“Memang ngeri sekali situasi tahun 1965. Sampai-sampai, lebih baik orang manggil saya setan, anjing, atau apapun, asalkan jangan memanggil saya komunis. Kalau sempat sedang ada tentara atau algojo di situ, apa gak hilang saya.”

Dengan mata memerah, Kaharudin, mantan anggota dari Serikat Buruh Kereta Api (SBKA), bercerita ketika New Naratif mengunjungi rumahnya di Kota Tebing Tinggi, sekitar 90 kilometer dari Medan, ibukota dari Provinsi Sumatera Utara.

Dia menceritakan apa saja yang masih bisa diingatnya mengenai peristiwa pada malam 30 September, yang dikenal dengan Gerakan 30 September, latar belakangnya adalah beredarnya isu adanya Dewan Jenderal yang menyatakan bahwa beberapa petinggi Angkatan Darat ingin mengkudeta kekuasaan Presiden Sukarno. Menanggapi isu yang beredar, Presiden Sukarno disebut-sebut memerintahkan pasukan pengawal istana untuk menangkap sejumlah Jenderal Angkatan Darat untuk diadili. Namun, sayangnya sebelum operasi penangkapan tersebut terjadi, sudah ada oknum-oknum yang lebih dahulu membunuh kelompok yang disebut Dewan Jenderal di sebuah sumur tua (populer dikenal sebagai Lubang Buaya).

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to sponsorship@newnaratif.com to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Teguh Harahap

Teguh Harahap is a freelance writer and translator based in Medan, Indonesia. Previously he worked as the editor of Koran Kindo, a weekly newspaper for Indonesian migrant workers based in Hong Kong.