ciri feminin para dewi.

An illustration of four Dau Mau goddesses, one for each of the four elements. From left to right, there is the water goddess in blue, the heaven goddess in red, the highlands goddess green, and the earth goddess in orange.
Berbagai dewi dan simbol Đạo Mẫu. Ilustrasi oleh Nikru.

Đạo Mẫu – Merayakan Perempuan di Tengah Patriarki

Dimulai sejak abad ke 16, Pemujaan Dewi-dewi Ibu adalah kepercayaan agrikultur yang merakyat di antara kaum petani Vietnam. Dalam kepercayaan ini mereka menambatkan berbagai elemen alam ke citra sang Ibu. Ibu adalah akar kembang biak, tempat bernaung, pemberi berkat baik dan kesejahteraan. Ibu melindungi mereka dari mara bahaya serta menyembuhkan mereka dari penyakit.

Sebagai kepercayaan tradisional, Đạo Mẫu lebih fleksibel dan berwarna jika dibandingkan dengan agama struktural lainnya seperti Buddha dan Kristen. Seiring waktu, pemujaan ini tersebar ke seluruh negeri dan menjadi salah satu ciri budaya terpenting di Vietnam dengan jumlah pengikut yang amat banyak.

Đạo Mẫu dibagi mejadi empat “alam” (phủ) yang melambangkan empat elemen berbeda: Surga (dikendalikan oleh Mẫu Thượng Thiên atau Mẫu Liễu Hạnh), Air (Mẫu Thoải), Tanah (Mẫu Địa), dan Dataran Tinggi (Mẫu Thượng Ngàn).

Ritual penyucian alam, seperti Đạo Mẫu, juga ada di kepercayaan lain, seperti Hindu dan Shinto. Dewa-dewi lain dalam sistem kedewaan ini termasuk Guanyin Buddha, Kaisar Giok, Perempuan-perempuan Suci, Big Officials (?), Puteri, dan masih banyak lagi. Dengan jumlah dewi dan perempuan suci lebih banyak dalam sistem kedewaannya, Đạo Mẫu menjadi surat cinta bagi para perempuan Vietnam yang menderita akibat norma seksis dan bias gender di negeri Vietnam yang diliputi patriarki.

Pemujaan ini menggaungkan suara dari yang tak terdengar, memberdayakan hak-hak perempuan dengan berkat-berkatnya, dan menjadi naungan spiritual bagi minoritas seksual. Semangat mereka berkobar demi pembebasan, kesehatan, dan kebahagiaan dalam hidup mereka. Bukan hanya karakter mitologis, pahlawan-pahlawan perempuan yang benar-benar ada dalam sejarah juga diangkat menjadi dewi kudus. Contohnya, mereka yang memimpin perang melawan penjajah seperti Võ Thị Sáu, seorang martir Vietnam yang ikut melawan Perancis di umur 14 tahun.

Pernah ada pembahasan apakah Đạo Mẫu bisa dikembangkan menjadi agama jika ia memiliki stratifikasi sistem kedewaan dan ritual. Ngo Duc Thinh—salah satu peneliti pertama yang mempelajari Đạo Mẫu—mengindikasikan bahwa kepercayaan rakyat ini “tidak memiliki naskah suci, tidak memiliki struktur organisasi formal, dan tidak memiliki hirarki đồng”, maka pemujaan ini akan tetap dibaca sebagai kepercayaan rakyat. Dengan nilai-nilai istimewa yang diwariskan turun-temurun, Đạo Mẫu diakui oleh UNESCO di tahun 2016 sebagai warisan budaya tak benda. Saat ini, ada lebih dari 1000 candi Đạo Mẫu di Ha Noi dan ratusan di kota-kota lain di seluruh negeri. 

An illustration of the Len dong ceremony. The medium takes center stage, covered in red silk robe with traditional patterns. Four mediums dressed in white surrounds them.
Upacara Lên đồng dengan medium dan para asistennya. Ilustrasi oleh Nikru.

Lên đồng – Wahana Para Dewi

Dalam Đạo Mẫu, “lên đồng” (medium atau perantara roh, atau bisa diterjemahkan sebagai “menunggangi sang perantara”) adalah ritual yang paling penting. Menurut Ngo Duc Thinh, “lên đồng” setara dengan Shamanisme, di mana roh merasuki tubuh medium, menyebabkan perubahan persona, tingkah laku, cara berbicara, dan gerak gerik. Seorang medium, atau “đồng”, merujuk kepada orang-orang yang tubuhnya menjadi wahana bagi para roh suci untuk menitis ke dunia.

Upacara Lên đồng dilakukan di beberapa lokasi seperti candi, istana, dan tempat peristirahatan selama sepanjang tahun untuk memperingati berbagai peristiwa yang berbeda. Petugas pengurus candi, disebut chủ đền, bertanggung jawab untuk menyelenggarakan berbagai upacara, seperti misalnya pelangkahan kaki pertama kali setelah tahun baru, hari ke lima belas setelah bulan baru, awal dan akhir musim panas, akhir tahun, serta pemandian segel jimat. Waktu paling umum untuk upacara lên đồng adalah bulan ketiga untuk memperingati kematian Bunda Suci (Liễu Hạnh) (Tháng 3 giỗ Mẹ) dan bulan ke delapan untuk memperingati kematian Bapa Suci (Tháng 8 giỗ Cha) yang juga dikenal sebagai Kaisar Giok.

Sebelum melakukan ritual, sang medium harus dengan saksama merencanakan upacara. Persiapannya termasuk memilih hari baik yang sesuai dengan horoskop, memilih lokasi upacara, dan mengundang medium serta pemuja lain. Lebih jauh lagi, harus ada empat asisten dan penyanyi yang hadir dalam ritual. Mereka juga harus menyiapkan kain yang sesuai dengan penampilan mereka.

Selama bagian terpenting dalam upacara, sang medium didandani dalam berbagai jubah sutera warna-warni yang melambangkan berbagai roh suci yang dipercaya membawa berkat yang berbeda-beda seperti kesehatan, keberuntungan, kekayaan, dan perlindungan. Selama sesi “lên đồng” sang medium bisa menggunakan rokok, daun sirih, dan nyanyian Văn (hát văn) untuk memasuki keadaan trans. Hal ini membuat prosesi kerasukan menjadi lebih lancar.

Medium menjadi perantara yang menghubungkan roh suci dengan para pemujanya, memberi mereka berkat demi mendapatkan rejeki dan menyembuhkan penyakit. Setiap kali ada roh suci yang merasuki tubuh medium, mimik wajah dan kelakuan sang medium akan berubah sesuai dengan kepribadian roh yang merasukinya.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa menjadi medium. Ngo menyebutkan bahwa mereka “dipaksa untuk melayani para roh suci” (thánh đày” atau “cơ đày”). Kebanyakan medium percaya mereka harus mengalami penyakit atau kecelakaan mematikan untuk bisa menjadi wahana para dewi.

An illustration of a gender-ambiguous queer character starting to accept themself before two feminine goddesses, who provide a safe space for Vietnamese queer spirits.
Seorang karakter queer mulai menerima jati dirinya setelah memperhatikan para dewi dengan wajah welas asih di sekitarnya. Ilustrasi oleh Nikru.

Ruang Aman untuk Komunitas Queer di Vietnam

Seorang medium bisa berasal dari gender apa pun. Maka, para pemuja biasanya paham bahwa medium laki-laki bisa berdandan dan berlaku feminin saat kerasukan seorang dewi. Para medium laki-laki ini menghadapi berbagai stigma sosial akibat korelasi orientasi seksual dan identitas gender, yang membawa stereotip ciri tertentu seperti ekspresi dan penampilan dengan label jenis kelamin dan gender.

Ngo Duc Thinh, dalam bukunya “Lên đồng: The Journey of Spirit and Fate” (2019), menyatakan bahwa medium lelaki kerap kali dipermalukan karena melayani para dewi, sama seperti mereka harus menghadapi prasangka dari orang lain yang mengasumsikan identitas gender mereka. Di saat yang sama, medium lelaki ingin menyeimbangkan kehidupan ganda mereka: menjadi lelaki di dalam masyarakat Vietnam yang heteronormatif, dan menjadi “perempuan” selama ritual lên đồng.

Banyak medium lelaki mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang queer. Akan tetapi, sejauh diindikasikan oleh Ngo, mereka menganggap hidup sebagai queer adalah hal yang buruk. Akibatnya, terjadilah internalisasi homofobia. Banyak medium queer menganggap homoseksualitas sebagai penyakit, bukan orientasi seksual. Mereka berlindung di bawah naungan Đạo Mẫu, tapi mengekspresikan sisi feminin mereka secara habis-habisan hanya selama ritual lên đồng saja.

Ngo juga berhipotesis bahwa orang-orang queer, di antara semua identitas gender yang ada, adalah yang paling mudah untuk menjadi medium. Mereka memiliki keseimbangan antara ciri-ciri dan peran maskulin dan feminin (walaupun konsep-konsep ini adalah hasil konstruk sosial), dan tidak tunduk pada aturan biner laki-laki/perempuan atau yin/yang. Lebih jauh lagi, orang-orang queer dipercaya lebih “ringan hati” (nhẹ vía) dan lebih sensitif terhadap perubahan, membuat para roh lebih mudah merasuki tubuh mereka.

Amat penting untuk menyadari bahwa  Đạo Mẫu berpusat utamanya di sekitar dewi-dewi perempuan. Maka, amatlah masuk akal ketika medium yang digunakan untuk komunikasi adalah perempuan atau seseorang yang menjelmakan ciri-ciri feminin. Banyak medium lelaki menganggap Đạo Mẫu sebagai ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri mereka yang sebenar-benarnya. Đạo Mẫu melampaui stigma sosial yang merundung para queer.

Beberapa liputan media telah mengisahkan kehidupan orang-orang queer dalam bayang-bayang kepercayaan Đạo Mẫu. Dalam sebuah wawancara dengan Zing News, seorang medium lelaki bernama Mr Ngoc mengatakan bahwa walau ia telah menikah dan punya anak, Đạo Mẫu memberinya ruang aman untuk memperlihatkan orientasi seksual dan feminitasnya. Selama ritual, ia bisa tetap setia dengan ciri-ciri aslinya sebagai seorang queer, memberinya kedamaian dan empati kepada yang lain dalam komunitas medium queer.

Lebih jauh lagi, dalam “Love men, love women”, sebuah film dokumenter pendek oleh Nguyễn Trinh Thi (2007), seorang medium queer bernama Thầy Đức (Master Đức) menyatakan dirinya merasa nyaman-nyaman saja berbagi tentang jalinan cintanya dengan laki-laki homoseksual lain, dengan dukungan dan respons positif dari jemaah lainnya. Di antara komunitas Đạo Mẫu, ciri-ciri serta sikap femininnya menjadi norma, tanpa ada penghakiman dan pembatasan dari luar. Menambahkan pada diskusi tentang keterbukaan terhadap orang queer ini, Annalise Frank (2015) berpendapat bahwa karena Đạo Mẫu adalah agama yang didominasi keperempuanan dan fakta bahwa tidak ada tekanan atau aturan tentang siapa yang bisa menjadi medium, pemujaan ini menerima kaum minoritas seksual dan memperkenankan mereka untuk menampilkan keluwesan gendernya.

Apa Selanjutnya?

Seperti yang disebutkan oleh Judith Butler, filsuf Amerika yang menulis buku “Gender Trouble”, gender adalah sesuatu yang performatif, dan tubuh kita menjadi subjek identitas gender akibat asumsi. Maka, laki-laki queer Vietnam kerap menghadapi diskriminasi dan stigma akibat standar yang berlaku di masyarakat tentang syarat-syarat menjadi lelaki sejati.

Đạo Mẫu menghapus penghalang antara kepercayaan pemujaan dan norma gender, memberi tempat orang queer untuk melakukan praktek keagamaan, mencari rejeki, dan menjadi diri sendiri. Di dalam Đạo Mẫu, percakapan tentang identitas gender kini melibatkan minoritas seksual, membuat para jemaah dan orang queer saling merangkul.

Đạo Mẫu menyalakan pelita bagi komunitas queer untuk menjadi lebih terwakili secara positif di dalam arena budaya Vietnam. Akan tetapi, di luar Đạo Mẫu, apakah keharmonisan ini tetap terjaga?

Bacaan Lebih Lanjut

Jika kamu tertarik dengan isu ini, kamu bisa membaca lebih jauh lewat situs Institut Kajian Masyarakat, Ekonomi, dan Lingkungan (iSEE) Vietnam. Mereka menerbitkan artikel dan liputan tentang minoritas seksual di Vietnam. Mereka menerbitkan tulisan dalam Bahasa Vietnam dan Inggris.

Kamu juga bisa membaca lebih banyak tentang tradisi queer lainnya di Asia Tenggara, seperti berita tentang Bissu di Sulawesi yang kami terbitkan baru-baru ini. Asia Tenggara memiliki sejarah yang kaya akan nilai-nilai queer dalam adatnya, dan kamu dapat membantu memperjuangkan nilai-nilai ini dengan turut serta meningkatkan kesadaran bahwa kami senantiasa ada di sini.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Related Articles

Responses