An illustration of two young girls holding hands facing each other in a river.

Taman Rainbow Adalah Rumahku

Sebuah narasi personal yang ditulis dengan gaya seperti buku harian, cerita Vio memancarkan kehangatan nostalgia sekaligus ketabahan. Sebuah karya yang amat indah yang tidak boleh kamu lewatkan.

“Kalau kamu suka sama cewek juga, Ibu akan keluarkan kamu dari sekolah!” ibu berteriak ketika melihatku memegang surat penerimaan murid SMP.

Kenapa anak umur 12 tahun harus khawatir soal berpacaran? Apalagi berpacaran dengan sesama gadis? Aku merenung sambil bersandar pada teralis yang mengelilingi gedung sekolahku. Di tempatku berdiri ini aku bisa melihat sungai yang kecoklatan, yang pada saat itu terlihat sebesar samudera bagiku.

Aku teringat membaca papan petunjuk saat ibuku mengantarku ke sekolah. Papan itu menunjukkan nama sungai itu: Sungai Gombak.

Aku senang melihat sungai itu selama jam istirahat. Seakan-akan air yang warnanya seperti Milo itu memberiku sumber kenyamanan. Kenangan favoritku adalah melihat seekor buaya berenang di dalamnya. Aku dan teman-temanku amat kegirangan melihatnya. Sungai kami memperlihatkan tanda-tanda kehidupan!

Tentu saja, setelahnya aku jadi tahu bahwa ada selokan irigasi besar yang mengalir dekat stasiun kereta. Dan aku juga jadi tahu bahwa aku harus belajar melupakan perasaan romantisku pada gadis-gadis, karena perasaan itu aneh. Menyadari bahwa aku naksir sahabatku saat SMP seperti dijatuhi hukuman mati sosial. Haruskah aku mencoba berbaur dengan teman-temanku? Bagaimana aku bisa menjelaskan imajinasiku tentang mencium sahabatku? Kadang, aku berharap diriku yang masih muda itu sama beraninya dengan sang buaya, terus berenang walau harus mengarungi lumpur dan air keruh.

“Sungai” itu mengalir dekat sekolah dan jalanan yang selalu dilalui orangtuaku. Sungai itu juga mengalir dekat daerah rumahku. Kami jarang melihat sungai betulan di Kuala Lumpur. Jadi kami harus puas dengan gorong-gorong selokan yang dindingnya sering kali dicorat-coret dengan graffiti.

Selama aku tumbuh dewasa, aku juga tidak pernah melihat orang queer betulan di Kuala Lumpur. Orang tuaku selalu menunjukkan padaku ketika ada maknya yang duduk dekat kami di mall, atau bagaimana “seorang gay” tampil di televisi (ternyata “seorang gay” itu adalah Elton John!). Makanya, aku harus puas dengan apa yang ada.

Kebetulan sekali, daerah tempat tinggalku dinamai sesuai dengan simbol gay: pelangi. Ketika selokan bisa jadi samudera, aku rasa nama yang diberikan tanpa sengaja pun bisa menjadi tempat berlindung.

Namun sejujurnya kurasa tempat ini dinamai sesuai dengan benda langit yang muncul setelah hujan. Ketika hujan turun di Kuala Lumpur, biasanya ia akan turun dengan derasnya. Berjalan ke 99 Speedmart untuk beli roti saja rasanya seperti mengarungi air setinggi mata kaki, sambil melewati buntalan-buntalan plastik bercampur sampah daun kering. Mengenakan sepatu di hari-hari seperti itu sama saja dengan melemparkan sepatumu ke comberan.

Namun, detik-detik aku akhirnya mencium kekasih Singapuraku untuk pertama kalinya adalah gerimis yang kremun. Bibirnya yang lembut dan halus benar-benar seperti yang ada dalam bayanganku tentang mencintai seorang perempuan. Semua perasaan romantis yang aku larung ke Sungai Gombak akhirnya kembali kepadaku dalam siraman hujan. Menciumnya seakan-akan mengambang di kolam renang, melayang tanpa bobot sementara kulitku menikmati hangatnya mentari.

Ini rahasia di antara kita saja. Aku menggunakan kolam renang untuk melihat seberapa deras hujan yang sedang turun. Kolam renang adalah alat peramal cuaca di lingkungan kami. Ada satu ketika kolam renang itu meluber. Tempat barbecue tergenang air. Aku bisa melihat bahwa air sungai di dekat rumahku juga pasang. Aku takut hujan tidak akan berhenti. Sudah empat hari!

Sebagai seorang queer, kamu harus pandai-pandai meramal reaksi orang. Setiap interaksi baru membawa kalkulasi resiko baru antara menunjukkan diriku yang sebenarnya atau menyembunyikannya untuk membuat lawan bicaraku nyaman. Banyak orang tidak suka kau hadir di antara mereka, dan kau harus hati-hati jika kau tidak ingin tindak-tandukmu menghasilkan air bah yang bisa menelanmu bulat-bulat.

Terkadang aku berharap bahwa hal-hal di sekitarku bisa menjadi lebih baik. Namun, Taman Rainbow, adalah rumahku. Bukan tempat yang sempurna, namun ia memiliki semua kenangan menyenangkanku ketika aku tumbuh dewasa. Aku cinta sungai itu walau sang sungai mungkin tidak balik mencintaiku dengan kadar yang sama. Aku cinta pada lingkunganku walau lingkunganku mungkin tidak mencintaiku kembali.

Di mana lagi yang bisa aku panggil rumah?


Baca cerita-cerita lainnya di season ini:

Bookmark (0)
ClosePlease login

Related Articles

Responses