Menarasikan Indonesia: New Naratif & InsistPress

New Naratif: Menarasikan Indonesia – Antologi Naskah dan Komik Pilihan

Buku New Naratif: Menarasikan Indonesia merupakan proyek yang digagas oleh New Naratif dan INSISTPress untuk mengompilasi sejumlah tulisan serta komik dalam bahasa dan mengenai Indonesia yang telah terbit di newnaratif.com sejak 2017.

Di dalamnya, kita dapat menemukan cerita orang-orang Indonesia mengenai perjuangan mereka dalam melawan ekstraktivisme, kekerasan, diskriminasi gender, ketidakadilan sosial dan ekonomi, dan rasisme, dari banyak isu lainnya. Isu-isu ini menyeruak tidak hanya di Indonesia, namun juga di negara Asia Tenggara lainnya. Melalui kisah-kisah ini, kami bermimpi untuk membuat sebuah ikatan solidaritas komunitas Asia Tenggara yang lebih luas — membuat sebuah gerakan bersama yang melampaui berbagai macam batasan dan halangan, untuk mewujudkan Asia Tenggara yang lebih baik dan berpihak pada masyarakat marjinal.


Daftar Isi:

Berita Khas

  1. Para Perempuan Adat Menolak Penggusuran atas Nama Swasembada Gula Indonesia oleh Tonggo Simangunsong
  2. Mati Karena Batubara di Sungai Santan oleh Abdallah Naem
  3. Monyet Buruan di Sulawesi oleh Ronny Buol
  4. Mami Vera, Pelindung Orang-Orang Dolly oleh Reno Surya
  5. Hari Minggu di Taipei Main Station oleh Randy Mulyanto
  6. Hikayat Bedak Basah: Warisan yang Diturunkan Melalui Mimpi oleh F. Daus AR
  7. Izinkan Kami Bermimpi oleh Eko Rusdianto
  8. Bagaimana ISIS Mencetak Seorang Bomber Perempuan Pertama di Indonesia oleh Febriana Firdaus
  9. Quo Vadis Perjuangan Kebebasan Pers di Papua oleh Febriana Firdaus dan Asrida Elisabeth
  10. Perjuangan Awak Ambulans Gawat Darurat Jakarta di Garis Depan oleh Adi Renaldi
  11. Sepotong Ingatan dari Kamp yang Berubah oleh Rosa Panggabean
  12. Hidup Tanpa Negara dan Terombang-Ambing dalam Dunia Global oleh JN Joniad dan Alfred Pek

Komik

  1. Satu Hari Tanpa Sembunyi oleh Ina Putri Bestari
  2. My Name Is… oleh Iskandar Salim
  3. Sama Sepertimu, Aku Manusia oleh Hasbi Ilman dan Febriana Firdaus
  4. Aku Tidak Pernah Sendiri oleh Adinda Maya dan Erik Nadir
  5. Kami Senantiasa Ada di Sini oleh Bonni Rambatan dan Reymigius

Dengan membeli buku New Naratif: Menarasikan Indonesia, pembaca berkesempatan untuk mendapat akses keanggotaan New Naratif secara gratis selama satu bulan. Promo ini berlaku hingga 31 Januari 2022.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Related Articles

Media yang Melek Gender: Temuan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei


Pendahuluan

Mengingat wilayah Asia Tenggara menaungi berbagai praktik, wadah, maupun batasan-batasan bermedia, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Berdasarkan metodologi yang telah diterapkan di Seri 4, Terbitan 1, kami melakukan wawancara mendalam dan semi-terstruktur untuk menyelidiki tema penting dalam kebebasan bermedia, yakni pengalaman berbasis gender dan kaum marginal, untuk memahami proses pembuatan berita sebagai spektrum pengalaman kerja nyata yang melibatkan pembaca, jurnalis, editor, dan produser. Jika gender menjadi “bingkai utama yang tak disadari untuk memahami orang lain dalam suatu interaksi” (Fisk & Ridgeway, 2018, h. 158), maka amatlah penting untuk mewadahi pengalaman-pengalaman para pembuat berita dengan gender dan seksualitas yang terpinggirkan.

Siapa yang bisa disebut sebagai pembuat berita?

Mengingat wilayah Asia Tenggara menaungi berbagai praktik, wadah, maupun batasan-batasan bermedia, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Berdasarkan metodologi yang telah diterapkan di Seri 4, Terbitan 1, kami melakukan wawancara mendalam dan semi-terstruktur untuk menyelidiki tema penting dalam kebebasan bermedia, yakni pengalaman berbasis gender dan kaum marginal, untuk memahami proses pembuatan berita sebagai spektrum pengalaman kerja nyata yang melibatkan pembaca, jurnalis, editor, dan produser. Jika gender menjadi “bingkai utama yang tak disadari untuk memahami orang lain dalam suatu interaksi” (Fisk & Ridgeway, 2018, h. 158), maka amatlah penting untuk mewadahi pengalaman-pengalaman para pembuat berita dengan gender dan seksualitas yang terpinggirkan.

Members only

Log in or

Join New Naratif as a member to continue reading


We are independent, ad-free and pro-democracy. Our operations are member-funded. Membership starts from just US$5/month! Alternatively, write to [email protected] to request a free sponsored membership. As a member, you are supporting fair payment of freelancers, and a movement for democracy and transnational community building in Southeast Asia.

Bookmark (0)

Close

Please login

Bookmark (0)
ClosePlease login

Kebebasan Media yang Melek Gender: Merombak Pewartaan Berita di Asia Tenggara


Pendahuluan

Temuan kami dari Seri No. 4 bertujuan untuk mengkonsepkan kembali pewartaan berita regional lewat lensa gender. Kami bekerja dengan asumsi bahwa ada pembatasan kebebasan media, yang merupakan indikator penting kebebasan berekspresi (FoE) di Asia Tenggara. Hal ini mengancam pekerjaan pewarta berita, baik pekerja lepas maupun karyawan tetap, yang bekerja di berbagai kantor media seperti surat kabar, televisi, radio, dan media baru. Pendekatan gender artinya memahami pengalaman perempuan dan menangkap spektrum identitas dan pengalaman gender dalam keragaman regional mereka. Sepanjang penelitian kami, kami terus mengajukan pertanyaan kunci yang muncul dari Media Freedom Insights) kami sebelumnya: “Apa arti kebebasan media dan apa bentuknya bagimu?”

Represi terang-terangan atas pekerja media di Asia Tenggara (SEA) masih marak. Sayangnya, pemberitaan mengenai pembunuhan dan penangkapan1 jurnalis masih mengabaikan berbagai tantangan yang dihadapi pekerja media dalam mengungkap kasus-kasus kekerasan yang gamblang. Bagi kami, membahas kebebasan media membutuhkan pendekatan yang holistik. Mengulik kebebasan media artinya berkutat dengan pengalaman-pengalaman hidup, bahkan yang subtil, yang dialami oleh pekerja media: dari dinamika sehari-hari di tempat kerja, hingga ancaman kehilangan pekerjaan, dan segalanya yang turut menyumbang kesulitan hidup dalam bentuk iklim represi dan hambatan ekonomi. Berdasarkan proposal dalam manifesto kebebasan media kami, Making the World We Want, kami terus mempertanyakan tema kunci pengalaman marginal dan berdasarkan gender.

Temuan kami dari Seri No. 4 bertujuan untuk mengkonsepkan kembali pewartaan berita regional lewat lensa gender. Kami bekerja dengan asumsi bahwa ada pembatasan kebebasan media, yang merupakan indikator penting kebebasan berekspresi (FoE) di Asia Tenggara. Hal ini mengancam pekerjaan pewarta berita, baik pekerja lepas maupun karyawan tetap, yang bekerja di berbagai kantor media seperti surat kabar, televisi, radio, dan media baru. Pendekatan gender artinya memahami pengalaman perempuan dan menangkap spektrum identitas dan pengalaman gender dalam keragaman regional mereka. Sepanjang penelitian kami, kami terus mengajukan pertanyaan kunci yang muncul dari Media Freedom Insights) kami sebelumnya: “Apa arti kebebasan media dan apa bentuknya bagimu?”

This post is only available to members.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Melawan Arus: Pergulatan Sehari-hari Aktivis Keadilan Gender

Artikel ini adalah artikel penjelasan kedua dari seri tiga bagian New Naratif yang mengeksplorasi demokrasi Asia Tenggara melalui kacamata aktivis feminis, keadilan gender, dan hak asasi manusia regional. Laporan yang memperkenalkan “SOGIESC-informed Democratic Participation Research” ini dapat ditemukan di sini, sedangkan artikel penjelasan pertama tersedia di sini.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Merefleksikan serta Membayangkan Gerakan Feminis dan Keadilan Gender Transnasional di Asia Tenggara

Tulisan ini adalah artikel terakhir dalam rangkaian tiga seri artikel penjelasan New Naratif yang mempelajari demokrasi Asia Tenggara lewat kacamata para aktivis feminis, hak-hak gender, dan hak asasi manusia regional. Laporan yang memperkenalkan SOGIESC-informed Democratic Participation Research ini dapat ditemukan di sini, sedangkan artikel penjelasan pertama dan kedua kami juga telah tersedia.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Bintang Kejora di Oxford

Sudah lama sejak Benny Wenda terakhir melihat kampung halamannya sendiri. Sejak 2002, aktivis Papua yang termasyhur ini memperoleh suaka politik di Inggris. Kini ia tinggal di kota tempat Universitas Oxford berdiri—di belahan dunia lain, jauh dari pegunungan rimbun Papua tempat ia berasal.

Jalan yang membawa Benny ke Inggris dimulai jauh sebelum ia dilahirkan. Hingga 1961, Papua masih dianggap sebagai wilayah koloni Belanda; status ini berakhir ketika rakyat Papua mendeklarasikan kemerdekaan mereka pada 1 Desember 1961. Indonesia, bagaimanapun, dengan cepat mengklaim Papua merupakan bagian dari wilayahnya sendiri, kemudian menyerbu dan menduduki Papua. Pada 1969, klaim Indonesia atas Papua akhirnya mendapat pengakuan PBB setelah diselenggarakannya referendum Act of Free Choice, atau Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA)—sebuah proses yang terindikasi berlangsung penuh kecurangan. Sebanyak 1.026 orang Papua (dari populasi yang seharusnya berjumlah 800.000 jiwa) dipaksa untuk menerima integrasi Papua ke dalam Republik Indonesia. Sejak saat itu, Papua secara ‘de facto’ berada di bawah kekuasaan militer Indonesia, sementara mereka yang menolak: diawasi, diintimidasi-dipersekusi, dipenjara, hingga menjadi korban berbagai tindak kekerasan.

This post is only available to members.

Bookmark (0)
ClosePlease login

Responses